Author: alpin


  • Membangun Generasi Beriman, Berilmu, Berakhlak Mulia, dan Bertanggung Jawab

    Oleh: Masrizal, S.Ag.,  M.Pd. (Kasi Pais Kemenag Pessel)

    Pendidikan Agama Islam Yang Berkarakter

    Membangun Generasi Beriman, Berilmu, Berakhlak Mulia, dan Bertanggung Jawab

    Oleh: Masrizal, S.Ag.,  M.Pd. (Kasi Pais Kemenag Pessel)

    ABSTRAK

    Pendidikan Agama Islam memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah perkembangan teknologi, arus globalisasi, serta perubahan sosial yang semakin kompleks, pendidikan agama Islam dituntut untuk tidak berhenti pada penguasaan materi dan kemampuan menghafal, tetapi juga harus mampu menanamkan nilai-nilai karakter secara nyata. Pendidikan Agama Islam yang berkarakter merupakan proses pendidikan yang mengintegrasikan ajaran Islam dengan pembentukan sikap, perilaku, tanggung jawab, kedisiplinan, kejujuran, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap sesama. Artikel ini membahas hakikat pendidikan agama Islam yang berkarakter, landasan nilai-nilai Islam, tujuan dan urgensinya, strategi implementasi di sekolah, peran guru dan keluarga, tantangan pelaksanaan, serta upaya membangun budaya sekolah yang religius dan berkarakter. Pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter membutuhkan keteladanan, pembiasaan, pembelajaran kontekstual, kerja sama antara sekolah dan keluarga, serta evaluasi yang menyeluruh. Dengan pendekatan tersebut, Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu melahirkan generasi yang seimbang antara kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, dan kepedulian sosial.

    Kata kunci: Pendidikan Agama Islam, pendidikan karakter, akhlak mulia, keteladanan, generasi Islami.

    A. PENDAHULUAN

    Pendidikan merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan kualitas manusia dan kemajuan suatu bangsa. Melalui pendidikan, seseorang memperoleh pengetahuan, mengembangkan kemampuan berpikir, membangun kepribadian, serta mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Namun, keberhasilan pendidikan tidak semestinya hanya diukur dari tingginya nilai akademik, banyaknya prestasi, atau kemampuan seseorang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan juga harus mampu membentuk manusia yang memiliki moral, tanggung jawab, kejujuran, kepedulian, dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai kebaikan.

    Dalam konteks tersebut, Pendidikan Agama Islam (PAI) mempunyai kedudukan yang sangat penting. PAI bukan sekadar mata pelajaran yang mengajarkan tata cara ibadah, hafalan ayat Al-Qur’an, atau pengetahuan mengenai hukum Islam. Lebih dari itu, PAI merupakan proses pendidikan yang membimbing peserta didik agar memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupannya.

    Pendidikan Agama Islam yang berkarakter menjadi kebutuhan penting di tengah perkembangan zaman. Kemajuan teknologi informasi memberikan berbagai kemudahan dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan berkomunikasi. Akan tetapi, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan, seperti penyebaran informasi yang tidak benar, perundungan, perilaku tidak jujur, menurunnya kepedulian sosial, serta penggunaan media digital yang tidak bertanggung jawab.

    Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kecakapan intelektual dan teknologi perlu diimbangi dengan kekuatan iman, akhlak, dan kemampuan mengendalikan diri. Peserta didik harus dibimbing agar mampu membedakan yang benar dan salah, menghargai perbedaan, menjaga kehormatan orang lain, serta menggunakan pengetahuan untuk kepentingan yang bermanfaat.

    Islam sendiri menempatkan akhlak sebagai bagian penting dari kehidupan seorang muslim. Rasulullah saw. menjadi teladan utama dalam membangun kepribadian yang luhur. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman:

    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

    Ayat tersebut menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak cukup dilakukan melalui penyampaian teori. Nilai-nilai kebaikan harus diperlihatkan melalui perilaku nyata, dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, dan ditanamkan secara berkelanjutan.

    Oleh karena itu, Pendidikan Agama Islam perlu diarahkan pada pembentukan manusia yang memiliki keseimbangan antara iman, ilmu, amal, dan akhlak. Peserta didik diharapkan tidak hanya mengetahui ajaran agama, tetapi juga mampu menjadikan ajaran tersebut sebagai pedoman dalam mengambil keputusan, berinteraksi dengan orang lain, dan menjalankan tanggung jawabnya sebagai anggota masyarakat.

    Artikel ini membahas bagaimana Pendidikan Agama Islam dapat dikembangkan sebagai pendidikan yang berkarakter, apa saja nilai utama yang perlu ditanamkan, serta bagaimana peran guru, sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mewujudkannya.

    B. HAKIKAT PENDIDIKAN AGAMA ISLAM YANG BERKARAKTER

    Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar dan terencana untuk membimbing peserta didik agar mengenal, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw. Pendidikan ini mencakup dimensi keimanan, ibadah, akhlak, hubungan sosial, serta tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri, sesama manusia, dan lingkungan.

    Sementara itu, pendidikan karakter merupakan proses pembentukan nilai, sikap, kebiasaan, dan perilaku yang baik sehingga seseorang mampu bertindak secara bertanggung jawab berdasarkan prinsip moral yang diyakininya.

    Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam yang berkarakter dapat dipahami sebagai proses pendidikan yang mengintegrasikan pemahaman ajaran Islam dengan pembentukan kepribadian dan perilaku mulia. Orientasinya bukan hanya menjadikan peserta didik mengetahui ajaran agama, melainkan juga mencintai kebaikan, membiasakan perbuatan baik, serta memiliki kesadaran untuk mempertanggungjawabkan setiap tindakan.

    Pendidikan agama yang berkarakter setidaknya memiliki tiga dimensi utama.

    Pertama, dimensi pengetahuan. Peserta didik memahami dasar-dasar ajaran Islam, seperti akidah, ibadah, Al-Qur’an dan hadis, akhlak, serta sejarah peradaban Islam. Pengetahuan ini menjadi landasan untuk mengenali nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.

    Kedua, dimensi penghayatan. Peserta didik tidak sekadar mengetahui suatu nilai, tetapi juga memahami maknanya dan menumbuhkan kesadaran untuk melaksanakannya. Kejujuran, misalnya, bukan hanya dipahami sebagai larangan berbohong, tetapi disadari sebagai prinsip penting dalam membangun kepercayaan.

    Ketiga, dimensi pengamalan. Nilai-nilai yang telah dipahami dan dihayati diwujudkan dalam tindakan nyata. Peserta didik menunjukkan kejujuran ketika mengerjakan ujian, kedisiplinan dalam mengikuti pembelajaran, kepedulian ketika melihat teman mengalami kesulitan, dan tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas.

    Ketiga dimensi tersebut harus berjalan secara terpadu. Pengetahuan tanpa penghayatan dapat menjadikan pendidikan agama sebatas hafalan. Penghayatan tanpa pembiasaan perilaku berisiko berhenti sebagai niat. Sebaliknya, tindakan tanpa pemahaman yang memadai dapat menjadi kebiasaan yang kurang disadari maknanya.

    Karena itu, keberhasilan Pendidikan Agama Islam yang berkarakter perlu dilihat dari perkembangan peserta didik secara menyeluruh, meliputi pemahaman keagamaan, kesadaran moral, kebiasaan baik, dan kemampuan menerapkan nilai-nilai Islam dalam berbagai situasi kehidupan.

    C. LANDASAN NILAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM YANG BERKARAKTER

    Pendidikan Agama Islam yang berkarakter memiliki landasan utama pada Al-Qur’an dan sunah, yang kemudian diimplementasikan melalui proses pendidikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan masyarakat.

    1. Keimanan dan ketakwaan

    Keimanan merupakan fondasi utama pembentukan karakter seorang muslim. Iman tidak hanya berkaitan dengan pengakuan secara lisan, tetapi juga perlu tercermin dalam sikap, pilihan, dan perilaku. Ketakwaan mendorong seseorang untuk menjalankan perintah Allah Swt., menjauhi larangan-Nya, dan berusaha melakukan kebaikan dalam berbagai keadaan.

    Dalam pendidikan, keimanan ditanamkan melalui pembelajaran yang bermakna, pelaksanaan ibadah, pembiasaan berdoa, pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, serta refleksi terhadap perilaku sehari-hari. Peserta didik dibimbing agar memahami bahwa nilai agama tidak hanya berlaku di tempat ibadah atau di sekolah, tetapi juga dalam keluarga, masyarakat, dan ruang digital.

    2. Kejujuran

    Kejujuran merupakan karakter dasar yang harus dibangun sejak dini. Sikap jujur menumbuhkan kepercayaan, memperkuat hubungan sosial, dan mencegah berbagai bentuk penyimpangan perilaku.

    Dalam lingkungan sekolah, kejujuran dapat dikembangkan dengan membiasakan peserta didik mengerjakan ujian tanpa menyontek, mengakui kesalahan, menyampaikan informasi secara benar, serta tidak mengambil barang yang bukan miliknya. Guru juga harus menjadi teladan dengan memberikan penilaian secara objektif, menyampaikan informasi secara benar, dan memperlakukan peserta didik secara adil.

    Kejujuran perlu dibangun melalui kesadaran, bukan semata-mata karena takut terhadap hukuman. Peserta didik harus memahami bahwa berlaku jujur merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan pengamalan ajaran Islam.

    3. Disiplin dan tanggung jawab

    Disiplin mengajarkan keteraturan, kepatuhan terhadap kesepakatan, dan kemampuan mengelola waktu. Tanggung jawab menumbuhkan kesadaran untuk melaksanakan kewajiban dan menerima konsekuensi dari tindakan.

    Kedua karakter tersebut dapat dikembangkan melalui pembiasaan datang tepat waktu, menjaga kebersihan kelas, menyelesaikan tugas, mengikuti kegiatan ibadah sesuai ketentuan sekolah, serta menaati tata tertib yang berlaku.

    Penerapan disiplin sebaiknya dilakukan secara mendidik. Aturan perlu dijelaskan secara terbuka, diterapkan secara konsisten, dan disertai pembinaan ketika terjadi pelanggaran. Hukuman yang merendahkan martabat peserta didik tidak sejalan dengan tujuan pembentukan karakter.

