Category: Nasional


  • Sambil Makan Siang, Hulubalang Pesisir Selatan Matangkan Gagasan Membangun Nagari dan Menjaga Adat Budaya

    Padang – nrtvnews.com Suasana santai namun penuh gagasan mewarnai diskusi sambil makan siang bersama AKBP Alvira, SH di salah satu rumah makan di Kota Padang, Kamis (10/9/2026).

    Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk menindaklanjuti gagasan pembentukan Perkumpulan Hulubalang Pesisir Selatan.

    Hadir dalam diskusi tersebut Sekretaris Umum KONI Sumatera Barat Dipo, para inisiator Hulubalang Pesisir Selatan, Adisman, M.Pd., Elpinas, S.Kom., Primadoni, SH., dan Andri Yunizar, SE. Turut hadir senior HMI Doni Marta, Kings Master Kungfu Anwir rialis, MH serta sejumlah tamu undangan lainnya.

    Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari diskusi sebelumnya yang digelar di Batukalang, Kecamatan Koto XI Tarusan, beberapa waktu lalu. Gagasan pembentukan Hulubalang Pesisir Selatan diharapkan tidak hanya menjadi sebuah organisasi, tetapi juga menjadi wadah bersama untuk berkontribusi dalam membangun nagari, menjaga nilai-nilai adat dan budaya, serta menciptakan lingkungan yang sehat bagi generasi penerus.

    Dalam diskusi tersebut, para peserta membahas berbagai gagasan yang berkaitan dengan arah dan tujuan organisasi. Salah satu agenda utama adalah penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) agar organisasi yang dibentuk memiliki landasan yang kuat, jelas dan mampu mendapatkan simpati serta dukungan masyarakat.

    Para inisiator berpandangan bahwa keberadaan Hulubalang Pesisir Selatan harus mampu menjadi bagian dari kekuatan masyarakat dalam menjaga persatuan, memperkuat kepedulian terhadap nagari, serta mendorong generasi muda untuk aktif dalam kegiatan yang positif.

    Ketua Dewan Pembina, AKBP Alvira, SH., menyampaikan bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan mengundang sejumlah pakar budaya dan akademisi untuk ikut berdiskusi memberikan masukan terhadap penyempurnaan AD/ART.

    Langkah tersebut dinilai penting agar aturan organisasi yang nantinya lahir benar-benar memiliki dasar yang kuat dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

    “AD/ART harus kita sempurnakan bersama. Karena itu, kita akan melibatkan pakar budaya dan akademisi agar organisasi ini memiliki arah yang jelas dan benar-benar mendapat dukungan masyarakat,” demikian gagasan yang mengemuka dalam diskusi tersebut.

    Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Meski dikemas secara sederhana sambil makan siang, berbagai gagasan strategis terus berkembang, terutama terkait bagaimana Hulubalang Pesisir Selatan dapat hadir sebagai wadah pengabdian untuk nagari, pelestarian adat dan budaya, serta pembinaan generasi muda.

    Ke depan, para penggagas berharap Hulubalang Pesisir Selatan dapat tumbuh sebagai organisasi yang solid, terbuka, berbudaya, dan dekat dengan masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama membangun Pesisir Selatan yang lebih baik.

    “Merawat Adat, Menjaga Budaya, Membina Generasi, dan Bersama Membangun Nagari.”(Alpin)



  • Ketua PGRI Koto XI Tarusan Siap Perjuangkan Bantuan Pembangunan Gedung PGRI

    Tarusan – Pesisir Selatan  nrtvnews.com Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Koto XI Tarusan, Adisman, M.Pd, menyatakan kesiapannya untuk memperjuangkan dan mencarikan dukungan bantuan guna mewujudkan pembangunan  Gedung PGRI Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Kamis 10/9/2026

    Menurut Adisman, keberadaan gedung PGRI bukan sekadar tempat berkumpulnya para guru, tetapi merupakan salah satu kebutuhan penting untuk mendukung peningkatan profesionalisme dan kualitas pendidikan di Kecamatan Koto XI Tarusan.

    Gedung PGRI sangat dibutuhkan oleh guru-guru. Di tempat inilah nantinya kita bisa berdiskusi, berdialog, bertukar gagasan dan bersama-sama mencari solusi untuk meningkatkan mutu pendidikan,” ujar Adisman.

    Ia menilai, kemajuan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sarana dan prasarana sekolah, tetapi juga membutuhkan ruang bagi para pendidik untuk terus belajar, berdiskusi, berorganisasi, serta meningkatkan kompetensi.

    Selama ini, kata Adisman, para guru belum memiliki fasilitas khusus yang representatif untuk melaksanakan berbagai kegiatan organisasi, pertemuan, diskusi pendidikan maupun kegiatan peningkatan kapasitas guru.

    “Bagaimana kita ingin pendidikan semakin maju kalau ruang untuk guru meningkatkan mutu dan kompetensinya saja belum tersedia secara memadai?” katanya.

    Karena itu, Adisman berkomitmen untuk terus berupaya mencari peluang bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun pihak lainnya yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan.

    Menurutnya, pembangunan Gedung PGRI merupakan investasi jangka panjang. Gedung tersebut nantinya diharapkan menjadi rumah bersama bagi para guru sekaligus pusat kegiatan yang mendorong lahirnya berbagai gagasan dan inovasi pendidikan.

    Adisman juga berharap perjuangan tersebut mendapat dukungan dari seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah, para pemangku kepentingan pendidikan, serta para guru di Kecamatan Koto XI Tarusan.

    “Sudah selayaknya guru-guru memiliki gedung PGRI sendiri. Kita ingin menjadikan gedung ini sebagai tempat berkumpul, berdiskusi dan melahirkan gagasan-gagasan untuk kemajuan pendidikan di Koto XI Tarusan,” tuturnya.

    Ia optimistis, apabila pembangunan gedung tersebut dapat direalisasikan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pengurus PGRI, tetapi juga oleh seluruh guru dan pada akhirnya memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Kecamatan Koto XI Tarusan.

    Gedung PGRI bukan hanya bangunan fisik, tetapi simbol kebersamaan guru dan wadah untuk membangun masa depan pendidikan yang lebih baik.(Alpin)



  • Cerint Iralloza Tasya Gelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Lubuk Sikarah

    LUBUK SIKARAH — nrtvnews.com Anggota DPD RI Perwakilan Sumatera Barat, Cerint Iralloza Tasya, S.Ked, menggelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Kecamatan Lubuk Sikarah. Kegiatan tersebut diikuti perangkat kecamatan, tokoh masyarakat, serta sejumlah unsur masyarakat setempat.

    Sosialisasi ini menjadi momentum penting untuk kembali mengingatkan masyarakat tentang nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Empat Pilar MPR RI yang disampaikan meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika.

    Keempat pilar tersebut dinilai memiliki peran penting sebagai landasan dalam membangun kehidupan masyarakat yang rukun, toleran, dan tetap menjunjung tinggi persatuan di tengah keberagaman.

    Dalam penyampaiannya, Cerint Iralloza Tasya menegaskan bahwa memahami Empat Pilar tidak cukup hanya sebatas pengetahuan atau teori. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Menurutnya, Pancasila harus menjadi pedoman dalam bersikap dan bertindak, sementara semangat Bhinneka Tunggal Ika perlu terus dijaga agar perbedaan suku, agama, budaya, maupun latar belakang tidak menjadi sumber perpecahan.

    “Empat Pilar bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi bagaimana nilai-nilainya dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami dan mengamalkannya, kita dapat menjaga persatuan, memperkuat toleransi dan membangun kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis,” ujar Cerint dalam kegiatan tersebut.

    Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan zaman membawa berbagai tantangan baru bagi masyarakat. Arus informasi yang begitu cepat, perkembangan teknologi dan media sosial, menurutnya, harus diimbangi dengan pemahaman kebangsaan yang kuat.

    Masyarakat diharapkan mampu menyikapi berbagai informasi secara bijak serta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah persatuan.

