Author: alpin


  • Sekda Arry Yuswandi Gagas SAPILIN, Satukan Sistem Penanggulangan Bencana di Sumbar

    PADANG — nrtvnews.com Ketika bencana terjadi, waktu menjadi sangat berharga. Dalam hitungan jam, bahkan menit, pemerintah harus mengetahui siapa yang terdampak, wilayah mana yang paling membutuhkan bantuan, jalur mana yang masih bisa dilalui, serta fasilitas kesehatan dan sumber daya apa yang masih tersedia.

    Masalahnya, penanganan bencana melibatkan banyak pihak dengan data, kewenangan, dan sistem kerja yang berbeda.

    Kondisi inilah yang mendorong Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat, Arry Yuswandi, menggagas SAPILIN (Sistem Penanggulangan Bencana Terintegrasi).

    SAPILIN dirancang untuk memperkuat keterhubungan antarlembaga dalam penanggulangan bencana, mulai dari data, koordinasi, respons darurat hingga pemulihan.

    Gagasannya sederhana: penanganan bencana tidak cukup jika banyak pihak bekerja sendiri-sendiri. Semua pihak harus bergerak dalam satu sistem.

    Semangat itu dirangkum dalam empat prinsip utama: Satu Data, Satu Koordinasi, Satu Tujuan, Satu Ketahanan.

    Bencana Berdampak ke Banyak Sektor

    Sumatera Barat memiliki karakter geografis yang membuat risiko bencana menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah.

    Gempa bumi dan tsunami, erupsi gunung api, banjir, banjir bandang, tanah longsor serta berbagai bencana hidrometeorologi menjadi ancaman yang harus diantisipasi.

    Dampaknya pun tidak berhenti pada satu sektor.

    Ketika jalan dan jembatan rusak, distribusi logistik ikut terganggu. Jika jaringan listrik dan air bersih bermasalah, pelayanan dasar ikut terdampak. Kerusakan lahan pertanian dapat memukul mata pencaharian masyarakat. Sekolah, puskesmas, pasar dan pusat kegiatan ekonomi juga bisa berhenti beroperasi.

    Karena itu, penanggulangan bencana membutuhkan kerja yang terhubung sejak sebelum bencana terjadi.

    SAPILIN tidak diarahkan untuk membentuk struktur pemerintahan baru. Sistem ini justru dimaksudkan untuk memperkuat hubungan dan koordinasi antarsistem serta antarlembaga yang selama ini sudah berjalan.

    Satu Data untuk Satu Keputusan

    Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan bencana adalah data yang tersebar di berbagai instansi.

    Perangkat daerah memiliki data sesuai kewenangannya. Pemerintah kabupaten dan kota memiliki informasi berdasarkan kondisi wilayah masing-masing. Instansi vertikal, perguruan tinggi, dunia usaha hingga organisasi lainnya juga memiliki informasi yang dibutuhkan dalam kondisi darurat.

    Persoalannya muncul ketika seluruh informasi tersebut harus digunakan secara bersamaan.

    Dalam situasi krisis, sejumlah pertanyaan menjadi sangat menentukan.

    Berapa jumlah warga yang terdampak? Di mana lokasi yang paling membutuhkan pertolongan? Jalur mana yang masih dapat dilalui? Fasilitas kesehatan mana yang masih berfungsi? Berapa sumber daya yang tersedia? Wilayah mana yang harus diprioritaskan?

    Jika data yang digunakan berbeda, keputusan yang diambil pun berpotensi berbeda.

    Karena itu, SAPILIN mendorong penguatan Satu Data Bencana Daerah, sehingga informasi dari berbagai sektor dapat terhubung, diperbarui dan digunakan sebagai rujukan bersama.

    Tujuannya bukan sekadar memiliki data sebanyak-banyaknya, tetapi memastikan para pengambil keputusan memiliki gambaran situasi yang sama ketika harus bertindak cepat.

    Teknologi Bukan Sekadar Aplikasi

    Pemanfaatan teknologi menjadi bagian penting dalam pengembangan SAPILIN.