    4. Santun dan menghormati sesama

    Akhlak mulia tercermin dalam cara seseorang berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Peserta didik perlu dibimbing agar menghormati orang tua, guru, teman, dan anggota masyarakat tanpa memandang perbedaan latar belakang.

    Sikap santun dapat diwujudkan melalui kebiasaan menyapa dengan baik, mendengarkan ketika orang lain berbicara, tidak menghina, meminta maaf ketika bersalah, dan mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diterima.

    Pendidikan karakter juga harus mengajarkan bahwa perbedaan pendapat tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan kekerasan verbal maupun fisik. Sikap tegas dapat berjalan bersama kesantunan, sedangkan penghormatan terhadap orang lain tidak berarti mengabaikan prinsip kebenaran.

    5. Kepedulian sosial dan gotong royong

    Islam mengajarkan pentingnya tolong-menolong dalam kebaikan. Oleh sebab itu, Pendidikan Agama Islam perlu menumbuhkan kepedulian terhadap orang yang mengalami kesulitan dan membangun semangat kebersamaan.

    Nilai ini dapat dikembangkan melalui kegiatan infak, santunan sosial, kerja bakti, kunjungan kepada warga yang membutuhkan bantuan, serta program kepedulian terhadap teman. Kegiatan tersebut hendaknya tidak sekadar menjadi acara seremonial, tetapi menjadi sarana pembelajaran mengenai empati, keadilan, dan tanggung jawab sosial.

    Melalui pengalaman nyata, peserta didik dapat memahami bahwa keberagamaan tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Allah Swt., tetapi juga tercermin dalam kualitas hubungan antarmanusia.

    6. Toleransi dan sikap moderat

    Kehidupan masyarakat Indonesia ditandai oleh keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Pendidikan Agama Islam perlu membekali peserta didik dengan kemampuan hidup berdampingan secara damai, menghormati hak orang lain, serta menyelesaikan perbedaan melalui dialog.

    Toleransi tidak berarti menghilangkan keyakinan agama sendiri. Toleransi berarti menghormati martabat manusia, menjaga hubungan sosial, dan tidak memaksakan keyakinan kepada orang lain. Sikap moderat juga mendorong peserta didik untuk menghindari kebencian, kekerasan, fanatisme yang merusak, dan penilaian yang tidak adil terhadap kelompok lain.

    Dengan pembinaan yang tepat, peserta didik dapat tumbuh sebagai muslim yang teguh dalam keyakinan, santun dalam pergaulan, dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.

    7. Peduli terhadap lingkungan

    Lingkungan merupakan amanah yang harus dijaga. Karakter peduli lingkungan dapat ditanamkan melalui kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, menghemat air, menjaga kebersihan tempat ibadah, merawat tanaman, dan menggunakan sumber daya secara bijaksana.

    Kegiatan tersebut menghubungkan nilai keagamaan dengan tindakan nyata. Peserta didik belajar bahwa tanggung jawab sebagai manusia tidak hanya berkaitan dengan hubungan sosial, tetapi juga mencakup pemeliharaan alam demi kehidupan bersama.

    D. TUJUAN DAN URGENSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM YANG BERKARAKTER

    Pendidikan Agama Islam yang berkarakter bertujuan membentuk peserta didik yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, mandiri, bertanggung jawab, serta mampu menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan pribadi dan sosial.

    Tujuan tersebut memiliki beberapa urgensi.

    Pertama, membangun kepribadian yang utuh. Peserta didik perlu berkembang sebagai manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, emosional, dan sosial. Kecerdasan yang tidak disertai moralitas dapat disalahgunakan, sedangkan moralitas yang didukung pengetahuan dan keterampilan akan memberikan manfaat lebih luas.

    Kedua, mencegah perilaku negatif. Pembentukan karakter membantu peserta didik mengembangkan pengendalian diri, kemampuan mengambil keputusan, dan kesadaran akan akibat suatu tindakan. Nilai agama dapat menjadi pedoman dalam menghadapi tekanan teman sebaya, godaan untuk berbuat curang, maupun pengaruh negatif media sosial.

    Ketiga, membangun budaya sekolah yang positif. Sekolah yang menjadikan karakter sebagai prioritas akan berupaya menciptakan lingkungan yang aman, tertib, ramah, dan menghargai martabat setiap warga sekolah. Pembelajaran berlangsung lebih baik ketika peserta didik merasa dihargai dan memiliki rasa tanggung jawab.

    Keempat, memperkuat kehidupan bermasyarakat. Peserta didik yang memiliki karakter baik diharapkan tumbuh menjadi warga masyarakat yang jujur, peduli, mampu bekerja sama, serta menghormati perbedaan. Pendidikan agama dengan demikian berkontribusi terhadap terciptanya kehidupan sosial yang damai dan berkeadilan.

    Kelima, membentuk generasi yang bijak menggunakan teknologi. Penguatan karakter perlu menjangkau perilaku digital. Peserta didik harus memahami etika berkomunikasi, menjaga privasi, memeriksa kebenaran informasi, menghormati hak cipta, dan menolak perundungan di dunia maya. Keimanan dan akhlak harus tetap menjadi pedoman meskipun seseorang berinteraksi melalui layar.

    Dengan berbagai tujuan tersebut, pendidikan agama tidak boleh dipandang sebagai tanggung jawab guru PAI semata. Pembentukan karakter merupakan tanggung jawab bersama yang perlu melibatkan kepala sekolah, seluruh guru, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat.

    E. STRATEGI IMPLEMENTASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM YANG BERKARAKTER

    Pendidikan Agama Islam yang berkarakter membutuhkan strategi yang sistematis, konsisten, dan sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Nilai-nilai karakter tidak cukup disampaikan melalui ceramah, tetapi harus diintegrasikan dalam proses pembelajaran dan budaya sekolah.

    1. Keteladanan guru

    Keteladanan merupakan salah satu strategi yang paling penting dalam pendidikan karakter. Peserta didik cenderung memperhatikan kesesuaian antara ucapan dan tindakan guru. Oleh karena itu, guru PAI perlu menunjukkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan.

    Guru yang mengajarkan kejujuran harus bersikap jujur. Guru yang menanamkan kedisiplinan harus menghargai waktu. Guru yang mengajarkan kesantunan harus berbicara dengan bahasa yang baik. Guru yang mengajarkan keadilan harus memberikan perhatian dan penilaian secara objektif.

    Keteladanan tidak menuntut guru menjadi manusia yang tanpa kesalahan. Ketika melakukan kekeliruan, guru dapat menunjukkan karakter yang baik dengan mengakuinya, meminta maaf, dan memperbaikinya. Sikap tersebut memberikan pelajaran nyata bahwa tanggung jawab dan kerendahan hati merupakan bagian dari akhlak mulia.

    2. Pembiasaan perilaku positif

    Karakter berkembang melalui latihan yang dilakukan secara berulang. Sekolah dapat mengembangkan pembiasaan membaca doa, membaca Al-Qur’an, melaksanakan ibadah sesuai program sekolah, menjaga kebersihan, mengucapkan salam, dan membudayakan sikap saling menghormati.

    Namun, pembiasaan harus disertai pemahaman mengenai tujuan dan maknanya. Kegiatan membaca Al-Qur’an, misalnya, sebaiknya tidak hanya berorientasi pada kelancaran membaca, tetapi juga membuka kesempatan untuk memahami pesan moral dan menerapkannya dalam kehidupan.

    Pembiasaan juga perlu dilakukan secara manusiawi dan memperhatikan kondisi peserta didik. Kegiatan keagamaan harus dilaksanakan sesuai ketentuan, usia, kemampuan, dan keyakinan yang relevan, tanpa mempermalukan atau merendahkan peserta didik.

    3. Pembelajaran kontekstual dan dialogis

    Materi PAI akan lebih bermakna ketika dikaitkan dengan persoalan nyata yang dihadapi peserta didik. Guru dapat mengajak siswa mendiskusikan kasus menyontek, perundungan, penggunaan media sosial, konflik antarteman, tanggung jawab terhadap tugas, atau kepedulian kepada orang yang membutuhkan bantuan.

    Melalui diskusi, peserta didik belajar mengidentifikasi masalah, memahami nilai Islam yang relevan, mempertimbangkan akibat tindakan, dan menentukan solusi yang bertanggung jawab.

    Metode yang dapat digunakan meliputi studi kasus, diskusi kelompok, bermain peran, proyek sosial, refleksi diri, dan pembelajaran berbasis masalah. Guru berperan sebagai pembimbing yang membantu peserta didik membangun pemahaman, bukan sekadar memberikan jawaban akhir.

    4. Integrasi karakter dalam seluruh mata pelajaran

    Pendidikan karakter tidak boleh dibebankan hanya kepada mata pelajaran PAI. Setiap mata pelajaran memiliki peluang untuk menumbuhkan nilai-nilai positif.

    Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, peserta didik dapat dilatih menghargai pendapat dan menyampaikan kritik secara santun. Dalam Matematika, guru dapat menekankan kejujuran dalam proses penyelesaian soal. Dalam Ilmu Pengetahuan Alam, peserta didik dapat belajar mengenai tanggung jawab terhadap lingkungan. Dalam kegiatan olahraga, siswa dapat dibimbing menjunjung sportivitas, disiplin, dan kerja sama.

    Integrasi tersebut membutuhkan koordinasi antarguru agar nilai karakter menjadi bagian dari budaya pembelajaran, bukan sekadar slogan yang ditempelkan di dinding sekolah.

    5. Kegiatan keagamaan dan sosial

    Sekolah dapat menyelenggarakan kegiatan keagamaan dan sosial sebagai sarana pengamalan nilai. Contohnya adalah kegiatan peringatan hari besar Islam, pesantren kilat, kajian keislaman, pengumpulan infak, bakti sosial, program berbagi, dan kegiatan kebersihan lingkungan.

    Keberhasilan kegiatan tersebut sebaiknya tidak hanya diukur berdasarkan kemeriahan acara atau jumlah dana yang terkumpul. Hal yang lebih penting adalah keterlibatan peserta didik, tumbuhnya empati, pemahaman terhadap tujuan kegiatan, dan perubahan perilaku yang dapat diamati.