    Generasi muda juga menjadi perhatian penting dalam sosialisasi tersebut. Cerint berharap anak-anak muda tidak hanya mengenal Pancasila dan konstitusi secara formal, tetapi mampu menjadikan nilai-nilai kebangsaan sebagai bagian dari karakter dalam kehidupan sehari-hari.

    “Generasi muda adalah penerus bangsa. Karena itu, mereka harus memiliki pemahaman yang kuat tentang nilai-nilai kebangsaan agar mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia,” katanya.

    Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Kecamatan Lubuk Sikarah diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan. Selain itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk membangun komunikasi antara wakil daerah di DPD RI dengan masyarakat serta menyerap berbagai pandangan dan aspirasi dari daerah.

    Dengan pemahaman yang semakin kuat terhadap Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, masyarakat diharapkan dapat bersama-sama menjaga kehidupan demokrasi, memperkuat toleransi dan menciptakan lingkungan sosial yang aman, damai serta harmonis.(Alpin)



  • SPDP Telah Muncul di Kejati Bali, Fanmelia Sebagai Pemilik Rumah, Beri Apresiasi Penyidik Polda Bali

    BALI – Fanmelia selaku Pemilik Rumah di Jln. Danau Tondano IV  No. 6 D, Desa Sanur Kauh, Denpasar, Bali mengucapkan terima kasih, karena Laporan Polisi Lp.B/675/XI/2023/SPKT/POLDA BALI tertanggal 16 November 2023 telah muncul SPDP (Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan) ke Pihak Kejaksaan Tinggi Bali, dan tembusan ke Pengadilan Negeri Denpasar, dan kepada Terlapor Ni Ketut Mira Andayani, SH.

    Saat dimintai keterangan oleh awak media pada Senin (07-09-2026) Fanmelia menyampaikan beberapa harapannya

    “Kami berharap Rumah atas Milik Pribadi ini, segera bisa di Kosongkan, dan Kembali ke dirinya karena diperoleh hasil kerja keras selama ini,” ungkapnya

    “Menurut Kami, Hukum di Indonesia Tindakan memasuki pekarangan orang lain, tanpa izin secara tegas dilarang oleh hukum apalagi Terlapor Menguasai Fisik Rumah tersebut dan Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), tindakan ini dikategorikan sebagai pelanggaran memasuki rumah atau pekarangan tertutup secara melawan hukum (kejahatan terhadap ketertiban umum),” jelasnya dengan lantang

    Dalam dalam UU 1/2023 tentang KUHP Nasional Menyatakan bahwa barang siapa memaksa masuk ke dalam rumah, ruangan, atau pekarangan tertutup yang dipakai orang lain dengan melawan hukum, atau berada di situ dengan melawan hukum dan tidak segera pergi atas permintaan pemilik, dapat diancam dengan pidana penjara atau denda.

    Hukum melindungi hak atas tanah dan properti seseorang untuk memastikan setiap warga negara merasa aman di kediamannya sendiri

    Fanmelia berharap pihak Penyidik Polda Bali segera merampungkan Berkas Perkara dan agar nilai Etika dan Norma Kesopanan budaya kita sangat menjunjung tinggi tata krama.

    “Bila sudah menempati kediaman orang lain mencerminkan hilangnya rasa hormat terhadap sesama manusia,” ungkapnya menutupi. (TG/MG)



  • Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan

    Wakil Ketua ICMI Orwil Sumbar.

    CATATAN PINGGIR DARI KULIAH UMUM GUBERNUR LEMHANNAS DI UNIVERSITAS ANDALAS PADANG Kamis, 3 September 2026.

    Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan
    Wakil Ketua ICMI Orwil Sumbar.

    Kehadiran Gubernur Lemhannas, Dr. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., di Universitas Andalas (Unand) Padang pada 3 September 2026 kemarin bukan sekadar agenda seremonial akademik biasa. Lewat program Lemhannas Goes to Campus, Ace Hasan membawa narasi besar yang sangat krusial: bagaimana memosisikan Generasi Muda Sebagai Perekat Persatuan sekaligus mesin penggerak dalam Menjawab Tantangan Bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
    Durasi dua jam yang terasa singkat di hadapan 20 Rektor PTN dan PTS Sumatera Barat dan civitas akademika Unand menjadi bukti bahwa materi yang dibawakan sangat relate dan memantik pemikiran kritis. Tulisan ini sebagai ulasan berupa catatan pinggir yang responsif atas pokok-pokok pikiran yang disampaikan oleh Gubernur Lemhannas.

    Romantisme Historis Bung Hatta: Refleksi atau Sekadar Nostalgia?
    Ace Hasan memulai kuliahnya dengan sangat cerdas: menyentuh sentimen kultural lokal melalui memori kolektif sosok Bung Hatta. Membawa kembali nilai integritas, rasionalitas, kesederhanaan, dan cinta ilmu dari sang Proklamator asal Minang ini bukan sekadar bumbu pidato.
    Langkah ini merupakan kritik halus terhadap realitas kepemimpinan pragmatis hari ini. Karakter Hatta-isme yang rasional dan berintegritas tinggi adalah antitesis dari tren politik populis yang minim substansi. Pertanyaannya kemudian, mampukah ekosistem pendidikan tinggi kita hari ini melahirkan kembali Hatta-Hatta Baru, ataukah kampus sudah terjebak dalam pusaran administratif yang mengerdilkan daya kritis mahasiswa?

    Literasi Geopolitik: Kampus Bukan Menara Gading
    Salah satu poin paling kuat dalam paparan Ace Hasan adalah desakan agar perguruan tinggi menjadi Penggerak Literasi Geopolitik. Mahasiswa dituntut memiliki wawasan global tanpa kehilangan identitas nasional.
    Ini adalah respons yang sangat tepat terhadap fenomena borderless world (dunia tanpa batas). Di era digital, ancaman kedaulatan tidak lagi bersifat konvensional (militer), melainkan perang asimetris lewat disrupsi teknologi, infiltrasi ideologi, dan dominasi ekonomi global. Kampus tidak boleh lagi menjadi menara gading yang hanya sibuk dengan teori, tetapi harus menjadi laboratorium berpikir strategis yang peka terhadap pergeseran peta kekuatan dunia.

    Akulturasi Islam dan Tradisi Lokal sebagai Benteng Karakter
    Gubernur Lemhannas memberikan apresiasi khusus pada Sumatera Barat, di mana tradisi intelektual Islam hidup berdampingan dengan filosofi lokal, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

    Penguatan 4 konsensus dasar bangsa (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) tidak akan efektif jika dipaksakan secara top-down atau doktriner ala masa lalu. Pendekatan Ace Hasan yang berbasis kearifan lokal (local wisdom) jauh lebih responsif dan kontemporer. Nilai-nilai kebangsaan justru akan tumbuh subur dan organik jika berakar pada identitas budaya yang sudah dihayati oleh masyarakat setempat.

    Mengapa Karakter, Watak, dan Kepribadian adalah “Harga Mati” Bagi Pemimpin Bangsa?
    Ketika Gubernur Lemhannas, Ace Hasan Syadzily, memberikan penekanan yang sangat mendalam dan serius pada aspek ini, beliau sebenarnya sedang menunjuk pada krisis terbesar bangsa hari ini: krisis keteladanan.
    Di era di mana kecerdasan intelektual (hard skills) bisa dengan mudah digantikan oleh Kecerdasan Buatan (AI) dan data besar, tiga aspek personal ini karakter, watak, dan kepribadian adalah benteng terakhir yang tidak bisa direplikasi oleh teknologi, sekaligus kompas utama dalam menavigasi negara.

    Karakter: Jangkar Moral di Tengah Badai Pragmatisme
    Karakter bukan sekadar berbuat baik, melainkan kepatuhan total pada prinsip moral dan integritas, bahkan ketika tidak ada orang lain yang melihat.
    Banyak pemimpin hari ini runtuh bukan karena mereka bodoh atau tidak berpendidikan tinggi, melainkan karena cacat karakter. Mereka terjebak dalam korupsi, penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), dan kebijakan yang transaksional demi kepentingan kelompok kecil.
    Pemimpin masa depan Indonesia tidak boleh hanya menjadi teknokrat yang andal secara hitung-hitungan di atas kertas, tetapi miskin komitmen moral. Tanpa karakter yang kuat, seorang pemimpin akan mudah “dijual-beli” oleh oligarki dan rapuh menghadapi tekanan kepentingan global yang mengancam kedaulatan bangsa.