    Berbagai instrumen yang telah dimiliki Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, termasuk Dashboard Kebencanaan dan Sumbar Bangkit, dapat dioptimalkan untuk membantu membaca kondisi lapangan, memetakan kebutuhan, memantau penanganan serta melihat perkembangan pemulihan.

    Namun, SAPILIN tidak berhenti pada pembangunan atau penggunaan aplikasi.

    Teknologi hanya akan efektif jika didukung sistem kerja yang jelas.

    Karena itu, penguatan mekanisme koordinasi lintas sektor juga menjadi bagian penting, termasuk melalui Tim Reaksi Cepat dan klaster kebencanaan.

    Setiap pihak harus mengetahui perannya. Siapa yang melakukan tindakan tertentu, melalui jalur mana informasi disampaikan, di mana sumber daya tersedia dan ke lokasi mana dukungan harus digerakkan.

    Dengan pola tersebut, koordinasi tidak lagi baru dibangun ketika bencana terjadi. Koordinasi harus sudah disiapkan sebelum keadaan darurat datang.

    Dari Respons Menuju Ketahanan

    SAPILIN juga membawa cara pandang bahwa penanggulangan bencana bukan semata-mata persoalan merespons ketika bencana terjadi.

    Risiko bencana harus diperhitungkan sejak tahap perencanaan pembangunan.

    Pembangunan jalan, jembatan, permukiman, sekolah, rumah sakit, jaringan air bersih hingga kawasan ekonomi perlu mempertimbangkan kondisi dan kerentanan wilayah.

    Dengan demikian, pengurangan risiko bencana tidak menunggu sampai kerusakan terjadi. Mitigasi harus hadir sejak keputusan pembangunan dibuat.

    Pendekatan ini juga membuat penanggulangan bencana menjadi tanggung jawab bersama.

    Pemerintah provinsi dan BPBD tidak dapat bekerja sendiri. Pemerintah kabupaten dan kota, kementerian dan lembaga, TNI dan Polri, perguruan tinggi, dunia usaha, media, organisasi kemasyarakatan, relawan hingga masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi.

    Perguruan tinggi dapat memberikan kajian dan dukungan keilmuan. Dunia usaha memiliki jaringan, sumber daya dan kemampuan logistik. Media berperan menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat. Relawan menjadi penghubung hingga ke tingkat komunitas.

    Sementara masyarakat memiliki pengetahuan yang sering kali tidak tercatat dalam laporan resmi.

    Warga mengetahui kondisi lingkungan tempat tinggalnya, mengenali kelompok yang paling rentan, mengetahui jalur yang dapat digunakan dalam keadaan darurat serta memahami kebutuhan yang muncul pada tahap awal bencana.

    Karena itu, masyarakat bukan sekadar penerima bantuan.

    Masyarakat adalah bagian dari ketahanan daerah.

    SAPILIN Dibangun Secara Bertahap

    Pengembangan SAPILIN dilakukan secara bertahap, mulai dari penguatan kebijakan dan mekanisme kerja, integrasi data dan koordinasi, peningkatan kapasitas hingga pelembagaan sistem agar dapat berjalan secara berkelanjutan.

    Sistem tersebut juga harus terus dievaluasi.

    Setiap kejadian bencana memberikan pengalaman dan pelajaran baru. Kelemahan yang ditemukan harus menjadi bahan perbaikan agar tidak kembali terulang pada bencana berikutnya.

    Pada akhirnya, keberhasilan SAPILIN tidak ditentukan oleh banyaknya rapat, dokumen atau aplikasi yang dibuat.

    Ukuran utamanya adalah manfaat yang dirasakan masyarakat.

    Informasi harus lebih cepat diterima. Bantuan harus lebih tepat sasaran. Layanan dasar harus lebih cepat pulih. Keputusan harus dibuat berdasarkan gambaran kondisi yang sama. Dan yang paling penting, risiko korban jiwa serta kerugian akibat bencana dapat ditekan.