    6. Penguatan literasi digital Islami

    Di era digital, peserta didik perlu mendapatkan bimbingan mengenai etika penggunaan teknologi. Pendidikan Agama Islam dapat membahas pentingnya tabayyun atau memeriksa kebenaran informasi, menjaga kehormatan orang lain, tidak menyebarkan fitnah, serta menghindari ujaran kebencian.

    Guru dapat memberikan simulasi sederhana untuk membedakan informasi yang dapat dipercaya dan informasi yang meragukan. Peserta didik juga dapat diajak menyusun pedoman komunikasi digital yang sopan dan bertanggung jawab.

    Dengan pendekatan ini, nilai agama tidak hanya dipahami dalam konteks kehidupan tatap muka, tetapi juga menjadi pedoman ketika peserta didik menggunakan media sosial, aplikasi percakapan, dan berbagai layanan digital.

    7. Pembinaan melalui penghargaan dan konsekuensi edukatif

    Penguatan karakter perlu disertai apresiasi terhadap perilaku baik dan konsekuensi yang mendidik ketika terjadi pelanggaran. Penghargaan dapat berupa pengakuan atas usaha, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian yang ditunjukkan peserta didik.

    Ketika pelanggaran terjadi, guru perlu mencari penyebabnya, menjelaskan dampaknya, dan membimbing peserta didik memperbaiki kesalahan. Pendekatan seperti dialog, refleksi, pemulihan hubungan, serta kesepakatan perbaikan dapat membantu membangun kesadaran.

    Tujuannya bukan mempermalukan peserta didik, melainkan menumbuhkan kemampuan mengendalikan diri dan bertanggung jawab atas tindakannya.

    F. PERAN GURU, KELUARGA, DAN SEKOLAH

    Keberhasilan Pendidikan Agama Islam yang berkarakter sangat dipengaruhi oleh hubungan antara sekolah dan lingkungan tempat peserta didik tumbuh. Pendidikan yang dilakukan di sekolah akan lebih efektif apabila memperoleh dukungan dan penguatan dari keluarga serta masyarakat.

    1. Guru sebagai pendidik dan pembimbing

    Guru PAI memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan pengetahuan agama sekaligus membimbing pembentukan akhlak peserta didik. Peran guru meliputi perancang pembelajaran, fasilitator diskusi, pemberi teladan, pembimbing perilaku, dan evaluator perkembangan karakter.

    Guru perlu memahami karakteristik peserta didik, memberikan perhatian terhadap kebutuhan mereka, dan menghindari pendekatan yang hanya menekankan hukuman. Hubungan yang positif antara guru dan peserta didik dapat menciptakan suasana pembelajaran yang lebih terbuka sehingga masalah perilaku dapat ditangani secara tepat.

    Guru juga perlu mengembangkan kompetensi profesional secara berkelanjutan, termasuk kemampuan memanfaatkan teknologi, menyusun metode pembelajaran yang menarik, dan melakukan penilaian karakter secara objektif.

    2. Keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama

    Keluarga merupakan lingkungan awal tempat anak belajar mengenai nilai, kebiasaan, tanggung jawab, dan hubungan sosial. Orang tua mempunyai peran penting dalam membangun dasar karakter melalui contoh nyata dan komunikasi sehari-hari.

    Kebiasaan beribadah bersama, berbicara secara santun, menepati janji, menjaga kebersihan, membantu pekerjaan rumah, dan menyelesaikan masalah melalui dialog merupakan bentuk pendidikan karakter yang sederhana tetapi bermakna.

    Orang tua perlu menunjukkan kesesuaian antara nasihat dan perilaku. Anak akan lebih mudah memahami pentingnya kejujuran ketika melihat orang tuanya bersikap jujur, serta lebih mudah belajar menghormati orang lain ketika hidup dalam lingkungan keluarga yang saling menghargai.

    3. Sekolah sebagai pembangun budaya karakter

    Sekolah memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pembentukan karakter. Kepala sekolah perlu menetapkan arah kebijakan yang jelas, menyediakan program pembinaan, serta memastikan seluruh warga sekolah berpartisipasi.

    Budaya karakter dapat diwujudkan melalui tata tertib yang adil, komunikasi yang santun, lingkungan yang bersih, layanan yang ramah, pencegahan perundungan, serta penyelesaian konflik secara mendidik.

    Program pendidikan karakter harus diterapkan secara konsisten. Jika sekolah mengajarkan kejujuran tetapi membiarkan kecurangan, atau mengajarkan kesantunan tetapi membiarkan penghinaan, pesan pendidikan akan kehilangan kekuatannya.

    4. Masyarakat sebagai mitra pendidikan

    Masyarakat, tokoh agama, pengurus masjid, dan organisasi sosial dapat menjadi mitra sekolah dalam memperluas pengalaman belajar peserta didik. Kerja sama dapat dilakukan melalui kegiatan sosial, pembinaan keagamaan, program lingkungan, dan pengabdian kepada masyarakat.

    Kemitraan ini membantu peserta didik memahami bahwa nilai-nilai agama memiliki relevansi dalam kehidupan nyata. Mereka belajar bahwa sikap peduli, jujur, dan bertanggung jawab diperlukan bukan hanya untuk memperoleh penilaian di sekolah, tetapi juga untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik.

    G. TANTANGAN DAN SOLUSI PELAKSANAAN

    Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam yang berkarakter menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah kecenderungan pembelajaran yang terlalu berorientasi pada penyelesaian materi dan hasil ujian. Ketika keberhasilan hanya diukur melalui nilai akademik, pembinaan perilaku dapat memperoleh perhatian yang kurang memadai.

    Solusinya adalah mengintegrasikan pengembangan karakter dalam perencanaan pembelajaran, kegiatan sekolah, dan evaluasi peserta didik. Materi agama harus tetap diajarkan secara sistematis, tetapi juga dikaitkan dengan perilaku nyata dan pengalaman keseharian.

    Tantangan berikutnya adalah kurangnya keteladanan dan ketidakkonsistenan dalam penerapan aturan. Nilai yang diajarkan akan sulit tertanam apabila tidak diperlihatkan dalam tindakan orang dewasa. Oleh sebab itu, sekolah perlu membangun komitmen bersama di antara guru, tenaga kependidikan, dan pimpinan sekolah.

    Perbedaan pola asuh keluarga juga dapat memengaruhi pembentukan karakter. Sebagian peserta didik mungkin memperoleh dukungan yang kuat di rumah, sementara yang lain menghadapi situasi keluarga yang lebih kompleks. Sekolah perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan orang tua, tanpa memberikan stigma kepada peserta didik berdasarkan kondisi keluarganya.

    Tantangan lainnya adalah pengaruh lingkungan digital. Informasi yang beredar cepat dapat membentuk pola pikir dan perilaku peserta didik, baik secara positif maupun negatif. Karena itu, pembinaan literasi digital harus menjadi bagian dari pendidikan karakter, dengan menekankan kemampuan memeriksa informasi, mengendalikan diri, dan menghormati orang lain.

    Selain itu, penilaian karakter bukanlah pekerjaan yang sederhana. Sikap seseorang tidak selalu dapat disimpulkan dari satu kejadian atau satu hasil pengamatan. Guru perlu menggunakan beberapa sumber informasi, seperti observasi berkelanjutan, refleksi peserta didik, hasil karya, dan komunikasi dengan orang tua.

    Penilaian harus diarahkan untuk mengetahui perkembangan dan menentukan kebutuhan pembinaan, bukan memberi label permanen terhadap kepribadian seorang anak. Setiap peserta didik memiliki peluang untuk belajar, memperbaiki diri, dan berkembang.

    Dengan demikian, tantangan dalam pendidikan karakter perlu dihadapi melalui kerja sama, keteladanan, pembiasaan, pendekatan yang adil, serta evaluasi yang berorientasi pada perbaikan.

    H. EVALUASI KEBERHASILAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM YANG BERKARAKTER

    Evaluasi merupakan bagian penting untuk mengetahui apakah pendidikan agama telah memberikan pengaruh terhadap perkembangan peserta didik. Namun, evaluasi karakter tidak dapat hanya mengandalkan tes tertulis karena tes tersebut lebih banyak mengukur pengetahuan daripada perilaku nyata.

    Evaluasi sebaiknya mencakup tiga aspek utama.

    Pertama, aspek pengetahuan, yaitu kemampuan peserta didik memahami ajaran Islam dan menjelaskan nilai-nilai karakter. Aspek ini dapat diukur melalui tes, tanya jawab, diskusi, dan tugas tertulis.

    Kedua, aspek sikap, yaitu perkembangan kesadaran, penghargaan terhadap orang lain, kedisiplinan, kejujuran, dan kepedulian. Pengamatan guru dapat digunakan untuk melihat kecenderungan perilaku peserta didik dalam berbagai situasi.

    Ketiga, aspek tindakan, yaitu kemampuan menerapkan nilai dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah melaksanakan tanggung jawab, menyelesaikan konflik secara baik, menjaga kebersihan, bekerja sama, dan menggunakan media digital secara bijaksana.

    Evaluasi karakter hendaknya dilakukan secara berkelanjutan dan mempertimbangkan konteks. Guru perlu membedakan antara kesalahan yang terjadi sesekali dan pola perilaku yang memerlukan pembinaan khusus. Hasil evaluasi juga perlu disampaikan secara konstruktif agar peserta didik memahami kekuatan dirinya dan mengetahui aspek yang perlu diperbaiki.

    Sekolah dapat menetapkan indikator yang realistis, misalnya meningkatnya ketepatan waktu, berkurangnya kasus perundungan, meningkatnya partisipasi dalam kegiatan sosial, dan membaiknya tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas. Indikator tersebut harus digunakan sebagai bahan refleksi dan perbaikan program, bukan sebagai satu-satunya ukuran kualitas keimanan seseorang.

    Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan karakter terlihat dari proses pertumbuhan yang konsisten. Peserta didik diharapkan semakin mampu memahami nilai yang benar, memilih tindakan yang bertanggung jawab, dan memperbaiki diri ketika melakukan kesalahan.