    Watak: Konsistensi Antara Pikiran, Ucapan, dan Tindakan
    Jika karakter adalah fondasi nilai internal, maka watak adalah manifestasi nyata dari nilai tersebut yang membentuk reputasi dan trust (kepercayaan publik). Watak yang kuat melahirkan ketegasan yang berakar pada keadilan, bukan arogansi.
    Mengacu pada sosok Bung Hatta yang diangkat oleh Gubernur Lemhannas, watak ketokohan Hatta tecermin dari kesederhanaan hidup dan rasionalitasnya. Beliau memilih mundur dari jabatan Wakil Presiden ketika prinsip demokrasinya tidak lagi sejalan dengan arah pemerintahan saat itu.
    Di era media sosial saat ini, kepribadian bisa dengan mudah direkayasa melalui pencitraan politik digital (personal branding). Namun, watak tidak bisa dipalsukan. Watak seorang pemimpin akan diuji saat ia dihadapkan pada krisis atau turbulensi geopolitik. Pemimpin yang berwatak lemah akan cenderung plin-plan, populis demi elektabilitas sesaat, dan takut mengambil kebijakan yang tidak populer meskipun kebijakan itu benar demi masa depan bangsa.

    Kepribadian: Fleksibilitas Global yang Berakar pada Identitas Nasional
    Kepribadian dalam konteks kepemimpinan nasional mencakup aspek visioner, transformatif, dan adaptif. Ini adalah tentang bagaimana seorang pemimpin berkomunikasi, berempati, dan membawa pengaruh (influence) baik di tingkat domestik maupun internasional.
    Pemimpin masa depan harus memiliki kepribadian yang inklusif dan matang secara emosional. Mereka harus mampu merangkul pluralisme (Bhinneka Tunggal Ika) sebagai kekuatan, bukan sebagai pemicu polarisasi.
    Di panggung global, pemimpin Indonesia harus tampil dengan kepribadian yang percaya diri, setara dengan pemimpin dunia lainnya, tanpa harus mengemis pengakuan dengan cara mengorbankan kepentingan nasional. Kehilangan kepribadian nasional atau mengalami krisis identitas akan membuat seorang pemimpin gagap dalam bernegosiasi di tengah ketatnya persaingan geopolitik baru.

    Transformasi Mahasiswa: Dari Job Seeker Menjadi Problem Solver
    Himbauan agar mahasiswa Unand tidak hanya menjadi penonton dunia, melainkan bertransformasi menjadi job creator, inovator, dan problem solver adalah tuntutan mutlak yang tidak bisa ditawar lagi.
    Di tengah ancaman bonus demografi yang berpotensi menjadi bencana demografi (jika angka pengangguran terdidik terus naik), pesan ini adalah alarm keras. Menuju Indonesia Emas 2045, kita tidak membutuhkan generasi yang gagap teknologi atau sekadar menjadi konsumen produk global. Mahasiswa harus mampu mengendalikan teknologi sebagai instrumen penguat bangsa, bukan malah dikendalikan oleh sistem eksternal.

    Kesimpulan
    Kuliah umum Gubernur Lemhannas di Ranah Minang ini berhasil membongkar cara pandang usang tentang nasionalisme. Nasionalisme kontemporer bukan lagi soal angkat senjata, melainkan tentang ketangguhan menjaga integritas bangsa di tengah turbulensi geopolitik dan perubahan zaman.
    Namun, pekerjaan rumah terbesar justru dimulai setelah acara ini selesai. Transformasi karakter, watak, dan kepribadian yang digaungkan Ace Hasan membutuhkan komitmen nyata dari tata kelola perguruan tinggi. Tanpa adanya reformasi kurikulum yang membebaskan nalar kritis dan ekosistem kampus yang demokratis, narasi besar menuju Indonesia Emas 2045 dikhawatirkan hanya akan berakhir sebagai utopia yang indah di atas kertas.



  • Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan

    Wakil Ketua ICMI Orwil Sumbar

    SECANGKIR KOPI MENEMANI DISKUSI PAGI BERSAMA GUBERNUR LEMHANNAS RI

    Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan

    Wakil Ketua ICMI Orwil Sumbar

    PADANG — Kamis pagi, 3 September 2026, suasana di area depan Kafe Hotel Mercury Padang terasa begitu sejuk. Sambil menikmati secangkir kopi pagi, saya beruntung dapat duduk santai dan berdiskusi hangat dengan Gubernur Lemhannas RI, Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si. Dialog singkat menjelang berangkat ke Unand  mengalir bagaikan air menuju lautan luas. Turut dihadiri dan didampingi oleh Sestama Lemhannas RI, Komjen Pol. Dr. Drs. Gatot Tri Suryanta, M.Si., CFCH, serta Deputi Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan, Mayjen TNI R. Djaenuddin, S.E., M.M.

    Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi non formal, melainkan ruang refleksi yang mendalam mengenai masa depan republik. Sebagai seorang akademisi yang telah menikmati masa purnabakti selama hampir lima tahun terakhir, saya mengawali diskusi dengan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif strategis Lemhannas RI di bawah kepemimpinan Dr. Ace Hasan melalui program “Lemhannas Goes to Campus.

    Langkah ini adalah sebuah terobosan krusial dan esensial. Mengapa? Karena dalam beberapa tahun ke belakang, ada kesan bahwa institusi ini kurang memberikan atensi serius terhadap kampus sebagai wadah strategis untuk mendidik, membina, dan mempersiapkan calon-calon pemimpin bangsa. Padahal, kampus adalah laboratorium peradaban di mana nilai-nilai kebangsaan dan pemantapan ideologi harusnya diaktualisasikan secara masif kepada generasi muda yang akan mewarisi negeri ini.

    Dalam momentum kopi pagi itulah, saya menitipkan pesan sekaligus harapan besar kepada Gubernur Lemhannas mengenai tiga problematika dunia pendidikan, terutama pendidikan tinggi saat ini:

    1. Teknologi Bukan Tujuan Akhir. Melainkan Instrumen Untuk Membangun Peradaban Bangsa

    Pertama, saya meminta Gubernur Lemhannas untuk terus mengingatkan kaum akademisi di seluruh Indonesia bahwa teknologi bukanlah tujuan akhir (the ultimate goal).

    Di era disrupsi digital yang kian kontemporer ini, ada gejala di mana ruang akademik terjebak dalam technological determinism—mengagungkan kecerdasan buatan, algoritma, dan digitalisasi secara berlebihan hingga mengaburkan hakikat kemanusiaan.

    Teknologi hanyalah instrumen (enabler) untuk membangun peradaban demi terwujudnya kemakmuran bangsa yang berkeadilan yang berazaskan nilai-nilai prinsip kemanusian dan nilai ketuhanan.

    Mengutip pandangan filsuf Martin Heidegger tentang esensi teknologi, jika diadopsi tanpa kendali moral, teknologi justru akan mengalienasi manusia itu sendiri. Kemajuan teknologi di Indonesia wajib berdiri kokoh di atas koridor nilai-nilai kemanusiaan dan prinsip ketuhanan yang beradab.

    2. Bedah Filosofis 4 Pilar Tujuan Pendidikan Nasional: Melawan Distorsi Pragmastisme

    Kedua, saya menyoroti kecenderungan pelaksanaan pendidikan nasional saat ini yang mengalami pendangkalan makna dan mengabaikan pesan filosofis dari konstitusi kita. Jika kita bedah secara mendalam Pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), tujuan utama pendidikan bukan sekadar mencetak sekrup-sekrup industri yang siap pakai, melainkan membentuk manusia seutuhnya melalui empat pilar strategis yang integratif:

    Wawasan Ketuhanan yang Kokoh (Dimensi Spiritual-Transendental):

    Konstitusi mengamanahkan pembentukan peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pilar pertama ini menegaskan bahwa sains dan moralitas tidak boleh dipisahkan (secularized). Pendidikan harus mampu membangun kesadaran transendental bahwa ilmu pengetahuan yang dikuasai merupakan amanah ketuhanan yang wajib digunakan untuk kemaslahatan, bukan kerusakan. Tanpa fondasi spiritual yang kokoh, intelektualitas hanya akan melahirkan keserakahan yang destruktif.