    Sumatera Barat mungkin tidak dapat menghilangkan seluruh ancaman bencana.

    Namun, Sumatera Barat dapat terus membangun kesiapsiagaan, memperkuat keterhubungan antarpihak dan meningkatkan ketangguhan masyarakat.

    Itulah semangat SAPILIN: Sistem Penanggulangan Bencana Terintegrasi.

    Satu Data. Satu Koordinasi. Satu Tujuan. Satu Ketahanan.

    Satukan Langkah, Lindungi Kehidupan.



  • (Sumbangan Pemikiran Terhadap Gagasan Wali Kota Padang Yang Solutif)

    Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan (Tenaga Ahli Pemmo Padang)

    Padang Theater: Kejayaanmu Masa Lalu, Kondisimu Saat Ini dan Prospekmu ke Depan

    (Sumbangan Pemikiran Terhadap Gagasan Wali Kota Padang Yang Solutif)

    Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan (Tenaga Ahli Pemmo Padang)

    Pendahuluan

    Bagi generasi ’80-an dan ’90-an di Kota Padang, nama Padang Theater bukan sekadar sebuah bangunan, melainkan sebuah ikon budaya Pop dan pusat hiburan utama yang tak tergantikan. Terletak di jantung kota, kawasan ini dulunya menjadi magnet yang mempertemukan ribuan pasang mata setiap siang dan malam. Aksesnya yang sangat strategis membuat seluruh trayek angkutan kota (angkot) seolah bermuara ke sana. Namun, roda zaman berputar cepat. Disrupsi teknologi digital melalui ponsel pintar (smartphone) perlahan tapi pasti menggeser fungsi bioskop konvensional. Hiburan yang dulu harus dicari keluar rumah, kini berada dalam genggaman. Akibatnya, Padang Theater kehilangan taringnya, ditinggalkan oleh para penggemar setianya, dan bertransformasi dari pusat keramaian menjadi sudut kota yang sunyi.

    Kondisi Lokasi Padang Theater Saat Ini

    Kondisi Padang Theater saat ini bisa dikatakan berada dalam titik nadir. Kehilangan pasar akibat perubahan gaya hidup digital diperparah oleh serangkaian bencana gempa bumi berkekuatan besar yang mengguncang Kota Padang beberapa tahun silam. Bangunan yang dulunya megah dan menjadi kebanggaan kini menyisakan struktur yang berantakan, terbengkalai, dan kurang terawat. Kawasan yang dulunya hidup 24 jam ini sekarang terkesan kumuh, redup, dan kehilangan estetika kotanya. Ruang publik yang strategis ini mengalami degradasi fungsi secara drastis, menciptakan pemandangan kontras di tengah geliat pembangunan Kota Padang yang terus melaju.

    Peluang dan Tantangan untuk Kemajuan sebagai Pusat Kuliner Masa Depan

    Rencana Wali Kota Padang, Fadly Amran, untuk mengalihfungsikan dan menghidupkan kembali kawasan Padang Theater menjadi pusat kuliner adalah sebuah langkah yang sangat visioner. Namun, secara kritis, ada dua sisi koin yang harus dibedah:

    Peluang:

    Lokasi Emas (Hub Transportasi) Berada di pusat kota berarti kawasan ini memiliki aksesibilitas universal. Masyarakat dari sudut kota mana pun sangat mudah menjangkaunya tanpa perlu memikirkan rute yang rumit.

    Reputasi Kuliner Minang: Padang adalah surga kuliner dunia. Menyatukan ratusan ragam makanan dengan predikat “enak dan enak sekali” dalam satu titik adalah konsep one-stop culinary spot yang sangat menjual untuk wisatawan domestik maupun internasional.

    Nilai Nostalgia (Nostalgia Marketing) Nama besar “Padang Theater” memiliki nilai sentimental yang kuat. Narasi sejarah tempat ini bisa diolah menjadi daya tarik romantis bagi generasi tua sekaligus daya tarik estetik bagi generasi muda (Gen Z dan Milenial).