    I. PENUTUP

    Pendidikan Agama Islam yang berkarakter merupakan kebutuhan mendasar dalam membangun generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab. Pendidikan agama tidak cukup berhenti pada penguasaan materi, hafalan, atau pelaksanaan kegiatan seremonial. Nilai-nilai Islam harus dihayati dan diwujudkan dalam perilaku nyata, baik di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, maupun ruang digital.

    Pembentukan karakter membutuhkan proses yang berkesinambungan. Keteladanan guru, pembiasaan perilaku positif, pembelajaran kontekstual, kegiatan sosial, literasi digital, dan evaluasi yang menyeluruh merupakan strategi penting untuk mengintegrasikan nilai agama dengan kehidupan peserta didik.

    Guru mempunyai peran strategis sebagai pendidik dan teladan, tetapi keberhasilan pendidikan karakter tidak dapat dibebankan kepada guru semata. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan sosial harus membangun kerja sama agar peserta didik memperoleh pesan pendidikan yang konsisten.

    Pendidikan Agama Islam yang berkarakter juga perlu dilaksanakan dengan pendekatan yang manusiawi, adil, dan menghargai perkembangan setiap peserta didik. Kesalahan hendaknya menjadi kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri, sedangkan keberhasilan perlu diperkuat melalui apresiasi dan pembiasaan.

    Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Pendidikan Agama Islam bukan hanya seberapa banyak peserta didik mengetahui ajaran agama, melainkan juga seberapa jauh ajaran tersebut membimbing mereka untuk menjadi manusia yang jujur, disiplin, santun, peduli, adil, dan bertanggung jawab.

    Dengan komitmen bersama dan pelaksanaan yang konsisten, Pendidikan Agama Islam yang berkarakter diharapkan mampu melahirkan generasi yang kokoh imannya, luas ilmunya, luhur akhlaknya, serta memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.



  • Pererat Silaturahmi dan Tingkatkan Kualitas Pelayanan, Kemenag Pesisir Selatan Terima Kunjungan Studi Tiru Kemenag Bukittinggi

    Pesisir Selatan – nrtvnews.com  Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pesisir Selatan menerima kunjungan studi tiru dari Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi di Kantor Kemenag Kabupaten Pesisir Selatan, Senin (26/10/2026).

    Kunjungan ini menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus memperkuat motivasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan, khususnya kepada guru Pendidikan Agama Islam (PAI).

    Kedatangan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi disambut langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pesisir Selatan, H. Yufrizal, didampingi Kasi Pendidikan Agama Islam (Pais), Masrizal, S.Ag., M.Pd.,Tan Malenggang.

    Kunjungan studi tiru ini menjadi kesempatan untuk menjalin komunikasi, berbagi pengalaman, serta memperkuat semangat kebersamaan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai aparatur Kementerian Agama.

    Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun hubungan kerja yang semakin erat antarkantor Kementerian Agama, sekaligus menjadi motivasi untuk terus menghadirkan pelayanan yang optimal, profesional, dan responsif bagi guru Pendidikan Agama Islam.

    Silaturahmi dan pertukaran pengalaman seperti ini menjadi bagian penting dalam membangun semangat kolaborasi serta mendorong peningkatan kualitas layanan pendidikan agama di tengah masyarakat.

    Dengan semangat kebersamaan, Kemenag Kabupaten Pesisir Selatan terus berkomitmen memperkuat sinergi dan meningkatkan mutu pelayanan demi mendukung kemajuan pendidikan agama Islam.( Alpin)



  • Reses Bersama Petani, Teguh Dehalsa Turun Langsung Serap Aspirasi Masyarakat Pesisir Selatan

    Painan – Pesisir Selatan nrtvnews.com Memanfaatkan masa reses untuk mendengar langsung suara masyarakat, Anggota DPRD Kabupaten Pesisir Selatan dari Fraksi Partai NasDem, Teguh Dehalsa, S.H., M.Kn., turun langsung ke tengah masyarakat, khususnya para petani, dalam agenda Reses Masa Sidang I Tahun 2026/2027 yang berlangsung pada 22–27 Oktober 2026.

    Bagi Teguh, masa reses bukan sekadar agenda rutin kedewanan, melainkan kesempatan untuk bertemu, berdialog, dan mendengarkan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di lapangan.

    Kehadirannya bersama para petani menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, harapan, serta berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan kehidupan dan aktivitas pertanian mereka.

    Di tengah keseharian petani yang penuh tantangan, mulai dari proses pengolahan lahan hingga upaya meningkatkan hasil panen, mendengarkan suara mereka menjadi bagian penting dalam menyerap aspirasi yang akan diperjuangkan melalui jalur legislatif.

    Dikenal dekat dengan masyarakat, Teguh memilih memanfaatkan masa reses dengan hadir langsung di tengah warga. Pendekatan ini diharapkan dapat membuka komunikasi yang lebih luas antara wakil rakyat dan masyarakat yang diwakilinya.

    Menurutnya, aspirasi masyarakat perlu didengar secara langsung agar berbagai persoalan yang muncul di lapangan dapat dipahami dengan lebih baik. Dengan begitu, kebutuhan masyarakat, khususnya sektor pertanian, dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai anggota DPRD.

    Bagi para petani, kesempatan menyampaikan aspirasi secara langsung merupakan hal penting. Sebab, berbagai persoalan yang mereka hadapi sehari-hari membutuhkan perhatian dan dukungan agar sektor pertanian dapat terus berkembang.

    Melalui kegiatan reses ini, berbagai masukan dari masyarakat diharapkan dapat dihimpun sebagai bahan evaluasi dan diperjuangkan sesuai kewenangan serta mekanisme yang berlaku.

    Reses Masa Sidang I Tahun 2026/2027 tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara wakil rakyat dan masyarakat. Tidak hanya mendengar aspirasi, tetapi juga membangun komunikasi yang berkelanjutan agar kebutuhan warga dapat tersampaikan dengan baik.

    Bersama petani dan masyarakat, Teguh Dehalsa menjalani masa reses dengan semangat menyerap aspirasi langsung dari lapangan. Sebuah langkah yang menegaskan pentingnya kehadiran wakil rakyat di tengah masyarakat, agar suara warga menjadi bagian dari perhatian dalam pembangunan Kabupaten Pesisir Selatan.

    Dengan turun langsung ke tengah petani, aspirasi masyarakat diharapkan tidak berhenti sebatas penyampaian, tetapi dapat menjadi bahan perjuangan untuk mendorong pembangunan yang lebih sesuai dengan kebutuhan warga.(Alpin)



  • Semangat Bermuhammadiyah Bergelora di Tarusan, Masjid Hidayatullah Dipadati Jemaah Pengajian Muhammadiyah Pesisir Selatan

    Tarusan – Pesisir Selatan nrtvnews.com Semangat bermuhammadiyah terus bergelora di Kecamatan Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan. Hal itu terlihat dari antusiasme warga Muhammadiyah yang memadati Masjid Hidayatullah dalam kegiatan Pengajian Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pesisir Selatan. Kegiatan ini menjadi ajang memperdalam pemahaman keislaman sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga persyarikatan, Minggu 25/10/2026

    Kehadiran jemaah dari berbagai wilayah di Pesisir Selatan mencerminkan kuatnya semangat dakwah, ukhuwah Islamiyah, dan kebersamaan dalam menghidupkan gerakan Muhammadiyah di Ranah Pesisir.

    Pengajian tersebut dihadiri perwakilan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Barat, Buya Yosmeri dan Buya Hendri Novigator. Dari jajaran PDM Pesisir Selatan turut hadir Buya Aprizal, Ustaz Adril Maiyanto, Elpinas, Buya Mardani, Buya Mardianton, Buya Lukman, serta Buya Yuliandri.

    Hadir pula Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Pesisir Selatan, Hj. Nasrida, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tarusan, Buya Adisman, Wali Nagari Nanggalo Buya Andre Saputra, perwakilan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) se-Pesisir Selatan, Wakil Bupati Pesisir Selatan, H. Risnaldi Ibrahim, Camat Tarusan, Nurlaini,  unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimca), tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya.

    Kehadiran jajaran pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah, unsur pemerintah daerah, serta tokoh masyarakat menambah semarak kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan tersebut.

    Dalam kesempatan itu, Buya Yosmeri, perwakilan PWM Sumatera Barat yang juga merupakan Koordinator Lapangan (Korlap) PDM Pesisir Selatan, memberikan motivasi kepada seluruh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) agar terus mendukung dan menyukseskan program-program persyarikatan.

    Ia menekankan pentingnya dukungan bersama terhadap pengembangan berbagai bidang, terutama ekonomi dan pendidikan. Menurutnya, sinergi antara pimpinan dan warga persyarikatan menjadi salah satu kunci untuk memperkuat peran Muhammadiyah dalam memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat.

    Pengajian ini menjadi momentum penting untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, meningkatkan koordinasi antarpimpinan dan warga persyarikatan, serta meneguhkan komitmen dakwah Muhammadiyah di tengah masyarakat.

    Antusiasme jemaah yang memenuhi Masjid Hidayatullah menunjukkan bahwa semangat bermuhammadiyah di Tarusan terus tumbuh dan menyala. Melalui kegiatan pengajian secara berkelanjutan, nilai-nilai Islam, semangat berorganisasi, serta pengabdian kepada umat diharapkan semakin berkembang dan mengakar dalam kehidupan masyarakat.

    Dari Tarusan, semangat dakwah Muhammadiyah terus bergema, menyatukan langkah dan memperkuat komitmen warga persyarikatan untuk berkontribusi bagi agama, bangsa, dan kemaslahatan masyarakat, terutama melalui penguatan bidang pendidikan dan ekonomi.(Alpin)



  • Peduli Dampak Kabut Asap, PDM Pesisir Selatan Bagikan Masker kepada Pengendara dan Pejalan Kaki di Painan

    PAINAN – nrtvnews.com Sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat di tengah kondisi kabut asap yang mengganggu kualitas udara, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pesisir Selatan bersama Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Muhammadiyah Pesisir Selatan menggelar aksi sosial pembagian masker kepada masyarakat di kawasan Bundaran Taman Spora, Painan, Jumat pagi (23/10/2026).

    Aksi kemanusiaan ini menyasar para pengendara kendaraan roda dua dan pejalan kaki yang melintas di kawasan tersebut. Pembagian masker dilakukan sebagai langkah nyata untuk membantu melindungi masyarakat dari paparan kabut asap yang berpotensi mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan.