    Karakter yang Kuat dan Akhlak Mulia (Dimensi Etis-Personal)

    Pendidikan wajib melahirkan manusia yang berakhlak mulia, sehat, mandiri, dan kreatif. Di era post-truth hari ini, kepintaran tanpa karakter adalah ancaman nyata bagi bangsa. Karakter yang kuat adalah benteng integritas yang memastikan seorang sarjana tidak menggadaikan idealismenya demi pragmatisme instan. Kampus harus kembali menjadi persemaian etika publik, tempat di mana kejujuran akademik di atas segala-galanya.

    Kemampuan Penguasaan Iptek yang Terampil (Dimensi Intelektual-Teknologis):

    Kompetensi untuk menjadi manusia yang berilmu dan cakap adalah pilar yang menuntut adaptabilitas tinggi. Namun, penajaman pada pilar ini bukan berarti tunduk pada dikte pasar tenaga kerja semata. Penguasaan Iptek kontemporer di tingkat perguruan tinggi harus didorong pada level penciptaan (inovasi), riset subtansial, dan kedaulatan digital. Kita harus mendidik mahasiswa agar menguasai teknologi untuk memecahkan problem nyata rakyat, bukan sekadar menjadi konsumen teknologi global.

    – Wawasan Kebangsaan yang Kokoh (Dimensi Sosio-Politik-Kolektif):

    Pilar keempat menuntut output pendidikan berupa warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Ini adalah penegasan bahwa setiap lulusan perguruan tinggi memikul utang sejarah kepada republik. Mereka wajib memiliki kesadaran geopolitik, nasionalisme yang rasional, serta kepedulian terhadap keadilan sosial. Wawasan kebangsaan yang tertanam kuat mencegah terjadinya brain drain secara ideologis, di mana kaum intelektual justru bersikap apatis terhadap nasib bangsanya sendiri.

    Sayangnya, pemahaman sebagian penyelenggara pendidikan saat ini mengalami distorsi reduksionis. Tujuan pendidikan nasional dipersempit sekadar pada pilar ketiga (penguasaan iptek/keterampilan industri) sambil meminggirkan pilar spiritualitas, karakter, dan kebangsaan. Kegagalan substantif ini mengakibatkan kampus melahirkan “robot-robot bernyawa” yang terampil secara teknis, namun buta warna secara ideologis dan tuna netra secara moral. Saya memohon kepada Gubernur Lemhannas agar jeritan akademis ini disuarakan secara struktural ke pemangku kebijakan pendidikan agar proses pendidikan dikembalikan ke khitah konstitusi secara utuh.

    3. Rekonstruksi Sistemik Menuju Indonesia Emas 2045

    Ketiga, melihat dinamika global dan domestik hari ini, degradasi nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, dan ideologi di kalangan elit bangsa dan generasi muda berada pada tahap yang mencemaskan. Sosiolog Zygmunt Bauman menggambarkan era modernitas cair (liquid modernity) ini sebagai fase di mana komitmen kebangsaan mudah melarut akibat infiltrasi budaya dan propaganda ruang digital yang tanpa batas.

    Oleh karena itu, diperlukan langkah taktis yang strategis, masif, dan sistemik. Lemhannas RI harus mengambil peran sebagai motor penggerak untuk melakukan rekonstruksi nilai-nilai kebangsaan dan pemantapan ideologi yang dimulai langsung dari dalam kampus.

    Kampus harus kembali menjadi episentrum nalar kritis dan benteng ideologi Pancasila. Tanpa fondasi kebangsaan yang dirombak secara struktural sejak dini, cita-cita luhur menyongsong Generasi Emas di tahun 2045 hanya akan berakhir sebagai utopia atau slogan politik belaka.

    Komitmen dari Serambi Minangkabau

    Gayung bersambut. Pokok-pokok pikiran, pesan, serta harapan mendalam yang saya diskusikan di pelataran kafe hotel tersebut tidak berhenti sebagai wacana di meja kopi. Komitmen kebangsaan ini langsung diaktualisasikan secara nyata oleh Gubernur Lemhannas RI, *Dr. Ace Hasan Syadzily. M.Si.

    Seluruh pokok pikiran mengenai problematik bangsa, disrupsi teknologi, dan urgensi restorasi pendidikan sesuai amanah konstitusi tersebut kemudian dipaparkan secara luas, lugas, dan mendalam oleh beliau saat memberikan kuliah umum di hadapan ribuan civitas akademika Universitas Andalas (UNAND) Padang yang dihadiri oleh 20 orang Rektor dari berbagai Perguruan Tinggi yang ada si Sumbar dan di  UIN Imam Bonjol Padang yang dihadiri lebih kurang seribu Mahasisswa dan segenap unsur pimpinan Rekror dan jaharannya. Langkah konkret “Lemhannas Goes to Campus” di bumi Minangkabau ini menjadi angin segar sekaligus harapan baru bahwa navigasi masa depan Indonesia sedang dikembalikan ke arah yang tepat sesuai dengan amanah konstitusi



  • Diskusi Siang Bersama AKBP Alvira, SH  di Batu Kalang, Dorong Generasi Muda Tarusan Bangun Nagari

    Tarusan – Pesisir Selatan nrtvnews.com Suasana Batu Kalang, Kenagarian Ampang Pulai, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Minggu (6/9/2026), menjadi ruang bertemunya sejumlah tokoh muda dan tokoh senior dalam sebuah diskusi yang mengangkat tema penting, Membangun Peran Generasi Muda ke Depan.

    Diskusi siang bersama AKBP Alvira, SH Kasubbidwabprof Bidpropam Polda Sumbar tersebut menjadi momentum untuk membicarakan berbagai persoalan sekaligus peluang yang dihadapi generasi muda, khususnya dalam upaya membangun nagari, menjaga nilai-nilai adat dan budaya, serta menciptakan lingkungan sosial yang sehat bagi generasi penerus.

    Gagasan diskusi ini muncul dari sejumlah tokoh muda di Kecamatan Koto XI Tarusan, di antaranya Adisman, M.Pd., Elpinas, S.Kom., Chang Ary, Primadoni, S.H., Indra dan Andri Yunizar., SE. Gagasan tersebut mendapat dukungan dari tokoh senior, di antaranya Syafruddin, S.H., serta sejumlah tokoh muda lainnya.

    Pemuda Jangan Hanya Jadi Penonton

    Dalam diskusi tersebut, peserta melihat bahwa generasi muda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah masa depan nagari.

    Pemuda tidak cukup hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan. Mereka perlu diberi ruang untuk menyampaikan gagasan, berorganisasi, meningkatkan keterampilan, sekaligus ikut mengambil bagian dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di tengah masyarakat.

    Pembangunan nagari, menurut gagasan yang berkembang dalam pertemuan tersebut, bukan hanya berbicara mengenai pembangunan fisik. Pembangunan sumber daya manusia, karakter, budaya, ekonomi dan kepedulian sosial juga menjadi bagian yang tidak kalah penting.

    Menjaga Adat dan Budaya di Tengah Perubahan Zaman

    Salah satu perhatian utama yang mengemuka adalah pentingnya generasi muda memahami dan melestarikan *adat istiadat serta budaya Minangkabau*.

    Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup, nilai-nilai seperti etika, sopan santun, rasa hormat kepada orang tua, kepedulian terhadap lingkungan dan semangat bergotong royong dinilai perlu terus ditanamkan kepada generasi muda.

    Pelestarian adat bukan berarti menolak perubahan zaman. Justru generasi muda diharapkan mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan akar budayanya.

    Tekan Kenakalan Remaja dan Bahaya Narkoba

    Persoalan sosial yang juga menjadi perhatian adalah kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas serta menurunnya etika dan sopan santun.