    Tantangan

    – Revitalisasi Fisik dan Keamanan Struktur Mengingat bangunan lama terdampak gempa, tantangan utamanya adalah memastikan kekuatan struktur baru yang tahan gempa agar menciptakan rasa aman bagi pengunjung.

    – Masalah Klasik Perkotaan: Penataan parkir, kemacetan di pusat kota, kebersihan limbah kuliner, serta pengelolaan pedagang kaki lima (PKL) agar tetap tertib dan tidak menimbulkan kesan kumuh baru.

    – Kompetisi dengan Kafe Modern: Pusat kuliner ini harus mampu bersaing dengan tren kafe modern dan restoran aesthetic yang menjamur di Padang. Jika konsepnya terlalu biasa (seperti pujasera konvensional), tempat ini berisiko sepi kembali.

    Langkah-Langkah yang Perlu Dilakukan Pemko untuk Mewujudkan Pusat Kuliner Representatif

    Untuk mewujudkan kawasan Padang Theater yang baru, berenergi, dan “menyala”, Pemerintah Kota (Pemko) Padang harus mengambil langkah solutif dan kontemporer berikut:

    Re-arsitektur Berkonsep Industrial-Heritage Pop

    – Bangun kembali fisik Padang Theater dengan mempertahankan ikonik masa lalu namun dikombinasikan dengan sentuhan modern minimalis atau industrial. Sediakan banyak spot foto Instagramable untuk memikat anak muda.

    – Kurasi Ketat Produk Kuliner:Pemko harus bertindak sebagai kurator. Ragam kuliner yang dihadirkan tidak boleh monoton. Harus ada zonasi yang jelas antara makanan tradisional legendaris (seperti sate, soto, martabak) dengan kuliner kontemporer/kekinian.

    – Penerapan Smart Culinary Area: Sentuh aspek digital. Terapkan sistem pembayaran nontunai (cashless), penyediaan Wi-Fi gratis berkecepatan tinggi, serta sistem pemesanan terintegrasi (bisa pesan dari meja mana saja menggunakan QR Code). Ini merupakan solusi menjembatani hilangnya bioskop akibat IT

    – Panggung Seni dan Komunitas Kreatif: Bioskop mungkin sudah tiada, tapi jiwanya sebagai pusat hiburan harus dipertahankan. Bangun sebuah amphitheater mini atau panggung pertunjukan di tengah pusat kuliner. Jadwalkan penampilan rutin musik akustik, stan-up comedy, teater modern, atau pemutaran film indie lokal. Ini akan mengembalikan nuansa “hiburan malam” Padang Theater.

    – Manajemen Limbah dan Fasilitas Publik Premium: Pastikan toilet sekelas mal, musala yang nyaman, pengelolaan sampah yang disiplin, dan sistem grease trap (penjebak lemak) untuk limbah dapur agar lingkungan tetap bersih dan wangi.

    Penutup

    Menghidupkan kembali Padang Theater bukan sekadar proyek fisik membangun lapak dagangan, melainkan sebuah upaya merebut kembali ruang budaya kota yang sempat hilang. Dengan mengubah konsep dari pusat sinema menjadi pusat kuliner, Pemko Padang secara cerdas telah beradaptasi dengan perubahan zaman. Jika dikelola secara kreatif, modern, dan konsisten, lokasi ini tidak hanya akan membangkitkan gairah ekonomi para pelaku UMKM, tetapi juga mengembalikan marwah Padang Theater sebagai jantung hiburan dan gaya hidup warga kota Padang yang menyala siang dan malam.

    Rekomendasi

    – Segera Lakukan Uji Kelayakan Struktur (Audit Forensik Bangunan): Langkah paling awal adalah memastikan keamanan bangunan pasca-gempa sebelum melakukan renovasi besar agar aman dari risiko bencana di masa depan.

    – Gunakan Skema Pendanaan Kreatif: Selain APBD, Pemko dapat menggandeng pihak swasta atau BUMN melalui program CSR/investasi guna mempercepat pembangunan fisik tanpa membebani keuangan daerah.