    Kegiatan ini menjadi wujud kepedulian Muhammadiyah terhadap kondisi lingkungan sekaligus upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan di tengah kualitas udara yang kurang baik.

    Hadir dalam kegiatan tersebut Pimpinan Muhammadiyah Pesisir Selatan, Elpinas, S.Kom., Ketua MPKU Muhammadiyah Pesisir Selatan, Hendri Yanto, A.Md., AN., Sekretaris MPKU, Hegi Aulia, S.E., serta Bendahara MPKU, Suhanda Hakiki, S.H.

    Turut hadir Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tarusan, Adisman, M.Pd., yang didampingi Sekretaris PCM Tarusan, Andri Yunizar, S.E. Kehadiran para pengurus ini menunjukkan komitmen bersama dalam menjalankan aksi sosial yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

    Masyarakat yang menerima masker menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi atas kepedulian PDM Pesisir Selatan bersama MPKU Muhammadiyah. Bantuan sederhana tersebut dinilai sangat bermanfaat, terutama bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah saat kabut asap menyelimuti wilayah tersebut.

    Kabut asap yang berdampak pada kualitas udara menjadi perhatian bersama karena dapat membahayakan kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan. Pembakaran hutan dan lahan yang tidak bertanggung jawab merupakan salah satu sumber pencemaran udara yang perlu dicegah melalui kesadaran dan tindakan nyata semua pihak.

    Melalui kegiatan ini, Muhammadiyah Pesisir Selatan berharap masyarakat semakin peduli terhadap kesehatan diri dan lingkungan. Warga juga diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk serta menggunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel asap.

    Aksi berbagi masker ini bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan juga pesan kemanusiaan bahwa kepedulian terhadap sesama dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang bermanfaat bagi banyak orang.

    Muhammadiyah hadir untuk masyarakat. Di tengah ancaman kabut asap, kepedulian dan gotong royong menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan bersama.(Alpin)



  • Ketua IKADIN Sumbar Imral Adenansi Dorong Lahirnya Advokat Andal dari Ranah Minang

    BALAI SELASA — nrtvmews.com Ketua Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) Sumatera Barat, Imral Adenansi, S.H., M.H., menyosialisasikan IKADIN di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Balai Selasa, Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong lahirnya advokat-advokat andal dari Ranah Minang.

    Dalam sosialisasi tersebut, Imral menegaskan komitmennya untuk membuka akses dan mempermudah para sarjana hukum, baik dari pendidikan hukum umum maupun hukum Islam dan Syariah, agar dapat meniti karier sebagai advokat profesional.

    Menurutnya, latar belakang pendidikan bukanlah penghalang bagi para sarjana hukum untuk mengembangkan kompetensi dan berkiprah di dunia advokat, selama memenuhi persyaratan yang berlaku.

    “Pada prinsipnya, kami ingin mempermudah dan memfasilitasi para sarjana hukum, baik lulusan hukum umum, hukum Islam maupun Syariah, agar bisa menjadi advokat yang handal, profesional, dan berintegritas,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam kegiatan sosialisasi tersebut.

    IKADIN Bidik Pendirian Kantor Hukum dan LBH di Setiap Daerah

    Tak hanya mendorong peningkatan jumlah advokat, Imral juga memiliki gagasan untuk mendirikan kantor hukum dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di setiap daerah di Sumatera Barat.

    Langkah ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi para calon advokat untuk mengembangkan kemampuan, memperluas pengalaman, serta memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat.

    Keberadaan kantor hukum dan LBH di berbagai daerah juga diharapkan mampu memperluas akses masyarakat terhadap layanan dan pendampingan hukum, sekaligus membuka ruang bagi generasi muda Minangkabau untuk berkontribusi dalam penegakan hukum.

    Dengan demikian, IKADIN tidak hanya menjadi organisasi profesi, tetapi juga diharapkan berperan dalam menyiapkan sumber daya manusia di bidang hukum yang berkualitas dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

    Tradisi Diplomasi Minangkabau Jadi Inspirasi

    Imral juga menyoroti potensi masyarakat Minangkabau yang dikenal piawai dalam berunding, membangun komunikasi, dan menjalin lobi. Menurut pandangannya, kemampuan tersebut merupakan modal sosial yang dapat dikembangkan untuk melahirkan advokat-advokat tangguh.

    Ia mengaitkan karakter tersebut dengan kiprah sejumlah tokoh asal Sumatera Barat dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, termasuk dalam bidang diplomasi dan perundingan untuk memperoleh pengakuan kedaulatan Indonesia.

    Tradisi intelektual, kemampuan berkomunikasi, serta kecakapan berdiplomasi dinilai dapat menjadi bekal penting bagi seorang advokat. Sebab, profesi advokat tidak hanya menuntut penguasaan hukum, tetapi juga kemampuan berargumentasi, bernegosiasi, dan memperjuangkan kepentingan klien sesuai koridor hukum.

    Semangat inilah yang ingin didorong melalui sosialisasi IKADIN di STAI Balai Selasa: menjadikan potensi sumber daya manusia Sumatera Barat sebagai kekuatan untuk membangun profesi advokat yang profesional dan berdaya saing.

    Mencetak Advokat Andal, Memperluas Akses Keadilan

    Melalui gagasan pendirian kantor hukum dan LBH di berbagai daerah, Imral berharap semakin banyak sarjana hukum di Sumatera Barat memiliki kesempatan untuk mengembangkan karier sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

    Upaya tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat peran advokat di daerah, memperluas akses terhadap bantuan hukum, serta melahirkan generasi praktisi hukum yang menjunjung tinggi profesionalisme, integritas, dan keadilan.

    Sosialisasi di STAI Balai Selasa pun menjadi momentum untuk memperkenalkan peran IKADIN sekaligus mengajak para sarjana hukum agar berani mengambil bagian dalam profesi advokat dan berkontribusi bagi masyarakat, khususnya di Sumatera Barat.(Alpin)



  • Oleh : Putri Nabila Damayanti, S.H. (Aktivis Pemuda)

    Oleh : Putri Nabila Damayanti, S.H. (Aktivis Pemuda)

    OPINI | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi pengingat pahit bahwa kekayaan alam Indonesia terus menghadapi ancaman serius. Di balik kepulan asap dan hamparan hutan yang hangus, muncul pertanyaan mendasar: apakah hutan terbakar karena faktor alam, atau ada kesengajaan demi kepentingan ekonomi?

    JAKARTA, 22 Oktober 2026 – nrtvnews.com Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan hutan tropis terbesar di dunia. Hutan, savana, serta keanekaragaman flora dan fauna bukan sekadar kekayaan alam, melainkan warisan kehidupan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

    Namun, setiap tahun, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui berbagai wilayah Indonesia. Dari Sumatera hingga Kalimantan, api dapat melalap vegetasi, menghanguskan lahan, dan menghasilkan asap yang mengganggu kehidupan masyarakat.

    Dampaknya tidak berhenti pada rusaknya lingkungan. Asap karhutla dapat memperburuk kualitas udara dan membahayakan kesehatan, terutama bagi bayi, anak-anak, lansia, serta kelompok rentan lainnya. Aktivitas masyarakat pun dapat terganggu, mulai dari kegiatan belajar di sekolah hingga transportasi dan pekerjaan sehari-hari.

    Di tengah situasi tersebut, satwa liar kehilangan habitat, tumbuhan musnah, dan ekosistem yang terbentuk selama bertahun-tahun terancam rusak. Kerugian lingkungan ini tidak selalu dapat dipulihkan dalam waktu singkat.

    Api dan Pertanyaan yang Belum Boleh Diabaikan

    Lantas, mengapa kebakaran hutan terus berulang?

    Faktor alam dan kondisi cuaca, seperti kemarau panjang, suhu tinggi, serta vegetasi yang mengering, dapat meningkatkan risiko kebakaran. Namun, di sisi lain, aktivitas manusia juga dapat menjadi pemicu, termasuk pembukaan lahan dengan cara membakar.

    Karena itu, setiap peristiwa karhutla perlu ditelusuri secara serius. Penyebab kebakaran tidak boleh disimpulkan tanpa penyelidikan dan bukti yang memadai. Jika ditemukan unsur kesengajaan atau pelanggaran hukum, pelakunya harus diproses sesuai ketentuan yang berlaku, tanpa memandang siapa yang berada di baliknya.

    Kecurigaan terhadap praktik pembakaran lahan demi kepentingan perkebunan, termasuk perkebunan kelapa sawit, juga perlu dijawab melalui penegakan hukum yang transparan. Pemeriksaan lapangan, identifikasi titik awal api, serta penelusuran tanggung jawab pihak terkait menjadi bagian penting untuk mengungkap penyebab sebenarnya.

    Sebab, jika pembakaran dilakukan untuk membuka lahan demi keuntungan ekonomi, persoalannya bukan lagi sekadar kebakaran. Ini menyangkut tanggung jawab terhadap lingkungan, keselamatan masyarakat, dan masa depan sumber daya alam Indonesia.

    Siapa yang Menanggung Dampaknya?

    Ketika hutan terbakar, masyarakat menjadi salah satu pihak yang paling cepat merasakan akibatnya. Mereka harus menghadapi udara yang tercemar, aktivitas yang terganggu, serta ancaman terhadap kesehatan dan mata pencaharian.

    Sementara itu, kerusakan hutan juga membawa dampak yang lebih luas. Hilangnya habitat satwa, rusaknya keseimbangan ekosistem, dan meningkatnya emisi akibat kebakaran menjadi persoalan yang melampaui batas wilayah administratif.

    Kabut asap yang melintasi perbatasan negara bahkan dapat memicu persoalan regional dan tuntutan kerja sama antarnegara. Kondisi ini menegaskan bahwa penanganan karhutla bukan hanya soal memadamkan api, tetapi juga mencegah kebakaran berulang dan memastikan pihak yang bertanggung jawab tidak luput dari pemeriksaan.

    Jangan Biarkan Hutan Berakhir Menjadi Abu

    Pencegahan karhutla membutuhkan komitmen bersama. Pemerintah perlu memperkuat pengawasan, meningkatkan kesiapsiagaan di wilayah rawan kebakaran, serta menindak tegas pelanggaran yang terbukti. Perusahaan harus menjalankan kewajiban perlindungan lingkungan, sementara masyarakat perlu mendapat dukungan dan edukasi agar turut mencegah kebakaran.