    Peserta diskusi menilai persoalan tersebut tidak dapat dibebankan hanya kepada aparat penegak hukum atau pemerintah. Pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama oleh keluarga, tokoh masyarakat, sekolah, pemuda dan seluruh elemen masyarakat.

    Generasi muda perlu diberikan kegiatan positif, ruang kreativitas, pembinaan karakter dan kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka.

    Pemuda yang memiliki kegiatan, keterampilan dan masa depan yang jelas akan lebih kuat menghadapi berbagai pengaruh negatif di lingkungannya.

    Dorong Pelatihan UMKM dan Koperasi

    Selain membahas persoalan sosial, diskusi juga mengarah pada pemberdayaan ekonomi pemuda dan pemudi.

    Salah satu gagasan yang muncul adalah mendorong  pelatihan UMKM dan koperasi agar generasi muda tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha.

    Pelatihan dapat diarahkan pada keterampilan yang sesuai dengan potensi daerah, seperti pengolahan hasil pertanian, perikanan, kuliner, pariwisata, ekonomi kreatif, pemasaran digital dan pengelolaan usaha.

    Dengan demikian, pemuda diharapkan dapat menjadi pelaku ekonomi baru di nagari, bukan sekadar pencari pekerjaan.

    Muncul Gagasan Membentuk “Hulubalang Paga Nagari”

    Menariknya, dari diskusi tersebut juga muncul keinginan peserta untuk membentuk sebuah wadah perkumpulan yang nantinya diberi nama Hulubalang Paga Nagari.”

    Wadah tersebut diharapkan memiliki cakupan Kabupaten Pesisir Selatan dan menjadi ruang bersama bagi generasi muda serta berbagai elemen masyarakat untuk membangun komunikasi, memperkuat kepedulian sosial, melestarikan adat dan budaya, serta mendorong kegiatan positif bagi pemuda.

    Nama “Hulubalang Paga Nagari” diharapkan bukan sekadar nama organisasi, tetapi memiliki makna sebagai simbol kepedulian, perlindungan, tanggung jawab dan pengabdian kepada nagari.

    Tentu, jika gagasan ini dilanjutkan menjadi organisasi resmi, diperlukan pembahasan lebih matang mengenai visi-misi, struktur kepengurusan, keanggotaan, program kerja serta aturan organisasi agar wadah tersebut dapat berjalan secara profesional dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

    Dari Batu Kalang untuk Masa Depan Pesisir Selatan

    Diskusi siang di Batu Kalang ini menjadi pengingat bahwa membangun daerah tidak selalu harus dimulai dari forum besar dan formal.

    Kadang, sebuah gagasan besar justru lahir dari percakapan sederhana, kepedulian dan keresahan sejumlah anak muda terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.

    Yang terpenting adalah bagaimana gagasan tersebut tidak berhenti sebagai pembicaraan.

    Jika pemuda bersatu, tokoh senior memberikan bimbingan, pemerintah membuka ruang, dan masyarakat memberikan dukungan, maka generasi muda dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun Pesisir Selatan.

    Dari Batu Kalang, sebuah gagasan tentang masa depan generasi muda mulai dibicarakan. Kini tantangannya adalah menjadikan gagasan tersebut sebagai gerakan nyata untuk nagari, adat, budaya, ekonomi dan masa depan Pesisir Selatan.(Alpin)



  • Warga Pesisir Selatan Keluhkan Beras Bantuan Bulog Berbau dan Diduga Tak Layak Konsumsi

    PESISIR SELATAN— nrtvnews.com Bantuan beras dari Bulog yang diperuntukkan bagi masyarakat Pesisir Selatan menuai keluhan. Sejumlah masyarakat penerima bantuan mempertanyakan kualitas beras yang mereka terima karena disebut memiliki bau yang tidak sedap dan diduga tidak layak untuk dikonsumsi.

    Beras bantuan tersebut dari Bulog diterima oleh Wali Nagari Kapuh, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan kemudian disalurkan oleh perangkat nagari kepada masyarakat penerima bantuan.

    Salah seorang masyarakat penerima bantuan mengaku kecewa dengan kondisi beras yang diterimanya. Menurutnya, beras tersebut mengeluarkan aroma yang tidak sedap sehingga menimbulkan kekhawatiran untuk dikonsumsi.

    “Berasnya bau dan kami khawatir untuk dimakan. Bahkan ayam saja tidak mau memakannya,” ujar salah seorang penerima bantuan.

    Keluhan ini tentu menjadi perhatian serius mengingat bantuan beras diberikan kepada masyarakat yang memang membutuhkan. Bantuan pangan seharusnya memiliki kualitas yang baik dan aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

    Masyarakat Pertanyakan Pengawasan

    Masyarakat Pesisir Selatan berharap bantuan beras yang diberikan pemerintah melalui Bulog benar-benar merupakan beras yang layak konsumsi.

    “Kalau memang bantuan untuk masyarakat miskin, kami berharap beras yang diberikan adalah beras yang layak dan bagus untuk dimakan. Jangan sampai masyarakat yang sedang membutuhkan justru menerima beras dengan kualitas yang dipertanyakan,” kata penerima bantuan tersebut.

    Kondisi ini juga memunculkan sejumlah pertanyaan di tengah masyarakat. Bagaimana sebenarnya proses pemeriksaan kualitas beras sebelum didistribusikan kepada masyarakat?

    Apakah beras yang akan disalurkan sudah melalui pemeriksaan kondisi fisik, aroma, kebersihan dan kelayakan konsumsinya? Lalu, bagaimana mekanisme pengawasan mulai dari gudang hingga sampai ke tangan masyarakat?

    Pertanyaan lainnya juga tertuju kepada pemerintah daerah maupun pemerintahan nagari yang menerima dan menyalurkan bantuan tersebut. Apakah kondisi beras sudah diperiksa terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada masyarakat?

    Jangan Sampai Program Bantuan Justru Mengecewakan Masyarakat

    Program bantuan pangan merupakan salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap masyarakat yang membutuhkan. Karena itu, kualitas bantuan menjadi hal yang sangat penting.

    Masyarakat berharap persoalan ini tidak dianggap sepele. Jika benar ditemukan beras yang berbau, berkualitas buruk atau tidak layak konsumsi, mereka meminta agar segera dilakukan pemeriksaan dan penggantian terhadap beras tersebut.

    Presiden Prabowo Subianto juga kerap menekankan pentingnya bantuan pemerintah benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, masyarakat mempertanyakan apabila di lapangan justru ditemukan bantuan pangan dengan kualitas yang dianggap tidak sesuai harapan.

    “Presiden selalu menggaungkan bantuan beras untuk masyarakat miskin. Tentunya kami berharap beras yang diberikan benar-benar layak dimakan. Kalau kualitasnya seperti ini, kami mempertanyakan sebenarnya apa yang terjadi dalam proses distribusinya,” ungkap warga.

    Perlu Pemeriksaan dan Penjelasan Resmi

    Persoalan ini sebaiknya segera ditindaklanjuti dengan pemeriksaan terhadap sampel beras yang dikeluhkan masyarakat. Pemeriksaan dapat dilakukan oleh pihak Bulog bersama pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memastikan apakah beras tersebut masih memenuhi standar kelayakan konsumsi.

    Jika hasil pemeriksaan menyatakan beras tidak layak konsumsi, masyarakat tentu berharap ada penggantian bantuan serta evaluasi terhadap proses penyimpanan dan distribusinya.

    Sebaliknya, apabila beras dinyatakan masih layak, masyarakat juga berhak mendapatkan penjelasan secara terbuka mengenai penyebab munculnya bau tidak sedap yang mereka keluhkan.