    – Pelatihan Pelayanan Standar Hospitabilitas: Berikan pelatihan berkala bagi para pedagang mengenai higienitas, keramahan pelayan, dan standarisasi harga (tidak nembak harga) untuk menjaga reputasi jangka panjang pusat kuliner ini.

    – Pelibatan Komunitas Kreatif Lokal: Gandeng komunitas kreatif, sinematografi, dan pemusik lokal sejak proses perencanaan agar aktivasi ruang publik ini nantinya tepat sasaran dan organik.



  • Diskusi Bersama Pengiat Budaya, Hulubalang Pesisir Selatan Matangkan Gerakan Pelestarian Budaya Minangkabau

    Tarusan – Pesisir Selatan   nrtvnews.com  Upaya mematangkan pembentukan dan arah gerakan Organisasi Masyarakat (Ormas) Hulubalang Pesisir Selatan terus dilakukan. Salah satunya melalui diskusi bersama Pengiat budaya Tusriadi, yang berlangsung di Batukalang, Kenagarian Ampang Pulai, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Minggu (27/9/2026).

    Diskusi tersebut menjadi ruang bertukar gagasan sekaligus memperkuat visi dan misi para penggagas Hulubalang Pesisir Selatan dalam menjaga, menggali, serta melestarikan adat dan budaya Minangkabau.

    Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Adisman, M.Pd., Elpinas, S.Kom., Primadoni, SE., Andri Yunizar, SE., Dalvi Masyahari, ST., Dasrul, serta sejumlah tokoh dan rekan lainnya yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan budaya Minangkabau.

    Dalam suasana diskusi yang penuh keakraban, berbagai gagasan dibicarakan, terutama mengenai pentingnya menjadikan budaya sebagai bagian dari kehidupan generasi muda. Pelestarian budaya dinilai tidak cukup hanya dengan mengenang tradisi masa lalu, tetapi harus dilakukan melalui pemahaman, penggalian nilai-nilai adat, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Pengiat  budaya Tusriadi  menyampaikan bahwa sudah saatnya masyarakat kembali memberikan perhatian lebih besar terhadap budaya sendiri.

     “Kita sudah saatnya untuk melestarikan budaya kita. Kalau ingin mencerdaskan anak bangsa, mari mendekatkan diri ke budaya dan gali budaya,” ujar Tusriadi.

    Menurutnya, budaya memiliki nilai-nilai pendidikan yang penting bagi pembentukan karakter generasi muda. Dengan mengenal budaya dan adat istiadat sendiri, anak-anak bangsa diharapkan memiliki jati diri yang kuat sekaligus mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.

    Diskusi tersebut sekaligus memperkuat komitmen bersama untuk menjadikan *Hulubalang Pesisir Selatan* sebagai wadah yang memiliki perhatian terhadap adat, budaya, pendidikan karakter, serta pembinaan generasi muda.

    Para peserta sepakat bahwa pelestarian budaya Minangkabau membutuhkan kebersamaan berbagai unsur masyarakat. Tidak hanya tokoh adat dan budayawan, tetapi juga generasi muda, pendidik, tokoh masyarakat, komunitas, serta berbagai elemen lainnya.

    Pertemuan di Batukalang itu diharapkan menjadi salah satu langkah awal dalam mematangkan konsep, visi, dan program Hulubalang Pesisir Selatan ke depan, sehingga keberadaan organisasi tersebut dapat memberikan kontribusi nyata dalam menjaga warisan adat dan budaya Minangkabau di tengah perubahan zaman.(Alpin)



  • Cerint Irraloza Tasya,S.Ked Anggota DPD- RI  Gelar Sosialisasi Empat Pilar, Generasi Muda Punya Peran Penting dalam Mengamalkan Empat Pilar Kebangsaan

    PADANG — nrtvnews.com Generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga persatuan serta mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang diikuti oleh siswa-siswi SMAN 1 Padang.