    Yang tidak kalah penting, penanganan karhutla harus dilakukan secara terbuka dan berbasis bukti. Setiap kebakaran perlu diungkap penyebabnya, setiap dugaan pelanggaran harus diperiksa, dan setiap tindakan yang terbukti melanggar hukum harus dipertanggungjawabkan.

    Hutan bukan sekadar hamparan hijau yang dapat dikorbankan demi keuntungan sesaat. Di dalamnya terdapat sumber kehidupan, rumah bagi keanekaragaman hayati, dan penyangga lingkungan bagi jutaan manusia.

    Karena itu, pertanyaan “hutan terbakar atau sengaja dibakar?” tidak boleh berhenti sebagai slogan. Pertanyaan tersebut harus menjadi dorongan untuk mengungkap fakta, memperkuat pengawasan, dan memastikan keadilan bagi lingkungan serta masyarakat yang terdampak.

    Hutan adalah warisan kehidupan, bukan untuk diwariskan dalam bentuk abu.



  • Waka Polres Pessel Kompol Syafrizen Turun Langsung Bersihkan Pohon Tumbang di Jalan Teratak Sutera, Lanjut Melayat dan Lepas Jenazah Warga

    Pesisir Selatan – nrtvnews.com Kepedulian terhadap masyarakat kembali ditunjukkan Wakapolres Pesisir Selatan, Kompol Syafrizen, S.H., Datuk Rang Batuah. Saat dalam perjalanan untuk melayat ke rumah duka, ia mendapati sebuah pohon tumbang yang menghalangi badan jalan di kawasan Jalan Teratak Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Selasa 20/10/2026

    Melihat kondisi tersebut, Kompol Syafrizen tidak tinggal diam. Bersama masyarakat setempat, ia turun langsung membantu membersihkan pohon tumbang yang menghambat arus lalu lintas.

    Berkat kerja sama dan semangat gotong royong antara polisi dan masyarakat, proses pembersihan berlangsung sekitar satu jam. Setelah pohon berhasil disingkirkan, jalan yang sebelumnya terhalang akhirnya kembali dapat dilalui dengan lancar.

    Alhamdulillah, dalam peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa.

    Aksi ini menjadi gambaran nyata bahwa kehadiran polisi di tengah masyarakat bukan hanya dalam menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga memberikan bantuan secara langsung ketika warga menghadapi kesulitan.

    Lanjut Melayat, Sampaikan Pesan Kehidupan Saat Pelepasan Jenazah

    Usai membantu membersihkan pohon tumbang, Kompol Syafrizen melanjutkan perjalanan untuk melayat ke rumah duka di Kampung Cupak, Kenagarian Lakitan Utara, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan.

    Kedatangannya untuk menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya almarhum Edi, berusia 63 tahun, yang meninggal dunia karena sakit.

    Dalam kesempatan tersebut, Kompol Syafrizen juga memberikan ceramah dan menyampaikan arahan saat prosesi pelepasan jenazah sebelum dimakamkan.

    Di hadapan keluarga dan masyarakat yang hadir, ia mengajak semua pihak menjadikan kepergian almarhum sebagai pelajaran berharga dalam kehidupan.

    Ia mengingatkan bahwa kematian merupakan kepastian bagi setiap manusia. Karena itu, kepergian seseorang hendaknya menjadi guru iktibar bagi mereka yang masih diberi kesempatan hidup untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal kebaikan, serta mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.

    “Kepergian almarhum hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa setiap manusia pada akhirnya akan menghadapi kematian. Hari ini kita melepas saudara kita, dan suatu saat nanti kita pun akan menunggu giliran. Selagi masih diberi umur dan kesempatan, mari kita perbanyak berbuat baik, memperbaiki diri, serta meninggalkan jejak kebaikan bagi sesama,” demikian pesan yang disampaikan dalam arahan tersebut.

    Suasana pelepasan jenazah menjadi momen untuk merenungkan kembali arti kehidupan, kebersamaan, dan pentingnya berbuat baik kepada sesama.

    Hadir Membantu, Hadir Menguatkan

    Dua peristiwa dalam satu perjalanan tersebut memperlihatkan pentingnya kepedulian sosial, semangat gotong royong, dan kedekatan antara aparat kepolisian dengan masyarakat.

    Di satu sisi, membantu menyingkirkan pohon tumbang merupakan tindakan nyata untuk memulihkan akses jalan dan mencegah hambatan lalu lintas berlarut-larut. Di sisi lain, kehadiran di rumah duka menjadi bentuk empati sekaligus kesempatan menyampaikan pesan moral kepada masyarakat.

    Kehadiran Kompol Syafrizen di tengah masyarakat diharapkan semakin mempererat hubungan antara kepolisian dan warga, serta menumbuhkan semangat saling membantu dalam menghadapi berbagai situasi.

    Dari jalan yang kembali terbuka hingga prosesi pelepasan jenazah yang penuh makna, tersampaikan satu pesan sederhana: selagi masih diberi kesempatan hidup, hendaknya kita hadir membawa manfaat, menebar kebaikan, dan saling menguatkan.(Alpin)



  • Waka Polres Pesisir Selatan Kompol Syafrizen Ajak Masyarakat Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas: Jauhi Narkoba, Judi Online, dan Tawuran

    PAINAN — nrtvnews.com Wakil Kepala Kepolisian Resor (Waka Polres) Pesisir Selatan, Kompol Syafrizen, S.H.,yang dikenal dengan gelar Datuk Rang Batuah atau Ustd Zen Hoki (UZH), mengajak masyarakat memperkuat kepedulian dan kebersamaan dalam menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat (kamtibmas).

    Pesan tersebut disampaikan dalam tausiah keagamaan di Masjid Agung Al Amilin, Painan, menjelang pelaksanaan salat Magrib berjamaah. Dalam ceramahnya, Kompol Syafrizen menegaskan bahwa keamanan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab kepolisian, melainkan tugas bersama yang membutuhkan peran aktif seluruh lapisan masyarakat, Selasa 20/10/2026

    Menurutnya, hubungan yang harmonis antara polisi dan masyarakat merupakan fondasi penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan kondusif di Kabupaten Pesisir Selatan.

    “Keamanan bukan hanya tugas polisi, tetapi tanggung jawab kita bersama. Mari kita jaga keluarga, kita jaga kampung, dan kita jaga anak kemenakan,” menjadi pesan utama yang ditekankannya dalam tausiah tersebut.

    Keamanan dan kepedulian sebagai bagian dari ibadah

    Di hadapan jemaah, Kompol Syafrizen mengingatkan bahwa menjaga keamanan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan penegakan hukum, tetapi juga merupakan bagian dari amal kebaikan yang sejalan dengan ajaran Islam.

    Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Ma’idah ayat 2 yang berbunyi, “Wa ta‘āwanū ‘alal-birri wat-taqwā,” yang berarti, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa.”

    Menurutnya, nilai tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling membantu, melindungi sesama, mencegah kejahatan, serta menjaga lingkungan dari berbagai perilaku yang dapat merugikan masyarakat.

    Kompol Syafrizen juga menekankan pentingnya membangun kepercayaan antara kepolisian dan masyarakat. Polisi membutuhkan dukungan warga dalam menjaga keamanan, sementara masyarakat membutuhkan kehadiran polisi untuk memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan.

    Dengan komunikasi yang baik serta kepedulian bersama, berbagai potensi gangguan keamanan diharapkan dapat dicegah sejak dini.

    Narkoba, judi online, dan tawuran menjadi perhatian bersama

    Dalam tausiahnya, Kompol Syafrizen turut mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap sejumlah persoalan sosial yang dapat mengancam masa depan generasi muda, terutama penyalahgunaan narkoba, perjudian daring atau judi online, serta kenakalan remaja dan tawuran.

    Ia mengajak para orang tua untuk lebih memperhatikan pergaulan anak-anak mereka, membangun komunikasi yang terbuka dalam keluarga, dan tidak mengabaikan perubahan perilaku yang patut diwaspadai.

    Penyalahgunaan narkoba, katanya, bukan hanya merusak kesehatan dan akal, tetapi juga dapat menghancurkan masa depan seseorang serta mengganggu keharmonisan keluarga.

    Sementara itu, judi online dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kerugian finansial, lilitan utang, konflik rumah tangga, hingga berpotensi mendorong terjadinya tindak pidana.

    Karena itu, masyarakat diingatkan agar tidak mudah tergiur janji memperoleh kekayaan secara instan. Rezeki yang baik dan berkah harus diupayakan melalui jalan yang halal, kerja keras, serta usaha yang bertanggung jawab.

    Terkait kenakalan remaja dan tawuran, Kompol Syafrizen mengajak masyarakat untuk tidak semata-mata memandang anak-anak yang terlibat sebagai sumber masalah. Sebaliknya, mereka perlu mendapatkan perhatian, pendampingan, dan pembinaan agar dapat tumbuh menjadi generasi yang lebih baik.

    Ia mendorong keluarga, tokoh masyarakat, dan lingkungan sekitar untuk mengarahkan generasi muda pada kegiatan positif, seperti pendidikan keagamaan, olahraga, kegiatan kepemudaan, dan aktivitas sosial yang bermanfaat.

    Tungku Tigo Sajarangan, kekuatan sosial masyarakat Minangkabau

    Mengangkat kearifan lokal Minangkabau, Kompol Syafrizen mengingatkan pentingnya falsafah Tungku Tigo Sajarangan sebagai landasan memperkuat kehidupan bermasyarakat.

    Falsafah tersebut mencerminkan peran tiga unsur penting dalam masyarakat Minangkabau, yakni ninik mamak, alim ulama, dan cadiak pandai.

    Ninik mamak memiliki peran membimbing anak kemenakan melalui nilai-nilai adat. Alim ulama membina umat berdasarkan ajaran agama, sedangkan cadiak pandai memberikan pandangan dan solusi melalui ilmu pengetahuan serta pengalaman.