    Jangan sampai niat baik pemerintah memberikan bantuan pangan kepada masyarakat justru berujung pada kekecewaan. Bantuan untuk masyarakat harus berkualitas, aman, dan benar-benar layak dikonsumsi.(Alpin)



  • Oleh : Alpin ( penggiat Media & Medsos)

    Sorga Tersembunyi di Puncak Bukik Padendangan, Potensi Wisata Alam dan Budaya yang Menanti Sentuhan Pemerintah

    Oleh : Alpin ( penggiat Media & Medsos)

    Di tengah kekayaan alam Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, tersimpan sebuah potensi wisata yang belum banyak dikenal masyarakat luas. Namanya Puncak Bukik Padendangan, yang berada di Kenagarian Kapuh, Kecamatan Koto XI Tarusan.

    Dari ketinggian kawasan ini, pengunjung disuguhkan panorama alam yang luar biasa indah. Hamparan perbukitan, hijaunya pepohonan, serta bentang alam yang masih asri menjadikan Puncak Bukik Padendangan layak disebut sebagai “sorga tersembunyi” di Pesisir Selatan.

    Lebih istimewa lagi, dari puncak tersebut pengunjung dapat menikmati pemandangan yang mencakup empat kecamatan sekaligus, yakni Kecamatan Bayang Utara, Kecamatan Bayang, Kecamatan IV Jurai, dan Kecamatan Koto XI Tarusan.

    Keindahan yang terbentang luas dari atas bukit menghadirkan pengalaman yang sulit dilupakan. Tidak sedikit masyarakat yang telah berkunjung mengaku betah berlama-lama di puncak dan enggan turun karena begitu menikmati panorama yang tersaji di hadapan mata.

    Membuka Potensi Wisata Baru Pesisir Selatan

    Puncak Bukik Padendangan memiliki luas kawasan lebih dari 3 hektare. Dengan kondisi alam yang masih alami dan udara yang sejuk, kawasan ini memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata alternatif di Kabupaten Pesisir Selatan.

    Gagasan pengembangan kawasan ini tidak sekadar menjadikan bukit sebagai tempat menikmati pemandangan. Konsep yang dirancang adalah menghadirkan wisata alam Minangkabau yang menyatukan keindahan alam, aktivitas rekreasi, agrowisata, serta adat dan budaya Minangkabau.

    Konsep tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai fasilitas dan kegiatan wisata, antara lain:

    Agrowisata petik buah, yang memungkinkan wisatawan menikmati sekaligus memetik hasil pertanian secara langsung.

    Camping ground, bagi wisatawan yang ingin bermalam dan menikmati suasana alam.

    Hotspot atau area menikmati panorama, sebagai ruang bersantai dan menikmati matahari terbit maupun terbenam.

    Area rekreasi keluarga yang tetap mempertahankan karakter alami kawasan.

    Ruang pertunjukan dan kegiatan seni budaya Minangkabau.

    Jalur wisata alam dan edukasi yang memperkenalkan lingkungan serta kehidupan masyarakat setempat.

    Dengan konsep tersebut, Puncak Bukik Padendangan tidak hanya menjadi tempat untuk berfoto, tetapi dapat berkembang menjadi destinasi yang memberikan pengalaman wisata yang lengkap.

    Mengangkat Kisah Sabai Nan Aluih dan Padendangan

    Yang membuat kawasan ini semakin menarik adalah kekayaan cerita budaya yang melekat di dalamnya.

    Puncak Bukik Padendangan memiliki keterkaitan dengan cerita Sabai Nan Aluih dan Padendangan, yang menurut cerita masyarakat setempat merupakan kisah nyata yang terjadi pada zaman dahulu.

    Kisah tersebut merupakan bagian dari kekayaan budaya dan ingatan kolektif masyarakat yang patut digali, didokumentasikan, dan diperkenalkan kepada generasi muda.

    Jika dikembangkan secara serius, cerita Sabai Nan Aluih dan Padendangan dapat menjadi identitas budaya destinasi. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat alam, tetapi juga datang untuk mengenal cerita, nilai-nilai, tradisi, dan falsafah kehidupan masyarakat Minangkabau.

    Di sinilah peluang besar tersebut berada.

    Alam menjadi daya tariknya, budaya menjadi jiwanya, dan masyarakat menjadi pelaku utamanya.

    Wisata Alam yang Berakar pada Adat dan Budaya

    Pengembangan Puncak Bukik Padendangan diharapkan tidak menghilangkan karakter asli kawasan. Justru sebaliknya, pembangunan harus dilakukan dengan prinsip menjaga alam dan menghormati adat serta budaya Minangkabau.

    Konsep wisata alam berbasis budaya dapat menjadi ciri khas yang membedakan Puncak Bukik Padendangan dari destinasi wisata lainnya.

    Di kawasan ini, seni tradisional Minangkabau dapat kembali dihidupkan. Berbagai kegiatan seperti pertunjukan kesenian, musik tradisional, permainan anak nagari, randai, silek, hingga kegiatan adat dapat dikemas sebagai bagian dari atraksi wisata.

    Dengan demikian, pariwisata tidak hanya menghasilkan kunjungan wisatawan, tetapi juga menjadi sarana untuk melestarikan kebudayaan dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal serta mencintai warisan leluhurnya.

    Harapan kepada Pemerintah Daerah

    Potensi sebesar ini tentu membutuhkan dukungan dan perhatian dari berbagai pihak, terutama Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan.

    Puncak Bukik Padendangan diharapkan dapat dilihat bukan sekadar sebagai sebuah bukit, tetapi sebagai aset pariwisata dan ekonomi masyarakat yang memiliki prospek jangka panjang.

    Dukungan pemerintah dapat diarahkan pada pembangunan infrastruktur dasar seperti akses jalan, tempat parkir, fasilitas sanitasi, air bersih, listrik, jaringan komunikasi, papan informasi, keamanan, serta sarana pendukung wisata lainnya.

    Yang tidak kalah penting adalah pendampingan kepada masyarakat agar mereka dapat menjadi bagian utama dalam pengelolaan destinasi.

    Jika masyarakat dilibatkan sejak awal, maka manfaat ekonomi dari pariwisata dapat dirasakan secara langsung oleh nagari. UMKM, petani, pelaku seni, pemuda, kelompok perempuan, dan masyarakat setempat dapat mengambil peran sesuai potensi masing-masing.

    Jangan Biarkan Potensi Ini Berlalu Begitu Saja

    Pesisir Selatan memiliki bentang alam yang luar biasa. Namun, potensi alam akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar apabila dikelola secara terencana, berkelanjutan, dan melibatkan masyarakat.

    Puncak Bukik Padendangan adalah salah satu potensi tersebut.

    Dengan panorama yang mampu memperlihatkan empat kecamatan dari satu titik, kawasan lebih dari tiga hektare, udara yang sejuk, alam yang masih asri, serta kekayaan cerita budaya Sabai Nan Aluih dan Padendangan, kawasan ini memiliki modal yang kuat untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata alam dan budaya Minangkabau.

    Harapannya, pemerintah daerah dapat memberikan perhatian, melakukan kajian, dan membuka ruang kolaborasi bersama masyarakat serta para penggagas kawasan untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

    Sebab, membangun destinasi wisata bukan hanya membangun tempat untuk dikunjungi.

    Membangun wisata berarti membangun ekonomi masyarakat, membuka lapangan pekerjaan, menjaga alam, dan menghidupkan kembali budaya yang mulai terlupakan.

    Puncak Bukik Padendangan memiliki alamnya.

    Masyarakat memiliki semangatnya.

    Budaya memiliki ceritanya.

    Kini, yang dibutuhkan adalah kolaborasi dan dukungan nyata untuk menjadikannya sebuah destinasi wisata yang membanggakan Pesisir Selatan.

    Dari sebuah bukit di Kenagarian Kapuh, kita dapat membuka sebuah jendela baru bagi pariwisata Pesisir Selatan.

    Puncak Bukik Padendangan sorga tersembunyi yang menunggu untuk ditemukan, dijaga, dan dikembangkan.



  • “Jangan Tunggu Punya Banyak Waktu.

    Sempatkan Waktu untuk Al-Qur’an. Karena Kita Tidak Pernah Tahu, Ayat Mana yang Akan Menyelamatkan Hati Kita.”