    Anggota DPD RI, Cerint Irraloza Tasya, S.Ked, turut hadir dalam kegiatan tersebut dan memberikan pemahaman kepada para pelajar mengenai pentingnya mengenal serta menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Empat Pilar Kebangsaan.

    Empat Pilar Kebangsaan yang meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi landasan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Dalam kegiatan tersebut, para siswa diajak untuk tidak hanya memahami Empat Pilar secara teori, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan sekolah menjadi salah satu tempat penting bagi generasi muda untuk mempraktikkan nilai toleransi, gotong royong, menghargai perbedaan, serta menjaga persatuan.

    Generasi muda dinilai memiliki posisi strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa. Di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat, para pelajar dituntut memiliki pemahaman kebangsaan yang kuat agar mampu menyaring berbagai informasi serta tetap menjunjung nilai-nilai persatuan dan kebhinekaan.

    Melalui sosialisasi ini, para pelajar SMAN 1 Padang diharapkan semakin memahami bahwa menjaga keutuhan bangsa bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif seluruh masyarakat, termasuk generasi muda.

    Penerapan nilai-nilai Pancasila dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menghormati teman yang berbeda latar belakang, menyelesaikan persoalan melalui musyawarah, menjaga kerukunan, serta ikut menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.

    Dengan pemahaman dan pengamalan Empat Pilar Kebangsaan sejak usia muda, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya memiliki prestasi akademik, tetapi juga berkarakter, memiliki rasa cinta tanah air, menghargai keberagaman, dan berkomitmen menjaga persatuan Indonesia.(Alpin)



  • BPBD Pessel Kerahkan Personel Bantu Pembersihan Fasilitas Umum dan Rumah Warga Terdampak Banjir-Galodo di Solok

    PESISIR SELATAN — nrtvnews.com Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengerahkan personel untuk membantu penanganan pascabencana banjir dan galodo di Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

    Kalaksa BPBD Pesisir Selatan, Armen, AP, MM, mengatakan, bantuan tersebut dilakukan dengan mengirim personel untuk membantu membersihkan fasilitas umum dan rumah masyarakat yang terdampak bencana.

    “Hari ini, Kamis (24/9), kami berangkat ke Kabupaten Solok untuk membantu pembersihan fasilitas umum dan rumah masyarakat yang terdampak bencana banjir dan galodo,” ujar Armen dalam laporannya.

    Dalam kegiatan tersebut, BPBD Pesisir Selatan mengerahkan lima personel Pemadam Kebakaran (Damkar) dan dua personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Tim diberangkatkan menggunakan satu unit mobil Damkar.

    Sementara itu, satu unit mobil Damkar lainnya bersama lima personel telah lebih dahulu diberangkatkan menuju Kabupaten Solok sekitar pukul 08.00 WIB.

    Personel yang diberangkatkan akan membantu proses pembersihan material dan fasilitas yang terdampak bencana, sebagai bentuk dukungan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan terhadap upaya penanganan pascabencana di Kabupaten Solok.

    Kehadiran personel tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat proses pembersihan lingkungan serta pemulihan aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.(Alpin)



  • Hamdanus Terus Berupaya Wujudkan Porprov XVI Sumbar, Dukungan Semua Pihak Diharapkan

    PADANG — nrtvnews. com Berbagai upaya terus dilakukan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumatera Barat, Hamdanus, untuk memastikan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumbar XVI dapat terlaksana sesuai rencana pada 2–14 Oktober 2026.

    Pelaksanaan Porprov menjadi perhatian penting mengingat ajang olahraga tingkat provinsi tersebut sudah sekitar delapan tahun atau tiga kali berturut-turut tidak terselenggara. Kondisi ini membuat keberlangsungan kompetisi olahraga antarkabupaten dan kota di Sumatera Barat menjadi hal yang perlu mendapat perhatian bersama.