    Menurutnya, apabila ketiga unsur tersebut bersinergi dengan pemerintah, TNI-Polri, pemuda, dan seluruh elemen masyarakat, berbagai persoalan sosial akan lebih mudah dihadapi melalui pendekatan yang bijaksana dan mengedepankan musyawarah.

    Nilai adat dan agama, lanjutnya, merupakan kekuatan penting yang harus terus dijaga untuk membangun masyarakat yang berkarakter, saling menghormati, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

    Sinergi tersebut juga menjadi modal sosial dalam mencegah konflik, memperkuat persaudaraan, serta menciptakan suasana kehidupan yang tenteram di Kabupaten Pesisir Selatan.

    Menghormati hukum dan menghindari tindakan main hakim sendiri

    Selain mengajak masyarakat berperan aktif menjaga keamanan, Kompol Syafrizen mengingatkan pentingnya menaati hukum, menghormati hak orang lain, dan tidak menyelesaikan persoalan dengan kekerasan.

    Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

    “Al-muslimu man salimal-muslimūna min lisānihi wa yadih.”

    Artinya, “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

    Pesan tersebut menjadi pengingat agar setiap orang menjaga ucapan, perilaku, dan tindakannya sehingga tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain.

    Masyarakat juga diimbau untuk tidak mudah terprovokasi, menghindari penyebaran fitnah, serta mengedepankan dialog dan musyawarah dalam menyelesaikan perselisihan.

    Apabila menemukan dugaan tindak pidana atau potensi gangguan keamanan, warga diharapkan menempuh jalur yang benar dengan menyampaikan informasi kepada pihak berwenang, bukan mengambil tindakan sendiri yang justru dapat memperkeruh keadaan.

    Tiga pesan untuk menjaga Pesisir Selatan

    Menjelang akhir tausiah, Kompol Syafrizen menyampaikan tiga pesan utama yang diharapkan dapat diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

    Pertama, menjaga keluarga, dengan memberikan perhatian kepada anak-anak, menjauhkan mereka dari narkoba dan judi online, serta membimbing mereka agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang merusak.

    Kedua, menjaga kampung, melalui semangat gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, dan kegiatan keamanan lingkungan atau siskamling sesuai kebutuhan setempat.

    Ketiga, menjaga persaudaraan, dengan memperkuat nilai agama, melestarikan adat, mengedepankan musyawarah, dan menaati hukum yang berlaku.

    Ia menegaskan bahwa ketiga hal tersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Diperlukan keterlibatan keluarga, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, pemerintah, kepolisian, dan seluruh masyarakat agar upaya menjaga keamanan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

    Dalam kesempatan itu, ia juga mengajak masyarakat menghidupkan semangat kebersamaan melalui seruan, “Salam Polisi, Polisi Bersama Masyarakat!”

    Seruan tersebut mencerminkan pentingnya membangun kemitraan yang kuat antara kepolisian dan warga. Keduanya bukan pihak yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan mitra yang memiliki tujuan bersama untuk menjaga keselamatan, ketenteraman, dan masa depan generasi bangsa.

    Berharap Pesisir Selatan aman, damai, dan diberkahi

    Menutup tausiahnya, Kompol Syafrizen menyampaikan pantun bernuansa Minangkabau sebagai pengingat akan pentingnya persatuan:

    Siriah sakapua jo pinang sabuah,

    Dibao urang ka rumah gadang.

    Kalau polisi jo masyarakat basatu langkah,

    Pessel aman, masyarakat sanang.

    Ia juga menyampaikan pantun yang mengajak seluruh masyarakat menjaga Ranah Pesisir Selatan agar senantiasa berada dalam suasana aman, damai, dan penuh keberkahan.

    Tausiah tersebut ditutup dengan doa agar Allah SWT senantiasa melindungi Kabupaten Pesisir Selatan beserta seluruh masyarakatnya, membimbing generasi muda, serta memberikan kekuatan kepada personel Polri dalam menjalankan tugas dengan amanah.

    Melalui pesan keagamaan yang dipadukan dengan nilai adat dan semangat kemitraan, Kompol Syafrizen berharap tumbuh kesadaran bersama bahwa keamanan merupakan tanggung jawab yang harus dirawat setiap hari.

    Dengan iman, adat, kepedulian, dan kerja sama antara polisi dan masyarakat, Pesisir Selatan diharapkan semakin aman, damai, dan diberkahi Allah SWT.

    “Jaga keluarga, jaga kampung, dan jaga anak kemenakan. Ketika polisi dan masyarakat bersatu, keamanan bukan hanya menjadi harapan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama yang diwujudkan dalam tindakan nyata.”(Alpin)



  • Camat Koto XI Tarusan Bersama Forkopimca Turun Langsung Pantau Pilwana di 10 Nagari, Kedepankan Kedamaian dan Nilai Adat

    Tarusan- Pesisir Selatan  nrtvnews.com Camat Koto XI Tarusan, Nurlaini, S.E., M.Si., bersama Kapolsek Tarusan, Iptu Irfan Chandra, S.H., dan Danramil Tarusan melakukan monitoring pelaksanaan Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) di wilayah Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Selasa 20/10/2026

    Monitoring ini dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan Pilwana hingga hari pemilihan berjalan kondusif, aman, damai, dan bermartabat, dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai adat serta agama yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Minangkabau.

    Kehadiran unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimca) di tengah masyarakat merupakan bagian dari upaya membangun suasana demokrasi yang sehat, sekaligus memastikan pelaksanaan pesta demokrasi tingkat nagari berlangsung tertib dan mengedepankan semangat kebersamaan.

    Libatkan Seluruh Unsur Masyarakat, Perkuat Persatuan

    Dalam upaya menyukseskan Pilwana, Camat Koto XI Tarusan bersama Forkopimca tidak hanya mengedepankan koordinasi pemerintahan dan keamanan, tetapi juga melibatkan berbagai unsur masyarakat.

    Tokoh masyarakat, ninik mamak, ulama, cadiak pandai, Bundo Kanduang, serta kalangan pemuda dan pemudi turut menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi dan menjaga suasana tetap sejuk selama proses pemilihan berlangsung.

    Pelibatan berbagai unsur ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat rasa tanggung jawab bersama. Sebab, keberhasilan Pilwana bukan hanya ditentukan oleh penyelenggara dan aparat keamanan, melainkan juga oleh kedewasaan masyarakat dalam menyikapi perbedaan pilihan.

    Peran ninik mamak dan tokoh adat sangat penting dalam merawat persatuan di tengah kaum dan nagari. Begitu pula ulama yang mengingatkan pentingnya menjaga akhlak, menghindari fitnah, serta tidak menjadikan perbedaan pilihan sebagai alasan untuk merusak hubungan persaudaraan.

    Sementara itu, generasi muda diharapkan mampu menjadi pelopor demokrasi yang santun, cerdas, dan bertanggung jawab, termasuk dalam menggunakan media sosial agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

    Pilwana Damai, Demokrasi Bermartabat

    Pemilihan Wali Nagari merupakan momentum penting bagi masyarakat untuk menentukan pemimpin yang akan menjalankan pemerintahan dan pelayanan di tingkat nagari. Karena itu, proses pemilihan perlu dijaga agar berlangsung secara tertib, transparan, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    Masyarakat diharapkan dapat menggunakan hak pilih dengan bijak, menghormati pilihan orang lain, serta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memecah belah persatuan.

    Dalam tradisi masyarakat Minangkabau, nilai adat dan agama memiliki peran besar dalam menjaga keharmonisan kehidupan bersama. Semangat musyawarah, saling menghormati, dan menjaga hubungan silaturahmi perlu terus dikedepankan, baik sebelum maupun sesudah pemilihan.

    Siapa pun yang nantinya memperoleh amanah sebagai wali nagari, seluruh elemen masyarakat diharapkan tetap menjaga kebersamaan demi kelanjutan pembangunan dan kemajuan nagari.

    Sinergi Bersama untuk Kesuksesan 10 Nagari

    Monitoring yang dilakukan Camat Koto XI Tarusan bersama Forkopimca dan berbagai unsur masyarakat ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk mengawal pelaksanaan Pilwana di 10 nagari di wilayah Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan.

    Sinergi antara pemerintah kecamatan, TNI-Polri, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat diharapkan mampu menciptakan suasana pemilihan yang aman dan nyaman bagi seluruh warga.

    Lebih dari sekadar memilih pemimpin, Pilwana merupakan kesempatan untuk memperkuat demokrasi dari tingkat paling dekat dengan masyarakat. Proses yang berjalan damai akan menjadi modal sosial penting bagi pemerintahan nagari dalam menjalankan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat ke depan.

    Dengan mengedepankan semangat kebersamaan, nilai adat, dan ajaran agama, pelaksanaan Pilwana di Koto XI Tarusan diharapkan dapat berlangsung dengan baik, tanpa mengorbankan persaudaraan dan persatuan masyarakat.(Alpin)



  • Diskusi Santai Sambil Menikmati Teh Talua, Nof Erika Bahas Peran Niniak Mamak dalam Mendukung Pembangunan Pesisir Selatan

    Tarusan – Pesisir Selatan  nrtvnews.com Secangkir teh talua (teh telur) menjadi teman dalam sebuah diskusi santai yang sarat makna di Kantor Pengacara Tribrata Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan. Bersama Nof Erika, S.HI., C.Med., CPT, sejumlah tokoh dan praktisi berdiskusi tentang persoalan hukum, tantangan pembangunan daerah, serta pentingnya peran Niniak Mamak dalam menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat, Senin malam 19/10/2026

    Diskusi tersebut dihadiri Elpinas, S.Kom., Primadoni, S.H., Andri Yunizar, S.E., Deavy Masyari, S.T., Adisman, M.Pd., serta tim pengacara lainnya.

    Suasana pertemuan berlangsung santai dan terbuka. Namun, topik yang dibahas menyentuh persoalan penting yang kerap dihadapi masyarakat, terutama ketika persoalan hukum, kepentingan pembangunan, dan aturan adat saling berkaitan.

    Memahami Persoalan Hukum agar Pembangunan Tidak Terhambat

    Dalam diskusi tersebut, Nof Erika memaparkan secara terperinci berbagai persoalan hukum yang berpotensi menjadi hambatan dalam pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Pesisir Selatan.