    Oleh: H. Syafrizen, SH Datuk Rang Batuah Ustd. Zen Hoki (UZH)

    UZH SERUKAN GERAKAN LENTERA SUBUH, CUKUP 3 LEMBAR AL-QUR’AN SETIAP HARI, INSYA ALLAH HIDUP BERUBAH!

    “Jangan Tunggu Punya Banyak Waktu.

    Sempatkan Waktu untuk Al-Qur’an. Karena Kita Tidak Pernah Tahu, Ayat Mana yang Akan Menyelamatkan Hati Kita.”

    Oleh: H. Syafrizen, SH Datuk Rang Batuah Ustd. Zen Hoki (UZH)

    Painan- nrtvnews.com Bagaimana jika hanya dengan meluangkan waktu beberapa menit setiap hari, kita bisa membangun kebiasaan yang mendekatkan hati kepada Allah SWT?

    Tidak perlu menunggu kaya, Tidak perlu menunggu pension, Tidak perlu menunggu hati sedang tenang.

    Mulailah membaca Al-Qur’an hari ini.

    Pesan sederhana namun menggugah itu disampaikan Ustd. Zen Hoki (UZH) dalam semangat Lentera Subuh, mengajak umat Islam menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang tersimpan di rumah, tetapi sahabat yang menemani perjalanan hidup.

    “3 Lembar Saja. Yang Penting Jangan Berhenti!”

    Banyak orang ingin dekat dengan Al-Qur’an, tetapi sering merasa tidak punya cukup waktu.

    UZH memberikan pesan yang sederhana:

    Tidak perlu langsung banyak.

    Tiga lembar boleh.

    Lima lembar boleh.

    Yang mampu, silakan lebih banyak.

    Yang terpenting adalah istiqamah.

    “Bacalah Al-Qur’an dengan terjemahan semampunya. Niatkan untuk menjadi rutinitas. Sempatkan diri kita membaca Al-Qur’an,” pesan UZH.

    Kalimat ini menjadi pengingat penting bahwa kedekatan dengan Al-Qur’an tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.

    Kadang, perubahan besar justru dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

    Bayangkan Jika Setiap Hari Membaca Al-Qur’an

    Mulai dari Surat Al-Fatihah.

    Kemudian lanjutkan Surat Al-Baqarah dan seterusnya hingga Surat An-Nas, Baca sesuai kemampuan, Baca bersama terjemahannya, Hari ini beberapa lembar, Besok beberapa lembar lagi, Lusa kembali membaca, Teruskan.

    Tanpa terasa, satu demi satu halaman akan selesai.

    Dalam beberapa bulan, insya Allah satu kali khatam dapat tercapai.

    Setelah khatam?,  Ulangi lagi, Begitu seterusnya.

    Insya Allah, dalam setahun kita tidak hanya mampu satu kali khatam, tetapi dapat berusaha mencapai dua kali khatam atau lebih, sesuai kemampuan masing-masing.

    JANGAN HANYA KEJAR KHATAM, KEJAR JUGA PAHAM!

    Inilah pesan yang tidak kalah penting.

    Al-Qur’an jangan hanya dibaca cepat untuk mengejar selesai.

    Baca dengan terjemahan.

    Mengapa?

    Karena di dalamnya ada pesan Allah SWT untuk kehidupan kita.

    Ada perintah, Ada larangan, Ada petunjuk,  Ada peringatan,  Ada kabar gembira, Ada pelajaran tentang kehidupan manusia.

    Ketika menemukan perintah, kita berusaha melaksanakannya.

    Ketika menemukan larangan, kita berusaha meninggalkannya.

    Ketika menemukan petunjuk, kita berusaha mengikutinya.

    Dari membaca, kita belajar memahami. Dari memahami, kita belajar mengamalkan.

    SEKALI KHATAM MUNGKIN BARU TAHU. BERULANG KALI KHATAM, SEMOGA SEMAKIN PAHAM.

    Satu kali membaca Al-Qur’an mungkin membuat kita baru mengenal sebagian pesan Allah SWT.

    Tetapi ketika terus membaca dan terus mengulanginya dengan terjemahan, insya Allah pemahaman akan semakin bertambah.

    Khatam dua kali, Khatam tiga kali,  Khatam sepuluh kali, Bukan semata-mata soal angka.

    Tetapi tentang berapa banyak ayat yang akhirnya masuk ke dalam hati dan memengaruhi perilaku kita.

    Sebab tujuan akhirnya bukan sekadar mengatakan:

    “Saya sudah khatam.”

    Tetapi mampu berkata dalam hati:

    “Saya ingin hidup saya semakin sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an.”

    KETIKA HIDUP TERASA BERAT, KEPADA SIAPA KITA KEMBALI?

    Kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan.

    Ada hari ketika kita Bahagia, Ada hari ketika kita menangis, Ada saat rezeki terasa lapang, Ada saat masalah datang bertubi-tubi.

    Ada cita-cita yang berhasil diwujudkan.

    Ada pula doa yang belum kunjung mendapatkan jawaban seperti yang kita harapkan.

    Dalam keadaan seperti itu, seorang hamba membutuhkan pegangan.

    Al-Qur’an menjadi salah satu sumber petunjuk dan pengingat bagi orang beriman.

    Dari Al-Qur’an kita belajar bersyukur.

    Dari Al-Qur’an kita belajar bersabar.

    Dari Al-Qur’an kita belajar memahami bahwa kehidupan dunia ini sementara.

    Dan dari Al-Qur’an kita diingatkan bahwa perjalanan kita tidak berhenti di dunia.

    LENTERA SUBUH BUKAN SEKADAR AJAKAN MEMBACA

    Semangat Lentera Subuh bukan sekadar mengajak umat membuka Al-Qur’an.

    Lebih jauh, ini adalah ajakan untuk mengubah hubungan kita dengan Al-Qur’an.

    Dari sekadar membaca menjadi memahami, Dari memahami menjadi mengamalkan, Dari mengamalkan menjadi mengajak kepada kebaikan.

    Dari kebaikan menjadi kebiasaan.

    Dan dari kebiasaan menjadi bagian dari kehidupan.

    Itulah perjalanan yang diharapkan membawa seorang hamba semakin dekat kepada Allah SWT.

    JANGAN TUNGGU BESOK

    Jika hari ini kita belum dekat dengan Al-Qur’an, jangan menyalahkan diri terlalu lama.

    Mulailah hari ini.

    Jika belum mampu satu juz, baca beberapa halaman.

    Jika belum mampu beberapa halaman, baca beberapa lembar.

    Jika belum mampu banyak, mulailah sedikit.

    Tetapi jangan berhenti.

    Karena yang kecil namun istiqamah jauh lebih bermakna daripada semangat besar yang hanya bertahan sebentar.

    Buka Al-Qur’an, Baca.

    Baca terjemahannya,  Renungkan,  Amalkan.

    Kemudian ulangi lagi esok hari.

    HARAPAN BESAR DI BALIK KEBIASAAN SEDERHANA

    Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat, kita berharap Allah SWT melimpahkan hidayah dan inayah-Nya.

    Semoga diberikan nikmat iman.

    Nikmat Islam, Nikmat Kesehatan,  Nikmat rasa cukup,  Nikmat ketenteraman, Nikmat kedamaian, Serta kehidupan yang dipenuhi rahmat dan keberkahan.

    Kita juga memohon agar niat baik, doa, hajat dan cita-cita yang diridai Allah SWT mendapatkan jalan terbaik. Namun yang paling utama adalah memohon agar hati kita tetap berada dalam petunjuk-Nya.

    Sebab memiliki dunia tanpa hidayah belum tentu membuat hati bahagia.

    Tetapi hati yang dekat kepada Allah dapat menemukan ketenangan bahkan di tengah ujian kehidupan.

    PESAN TERAKHIR UZH: JADIKAN AL-QUR’AN SAHABAT SEUMUR HIDUP

    Dunia ini hanya sementara, Kita datang tanpa membawa apa-apa,  Dan pada akhirnya kita akan meninggalkan semuanya.

    Harta akan ditinggalkan, Jabatan akan ditinggalkan,  Popularitas akan ditinggalkan.