    Hamdanus, yang merupakan putra Pesisir Selatan, terus mendorong berbagai pihak agar penyelenggaraan Porprov XVI dapat direalisasikan. Upaya tersebut dilakukan demi memberikan ruang bagi para atlet Sumatera Barat untuk kembali berkompetisi, mengukur kemampuan, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi berbagai ajang olahraga di tingkat yang lebih tinggi.

    Porprov bukan hanya sekadar pertandingan olahraga. Ajang ini juga menjadi bagian penting dalam pembinaan atlet daerah, pencarian bibit-bibit berprestasi, serta mempererat hubungan antarkabupaten dan kota di Sumatera Barat.

    Karena itu, dukungan dari pemerintah daerah, pengurus cabang olahraga, KONI kabupaten/kota, atlet, pelatih, masyarakat, serta seluruh pemangku kepentingan sangat dibutuhkan agar Porprov XVI Sumbar 2026 dapat terlaksana dengan baik.

    Setelah delapan tahun tidak menggelar Porprov, momentum tahun 2026 diharapkan menjadi kesempatan untuk kembali menghidupkan semangat kompetisi olahraga daerah dan memberikan panggung bagi para atlet Sumatera Barat untuk menunjukkan prestasi terbaiknya.

    Mari bersama memberikan dukungan penuh agar Porprov XVI Sumbar pada 2–14 Oktober 2026 dapat terlaksana dengan sukses, demi kemajuan olahraga dan lahirnya atlet-atlet berprestasi Sumatera Barat.(Alpin)



  • Ibu Mega dan Rumah Gadang yang Tak Kami Temukan di Indrapura

    Saya raih foto itu. Saya tatap lama lama. Ada getar di ruang rasa. Walaupun aksara beruntai diksi, gagik saya menjelaskannya.

    Saya pandang pandang foto itu kembali.  Di belakang kami tergantung lukisan Ibu Fatmawati. Di sebelah saya berdiri Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan, putri Sang Proklamator.

    Lalu, saya merasa. Mungkin saja bagi sebagian orang, foto itu barangkali hanya dokumentasi seorang kader bersama ketua umum partai. 

    Bagi saya, tidak begitu. Foto itu menyimpan cerita lain. Tentang seorang perempuan dari Bengkulu yang garis keluarganya bertaut dengan Indrapura. 

    Kemudian,tentang sebuah rumah gadang yang sudah lama tak berdiri. Tentang tanah yang hingga kini masih disebut sebagai milik keluarga nenek Fatmawati.

    Saya bukan orang Jakarta. Saya orang Kambang, Kecamatan Lengayang, Pesisir Selatan. Karena itu, ketika membaca berbagai literatur tentang keluarga Fatmawati, nama Indrapura segera menarik perhatian saya. 

    Di sana saya menemukan hubungan yang membawa keluarga Megawati ke tanah Pesisir Selatan.

    Fatmawati adalah putri Hasan Din dan Siti Chadijah. Hasan Din disebut sebagai keturunan keenam Kerajaan Indrapura dari jalur Putri Galur dan pernah menjadi Konsul Muhammadiyah di Bengkulu. 

    Siti Chadijah disebut sebagai keturunan Puti Indrapura, keluarga raja dari Kesultanan Indrapura di Pesisir Selatan.

    Dari perkawinan mereka lahirlah Fatmawati. Ia kemudian menjadi istri Soekarno dan ibu Megawati Soekarnoputri. Sebuah garis keluarga yang bermula di kawasan pesisir Sumatera kemudian bersambung dengan salah satu keluarga paling penting dalam sejarah Indonesia.

    Buya Mas’oed Abidin pernah menyampaikan hal itu dengan tegas. Megawati, katanya, adalah anak Fatmawati, dan karena itu memiliki hubungan dengan Minangkabau melalui garis ibunya. 

    Ia menyebut Megawati sebagai orang Pesisir Selatan yang merantau ke Bengkulu.

    Bagi saya, ucapan itu menarik bukan hanya karena menyangkut seorang tokoh politik. Ia menyentuh cara orang Minangkabau membaca hubungan antara keturunan, kampung asal, dan rantau. 