    Menurut pembahasan yang berkembang, persoalan di tengah masyarakat perlu dipahami sejak awal agar tidak berlarut-larut dan menimbulkan dampak yang lebih luas. Terlebih, dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, persoalan tanah, batas kepemilikan, hak kaum, serta kepentingan bersama sering kali membutuhkan pendekatan yang tidak hanya mempertimbangkan aspek hukum formal, tetapi juga memahami nilai-nilai adat.

    Nof Erika menekankan pentingnya musyawarah dan peran Niniak Mamak sebagai bagian dari upaya mencari jalan keluar atas berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat.

    Penyelesaian melalui musyawarah dapat membuka ruang dialog bagi pihak-pihak yang berkepentingan untuk menyampaikan pandangan, memahami duduk persoalan, dan mencari solusi yang dapat diterima bersama, sepanjang tetap sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

    Dengan demikian, persoalan yang berpotensi menghambat pembangunan diharapkan dapat ditangani secara bijak, terukur, dan tidak menimbulkan konflik berkepanjangan.

    Niniak Mamak, Penjaga Adat sekaligus Jembatan Penyelesaian Persoalan Kaum

    Dalam tatanan masyarakat Minangkabau, Niniak Mamak memiliki posisi penting dalam membimbing anak kemenakan, menjaga nilai adat, serta membantu menyelesaikan persoalan yang terjadi di dalam kaum.

    Peran ini menjadi semakin strategis ketika masyarakat berhadapan dengan persoalan yang menyangkut kepentingan bersama, termasuk persoalan yang berkaitan dengan pembangunan.

    Niniak Mamak diharapkan mampu menjadi penengah yang bijaksana, mengedepankan kepentingan bersama, serta mendorong penyelesaian masalah melalui dialog dan mufakat.

    Meski demikian, penyelesaian secara adat tetap perlu berjalan beriringan dengan hukum yang berlaku. Musyawarah bukan sekadar mencari kesepakatan, melainkan juga memastikan bahwa hak setiap pihak dihormati dan keputusan yang diambil tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

    Pendekatan inilah yang dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat Pesisir Selatan untuk menjaga keharmonisan sekaligus mendukung pembangunan daerah.

    Deavy Masyari, Semua Unsur Masyarakat Memiliki Peran Strategis

    Sementara itu, Deavy Masyari, S.T., menyampaikan pandangannya secara lugas mengenai pentingnya keterlibatan seluruh unsur masyarakat dalam mengambil keputusan.

    Menurutnya, masyarakat, Niniak Mamak, tokoh masyarakat, Cadiak Pandai, ulama, Bundo Kanduang, dan generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga kehidupan sosial yang harmonis.

    Setiap unsur masyarakat mempunyai kapasitas dan sudut pandang yang berbeda. Jika seluruh potensi tersebut dirangkul dengan baik, berbagai persoalan dapat dibicarakan secara lebih terbuka dan keputusan yang diambil bisa mempertimbangkan kepentingan yang lebih luas.

    Masyarakat membutuhkan pemimpin informal dan tokoh yang mampu membaca situasi, memahami persoalan, serta menimbang dampak dari setiap keputusan. Karena itu, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan mengambil keputusan menjadi kunci agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi pertentangan yang merugikan masyarakat sendiri.

    Deavy juga menyoroti pentingnya membangun komunikasi yang baik antarelemen masyarakat. Dengan komunikasi yang terbuka, persoalan dapat diidentifikasi lebih dini, kesalahpahaman dapat dikurangi, dan jalan penyelesaian dapat dicari sebelum masalah semakin besar.

    Pembangunan Membutuhkan Kepastian Hukum dan Kearifan Lokal

    Diskusi di Kantor Pengacara Tribrata tersebut memberikan gambaran bahwa pembangunan daerah bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan anggaran, infrastruktur, atau perencanaan teknis. Pembangunan juga membutuhkan dukungan masyarakat, kepastian hukum, dan kemampuan menyelesaikan persoalan secara adil.

    Ketika persoalan hukum dan adat tidak ditangani dengan baik, proses pembangunan berpotensi menghadapi hambatan. Sebaliknya, jika komunikasi, musyawarah, dan pemahaman hukum dibangun sejak awal, berbagai potensi konflik dapat diantisipasi.

    Dalam konteks ini, kolaborasi antara praktisi hukum, Niniak Mamak, tokoh masyarakat, pemerintah, dan unsur masyarakat lainnya menjadi penting. Masing-masing pihak dapat mengambil peran sesuai kewenangan dan tanggung jawabnya.

    Pemahaman hukum juga perlu terus diperkuat agar masyarakat mengetahui hak dan kewajibannya. Dengan begitu, penyelesaian persoalan tidak semata-mata bertumpu pada kebiasaan atau pendapat pribadi, tetapi juga mempertimbangkan aturan hukum dan prinsip keadilan.

    Dari Secangkir Teh Talua, Lahir Gagasan untuk Kemajuan Daerah

    Pertemuan yang berlangsung dalam suasana santai tersebut menjadi pengingat bahwa diskusi bermakna tidak selalu harus berlangsung dalam forum resmi. Percakapan sederhana, jika diisi dengan pertukaran gagasan dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat, dapat menjadi ruang untuk

    melahirkan pemikiran yang bermanfaat.

    Di tengah tantangan pembangunan Pesisir Selatan, semangat musyawarah, penghormatan terhadap adat, dan pemahaman hukum merupakan modal penting untuk membangun masyarakat yang lebih harmonis.

    Pada akhirnya, pembangunan yang baik bukan hanya tentang apa yang dibangun, tetapi juga bagaimana prosesnya dijalankan, bagaimana hak masyarakat dihormati, dan bagaimana persoalan diselesaikan secara bijaksana.

    Secangkir teh talua mungkin menjadi

    suguhan sederhana dalam pertemuan tersebut. Namun, pesan yang mengemuka cukup besar, kemajuan daerah membutuhkan kebersamaan, kepastian hukum, kearifan adat, dan keputusan yang mengutamakan kepentingan masyarakat luas.( Alpin)



  • Kelompok Nelayan Sabai Nan Aluih Kapuh Tarusan Berdiskusi dengan Penyuluh Perikanan, Bahas Potensi Budidaya Ikan Nila dan Lele

    Kapuh Tarusan – Pesisir Selatan  nrtvnews.com Kelompok Nelayan Sabai Nan Aluih, Kapuh Tarusan menggelar diskusi bersama penyuluh perikanan untuk membahas peluang pengembangan usaha budidaya ikan air tawar, khususnya ikan nila dan lele. Diskusi berlangsung penuh antusias dengan fokus pada pemilihan lokasi yang tepat serta ketersediaan sumber air yang mengalir dengan baik sebagai faktor penting keberhasilan budidaya, Senin 19/10/2026

    Kegiatan ini dihadiri oleh Nasirman dari BPP SDM Penyuluh Perikanan Tarusan dan Roni Hendrawan selaku penyuluh perikanan. Turut hadir anggota Kelompok Nelayan Sabai Nan Aluih, yakni Primadoni, Elpinas, Andri Yunizar, Anwir Rialis, Deavy, Jon, Adisman, Syafriyon, Ujang, Robi, dan Anton serta tim penyuluhan lainnya.

    Dalam diskusi tersebut, para peserta membahas berbagai hal terkait pengembangan budidaya ikan nila dan lele, mulai dari penentuan lokasi yang sesuai, kondisi lingkungan, hingga pentingnya aliran air yang baik untuk menunjang pertumbuhan ikan.

    Suasana diskusi berlangsung seru dan interaktif. Para anggota kelompok nelayan menunjukkan ketertarikan terhadap peluang budidaya ikan air tawar yang dinilai dapat menjadi salah satu alternatif usaha produktif bagi masyarakat setempat.

    Pemilihan lokasi menjadi salah satu perhatian utama. Ketersediaan air yang cukup, kualitas lingkungan, serta aliran air yang lancar merupakan sejumlah aspek penting yang perlu diperhatikan agar kegiatan budidaya dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.

    Sabai Nan Aluih  Menyimpan Sejarah dan Potensi Alam

    Selain membahas peluang budidaya perikanan, Sabai Nan Aluih di Kapuh Tarusan juga dikenal memiliki nilai sejarah dan potensi alam yang menarik.

    Kawasan ini lekat dengan kisah legendaris Sabai Nan Aluih. Di wilayah tersebut terdapat Pemandian Putri Tujuh dan embung air yang memiliki aliran air, yang menjadi bagian dari kekayaan alam setempat.

    Sabai Nan Aluih juga memiliki tiga bukit yang dikenal masyarakat, yaitu Bukit Lolong, Bukit Sabai Nan Aluih, dan Bukit Padendangan. Keberadaan bentang alam tersebut menambah kekhasan kawasan yang menyimpan potensi untuk dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kearifan lokal masyarakat.

    Dengan kondisi alam yang memiliki sumber air serta lingkungan perbukitan, kawasan ini berpotensi untuk dikaji lebih lanjut sebagai lokasi pengembangan budidaya ikan air tawar. Namun, kelayakan lokasi tetap perlu ditentukan melalui penilaian teknis, terutama terkait kualitas dan debit air, kondisi lahan, serta kebutuhan sarana budidaya.

    Mendorong Kemandirian dan Ekonomi Masyarakat

    Diskusi antara Kelompok Nelayan Sabai Nan Aluih dan penyuluh perikanan ini menjadi langkah awal untuk menggali peluang usaha yang sesuai dengan potensi wilayah. Melalui pertukaran gagasan dan pendampingan penyuluh, kelompok diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik sebelum mengembangkan budidaya ikan nila dan lele.

    Pengembangan budidaya perikanan yang direncanakan secara matang diharapkan dapat membuka peluang usaha baru, meningkatkan produktivitas masyarakat, serta mendukung perekonomian lokal di Kapuh Tarusan.

    Potensi alam yang berpadu dengan semangat kebersamaan masyarakat menjadi modal penting bagi Sabai Nan Aluih untuk terus menggali peluang pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal.

    Dari diskusi, lahir gagasan. Dari potensi alam, terbuka peluang. Kelompok Nelayan Sabai Nan Aluih Kapuh Tarusan kini menggali langkah untuk mengembangkan budidaya ikan air tawar yang produktif dan berkelanjutan.(Alpin)