    Yang kita harapkan adalah bekal amal dan rahmat Allah SWT.

    Maka, sebelum waktu kita habis, mari kembali mendekat kepada Al-Qur’an.

    Tidak perlu menunggu menjadi orang baik terlebih dahulu untuk membaca Al-Qur’an.

    Bacalah Al-Qur’an agar kita terus belajar menjadi lebih baik.

    Tidak perlu menunggu hati tenang untuk membaca Al-Qur’an.

    Bacalah Al-Qur’an dan mohon kepada Allah agar hati kita diberi ketenangan.

    Tidak perlu menunggu punya banyak waktu.

    Sempatkan waktu untuk Al-Qur’an.

    Karena waktu yang kita berikan kepada Al-Qur’an bukanlah waktu yang hilang.

    Semoga menjadi waktu yang penuh keberkahan.

    Mari jadikan Al-Qur’an sahabat dalam perjalanan hidup.

    Semoga Allah SWT memberikan kita:

    Kemudahan, Kelapangan,  Keselamatan,  Kemenangan,  Keberuntungan,  Kemuliaan,  Kesuksesan,  kejayaan,  Keberkahan.

    Dan semoga kita mendapatkan kebahagiaan di dunia yang sementara serta kebahagiaan di akhirat yang selama-lamanya.

    Subhanallah walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar.

    Semoga Lentera Subuh menjadi cahaya yang mengantarkan kita kembali kepada Al-Qur’an.

    Mari mulai hari ini.

    Tiga lembar. Lima lembar. Semampunya.

    Yang penting: BACA, PAHAMI, AMALKAN, DAN ISTIQAMAH.

    Aamiin, aamiin, ya Rabbal ‘alamin.



  • Keberadaan BNN di Kota Padang Dinilai Sangat Penting dan Mendesak

    PADANG — nrtvnews.com Keberadaan Badan Narkotika Nasional (BNN) di Kota Padang dinilai semakin penting dan mendesak di tengah ancaman peredaran serta penyalahgunaan narkotika yang terus mengkhawatirkan di Sumatera Barat, Rabu 2/9/2026

    Pandangan tersebut disampaikan Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan, Konsultan Reformasi Polri (RBP) Polda Sumbar, yang menilai persoalan narkoba saat ini tidak lagi dapat dipandang sebagai ancaman laten semata, melainkan telah menjadi musuh nyata yang berpotensi merusak berbagai sendi kehidupan masyarakat.

    Menurut Zaitul, narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya bukan hanya berdampak terhadap kesehatan individu. Peredarannya juga dapat menggerus fondasi sosial, moral, hingga perekonomian masyarakat.

    “Ancaman narkoba saat ini sudah berada pada tingkat yang sangat serius. Karena itu, penanganannya membutuhkan kelembagaan yang kuat, fokus, dan mampu bekerja secara optimal hingga ke tingkat daerah,” demikian pandangan yang disampaikannya.

    Sumbar Masuk Daerah dengan Ancaman Narkoba Tinggi

    Kondisi Sumatera Barat disebut semakin memprihatinkan. Berdasarkan data yang disebut bersumber dari Badan Narkotika Nasional (BNN), Sumbar berada di peringkat keenam tertinggi secara nasional dalam tingkat peredaran dan penyalahgunaan narkoba.

    Angka prevalensi yang disebut mencapai sekitar 1,1 persen dari total populasi, atau setara dengan sekitar 65.000 warga Sumatera Barat, menunjukkan besarnya tantangan yang harus dihadapi.

    Angka tersebut, menurut Zaitul, tidak semestinya hanya dipandang sebagai statistik. Di baliknya terdapat persoalan sosial yang menyangkut individu, keluarga, lingkungan, serta masa depan generasi muda.

    “Ketika puluhan ribu masyarakat telah terpapar narkoba, maka persoalan ini bukan lagi persoalan sektoral. Ini sudah menjadi persoalan bersama yang membutuhkan respons serius dan terukur,” ujarnya.

    Kota Padang Dinilai Menjadi Titik Strategis

    Sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Barat, Kota Padang dinilai memiliki posisi strategis dalam upaya pencegahan dan pemberantasan peredaran gelap narkotika.

    Mobilitas masyarakat yang tinggi, aktivitas ekonomi, serta posisi Padang sebagai pusat pemerintahan dan berbagai kegiatan sosial menjadikan kota ini memiliki tantangan tersendiri dalam menghadapi ancaman narkoba.

    Zaitul menilai, kondisi tersebut membuat Kota Padang perlu memiliki instrumen kelembagaan yang mampu secara khusus dan berkelanjutan menangani persoalan narkotika.

    Keberadaan institusi yang fokus pada pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dinilai menjadi bagian penting dari strategi menghadapi ancaman tersebut.

    Penanganan Narkoba Membutuhkan Kelembagaan yang Kuat

    Menurut Zaitul, persoalan narkoba tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan penindakan hukum. Pencegahan, edukasi masyarakat, rehabilitasi, pemetaan jaringan peredaran, hingga penguatan koordinasi antarlembaga juga harus berjalan secara beriringan.

    Karena itu, keberadaan BNN dengan kapasitas kelembagaan yang memadai di Kota Padang dipandang sebagai kebutuhan yang semakin mendesak.

    “Penanganan narkoba harus dilakukan secara komprehensif. Tidak cukup hanya menangkap pelaku. Kita juga harus memutus mata rantai peredarannya, mencegah masyarakat menjadi korban baru, serta memastikan mereka yang sudah terpapar mendapatkan penanganan yang tepat,” katanya.

    Ia menegaskan, semakin kompleksnya persoalan narkoba menuntut kehadiran negara yang lebih kuat di tengah masyarakat.

    Bagi Kota Padang, penguatan kelembagaan di bidang pemberantasan narkoba bukan semata-mata persoalan struktur organisasi. Lebih jauh, hal tersebut berkaitan dengan upaya melindungi masyarakat dan menjaga masa depan generasi Sumatera Barat.

    Zaitul berharap urgensi persoalan tersebut dapat menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan, sehingga upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba di Kota Padang dapat dilakukan secara lebih terarah, terintegrasi, dan berkelanjutan(Alpin)



  • Dailipal, S.Sos., M.Si. Dilantik sebagai Staf Ahli Bupati Pessel, Muhammadiyah Sampaikan Ucapan Selamat

    PESISIR SELATAN — nrtvnews.com Segenap Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pesisir Selatan menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas dilantiknya Dailipal, S.Sos., M.Si. sebagai Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Keuangan Kabupaten Pesisir Selatan, Senin 31/8/2026

    PDM Pesisir Selatan berharap amanah baru yang dipercayakan kepada Dailipal dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan dedikasi demi memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan daerah.

    “Semoga amanah dalam menjalankan tugas dan senantiasa diberikan kekuatan, kesehatan, serta kelancaran dalam mengabdi untuk kemajuan daerah,” demikian disampaikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pesisir Selatan.

    Pelantikan tersebut turut dihadiri Bupati Pesisir Selatan H. Hendrajoni dan Wakil Bupati H. Risnaldi Ibrahim, serta Sekretaris Daerah H. Zainal Arifin.

    Selain itu, hadir pula Dandim 0311 Pesisir Selatan yang diwakili Kapten Inf. Afrizal, seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta sejumlah undangan lainnya.

    Pengangkatan Dailipal sebagai Staf Ahli Bupati diharapkan dapat memperkuat dukungan terhadap pemerintah daerah, khususnya dalam memberikan masukan dan pertimbangan strategis di bidang ekonomi, pembangunan, dan keuangan.

    Dengan pengalaman dan kompetensi yang dimiliki, Dailipal diharapkan mampu menjalankan tugas tersebut secara profesional serta memberikan sumbangsih pemikiran bagi terwujudnya pembangunan Kabupaten Pesisir Selatan yang semakin maju dan sejahtera.

    PDM Pesisir Selatan pun mendoakan agar Dailipal senantiasa diberi kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam mengemban amanah serta menjalankan pengabdian kepada masyarakat dan daerah.(Alpin)