Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan
Wakil Ketua ICMI Orwil Sumbar.

CATATAN PINGGIR DARI KULIAH UMUM GUBERNUR LEMHANNAS DI UNIVERSITAS ANDALAS PADANG Kamis, 3 September 2026.
Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan
Wakil Ketua ICMI Orwil Sumbar.
Kehadiran Gubernur Lemhannas, Dr. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., di Universitas Andalas (Unand) Padang pada 3 September 2026 kemarin bukan sekadar agenda seremonial akademik biasa. Lewat program Lemhannas Goes to Campus, Ace Hasan membawa narasi besar yang sangat krusial: bagaimana memosisikan Generasi Muda Sebagai Perekat Persatuan sekaligus mesin penggerak dalam Menjawab Tantangan Bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Durasi dua jam yang terasa singkat di hadapan 20 Rektor PTN dan PTS Sumatera Barat dan civitas akademika Unand menjadi bukti bahwa materi yang dibawakan sangat relate dan memantik pemikiran kritis. Tulisan ini sebagai ulasan berupa catatan pinggir yang responsif atas pokok-pokok pikiran yang disampaikan oleh Gubernur Lemhannas.
Romantisme Historis Bung Hatta: Refleksi atau Sekadar Nostalgia?
Ace Hasan memulai kuliahnya dengan sangat cerdas: menyentuh sentimen kultural lokal melalui memori kolektif sosok Bung Hatta. Membawa kembali nilai integritas, rasionalitas, kesederhanaan, dan cinta ilmu dari sang Proklamator asal Minang ini bukan sekadar bumbu pidato.
Langkah ini merupakan kritik halus terhadap realitas kepemimpinan pragmatis hari ini. Karakter Hatta-isme yang rasional dan berintegritas tinggi adalah antitesis dari tren politik populis yang minim substansi. Pertanyaannya kemudian, mampukah ekosistem pendidikan tinggi kita hari ini melahirkan kembali Hatta-Hatta Baru, ataukah kampus sudah terjebak dalam pusaran administratif yang mengerdilkan daya kritis mahasiswa?
Literasi Geopolitik: Kampus Bukan Menara Gading
Salah satu poin paling kuat dalam paparan Ace Hasan adalah desakan agar perguruan tinggi menjadi Penggerak Literasi Geopolitik. Mahasiswa dituntut memiliki wawasan global tanpa kehilangan identitas nasional.
Ini adalah respons yang sangat tepat terhadap fenomena borderless world (dunia tanpa batas). Di era digital, ancaman kedaulatan tidak lagi bersifat konvensional (militer), melainkan perang asimetris lewat disrupsi teknologi, infiltrasi ideologi, dan dominasi ekonomi global. Kampus tidak boleh lagi menjadi menara gading yang hanya sibuk dengan teori, tetapi harus menjadi laboratorium berpikir strategis yang peka terhadap pergeseran peta kekuatan dunia.
Akulturasi Islam dan Tradisi Lokal sebagai Benteng Karakter
Gubernur Lemhannas memberikan apresiasi khusus pada Sumatera Barat, di mana tradisi intelektual Islam hidup berdampingan dengan filosofi lokal, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Penguatan 4 konsensus dasar bangsa (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) tidak akan efektif jika dipaksakan secara top-down atau doktriner ala masa lalu. Pendekatan Ace Hasan yang berbasis kearifan lokal (local wisdom) jauh lebih responsif dan kontemporer. Nilai-nilai kebangsaan justru akan tumbuh subur dan organik jika berakar pada identitas budaya yang sudah dihayati oleh masyarakat setempat.
Mengapa Karakter, Watak, dan Kepribadian adalah “Harga Mati” Bagi Pemimpin Bangsa?
Ketika Gubernur Lemhannas, Ace Hasan Syadzily, memberikan penekanan yang sangat mendalam dan serius pada aspek ini, beliau sebenarnya sedang menunjuk pada krisis terbesar bangsa hari ini: krisis keteladanan.
Di era di mana kecerdasan intelektual (hard skills) bisa dengan mudah digantikan oleh Kecerdasan Buatan (AI) dan data besar, tiga aspek personal ini karakter, watak, dan kepribadian adalah benteng terakhir yang tidak bisa direplikasi oleh teknologi, sekaligus kompas utama dalam menavigasi negara.
Karakter: Jangkar Moral di Tengah Badai Pragmatisme
Karakter bukan sekadar berbuat baik, melainkan kepatuhan total pada prinsip moral dan integritas, bahkan ketika tidak ada orang lain yang melihat.
Banyak pemimpin hari ini runtuh bukan karena mereka bodoh atau tidak berpendidikan tinggi, melainkan karena cacat karakter. Mereka terjebak dalam korupsi, penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), dan kebijakan yang transaksional demi kepentingan kelompok kecil.
Pemimpin masa depan Indonesia tidak boleh hanya menjadi teknokrat yang andal secara hitung-hitungan di atas kertas, tetapi miskin komitmen moral. Tanpa karakter yang kuat, seorang pemimpin akan mudah “dijual-beli” oleh oligarki dan rapuh menghadapi tekanan kepentingan global yang mengancam kedaulatan bangsa.
Watak: Konsistensi Antara Pikiran, Ucapan, dan Tindakan
Jika karakter adalah fondasi nilai internal, maka watak adalah manifestasi nyata dari nilai tersebut yang membentuk reputasi dan trust (kepercayaan publik). Watak yang kuat melahirkan ketegasan yang berakar pada keadilan, bukan arogansi.
Mengacu pada sosok Bung Hatta yang diangkat oleh Gubernur Lemhannas, watak ketokohan Hatta tecermin dari kesederhanaan hidup dan rasionalitasnya. Beliau memilih mundur dari jabatan Wakil Presiden ketika prinsip demokrasinya tidak lagi sejalan dengan arah pemerintahan saat itu.
Di era media sosial saat ini, kepribadian bisa dengan mudah direkayasa melalui pencitraan politik digital (personal branding). Namun, watak tidak bisa dipalsukan. Watak seorang pemimpin akan diuji saat ia dihadapkan pada krisis atau turbulensi geopolitik. Pemimpin yang berwatak lemah akan cenderung plin-plan, populis demi elektabilitas sesaat, dan takut mengambil kebijakan yang tidak populer meskipun kebijakan itu benar demi masa depan bangsa.
Kepribadian: Fleksibilitas Global yang Berakar pada Identitas Nasional
Kepribadian dalam konteks kepemimpinan nasional mencakup aspek visioner, transformatif, dan adaptif. Ini adalah tentang bagaimana seorang pemimpin berkomunikasi, berempati, dan membawa pengaruh (influence) baik di tingkat domestik maupun internasional.
Pemimpin masa depan harus memiliki kepribadian yang inklusif dan matang secara emosional. Mereka harus mampu merangkul pluralisme (Bhinneka Tunggal Ika) sebagai kekuatan, bukan sebagai pemicu polarisasi.
Di panggung global, pemimpin Indonesia harus tampil dengan kepribadian yang percaya diri, setara dengan pemimpin dunia lainnya, tanpa harus mengemis pengakuan dengan cara mengorbankan kepentingan nasional. Kehilangan kepribadian nasional atau mengalami krisis identitas akan membuat seorang pemimpin gagap dalam bernegosiasi di tengah ketatnya persaingan geopolitik baru.
Transformasi Mahasiswa: Dari Job Seeker Menjadi Problem Solver
Himbauan agar mahasiswa Unand tidak hanya menjadi penonton dunia, melainkan bertransformasi menjadi job creator, inovator, dan problem solver adalah tuntutan mutlak yang tidak bisa ditawar lagi.
Di tengah ancaman bonus demografi yang berpotensi menjadi bencana demografi (jika angka pengangguran terdidik terus naik), pesan ini adalah alarm keras. Menuju Indonesia Emas 2045, kita tidak membutuhkan generasi yang gagap teknologi atau sekadar menjadi konsumen produk global. Mahasiswa harus mampu mengendalikan teknologi sebagai instrumen penguat bangsa, bukan malah dikendalikan oleh sistem eksternal.
Kesimpulan
Kuliah umum Gubernur Lemhannas di Ranah Minang ini berhasil membongkar cara pandang usang tentang nasionalisme. Nasionalisme kontemporer bukan lagi soal angkat senjata, melainkan tentang ketangguhan menjaga integritas bangsa di tengah turbulensi geopolitik dan perubahan zaman.
Namun, pekerjaan rumah terbesar justru dimulai setelah acara ini selesai. Transformasi karakter, watak, dan kepribadian yang digaungkan Ace Hasan membutuhkan komitmen nyata dari tata kelola perguruan tinggi. Tanpa adanya reformasi kurikulum yang membebaskan nalar kritis dan ekosistem kampus yang demokratis, narasi besar menuju Indonesia Emas 2045 dikhawatirkan hanya akan berakhir sebagai utopia yang indah di atas kertas.