    Seseorang dapat lahir jauh dari tanah leluhurnya, tetapi sebuah keluarga tetap membawa cerita asal-usulnya ke mana pun ia bergerak.

    Indrapura sendiri memiliki kedudukan penting dalam sejarah pesisir barat Sumatera. Berbagai sumber sejarah mencatat kawasan ini sebagai pusat kekuasaan dan perdagangan.

    Pelabuhan Samuderapura pernah menjadi tempat persinggahan saudagar dari berbagai negeri. Laut menjadi jalan bagi barang, manusia, agama, dan kebudayaan untuk bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain.

    Tradisi pelaut, pedagang, dan ulama tumbuh di kawasan itu. Indrapura tidak hanya hidup sebagai sebuah nama kerajaan, tetapi sebagai ruang pertemuan berbagai kekuatan di pesisir barat Sumatera.

    Dari lingkungan itulah, menurut silsilah keluarga yang saya baca, garis keturunan Fatmawati bersambung.

    Fatmawati kemudian memasuki panggung sejarah yang jauh lebih besar. Tangannya menjahit Bendera Pusaka Merah Putih. Namanya tercatat dalam kisah kelahiran Republik Indonesia. 

    Dari Bengkulu, ia menjadi bagian dari keluarga Soekarno. Dari keluarga itu kemudian lahir Megawati, yang bertahun-tahun berada di tengah pusaran politik nasional.

    Karena itu, ketika PDI Perjuangan berkali-kali mengalami kekalahan dalam pemilihan di Sumatera Barat, saya tidak pernah menjadikannya alasan untuk menyalahkan orang Minang. 

    Saya memahami bahwa pilihan politik masyarakat tidak ditentukan semata oleh hubungan genealogis.

    Irwan Prayitno, ketika menjadi Gubernur Sumatera Barat, pernah menyampaikan bahwa orang Minang tetap menaruh penghormatan kepada keluarga Bung Karno karena melihat adanya hubungan dengan Minangkabau melalui Fatmawati dan Indrapura.

    Bagi saya, cerita itu menjadi semakin konkret pada 2020. Sejumlah pencinta Keminangkabauan bersama DPD PDI Perjuangan Sumatera Barat yang dipimpin Dian Ihkwan melakukan penelusuran ke Indopuro. 

    Di sana mereka menemukan bekas sandi dan batu umpak yang diyakini merupakan bagian dari tempat berdirinya rumah gadang keluarga Gadijah, ibunda Fatmawati.

    Rumah itu sudah tidak ada. Yang tersisa adalah tanah dan beberapa tanda lama yang masih dapat ditemukan di sana.

    Keluarga setempat masih menyebut tanah tersebut sebagai milik nenek Gadijah pada masa lalu. Mereka bahkan menyatakan terbuka jika Megawati dan keluarga hendak membangun kembali rumah gadang itu.

    Bagi saya, di situlah sebuah kisah sejarah menjadi nyata. Tanah tidak banyak bicara. Batu umpak juga tidak. Tetapi keduanya cukup untuk membuat seseorang bertanya: ke mana sebuah keluarga pergi setelah rumahnya hilang?

    Pertanyaan itu yang terlintas ketika saya berdiri di samping Ibu Mega.

    Saya tidak menyampaikan apa-apa. Hanya berkata dalam hati, “Bu, rumah nenek kita di Indopuro masih menunggu.”

    Saya anak rang Pasisia. Saya pernah menjadi kader Partai Golkar. Saya juga pernah menggunakan kendaraan PDI Perjuangan ketika mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.

    Pengalaman itu membuat saya tahu bahwa politik memiliki musim, perhitungan, kepentingan, dan batas waktunya sendiri.

    Sejarah bekerja dengan cara berbeda.

    Ia bertahan dalam nama keluarga, tanah, cerita orang tua, batu umpak, dan ingatan sebuah kampung. 

    Karena itu saya merasa memiliki alasan untuk mempertahankan kisah hubungan keluarga Fatmawati dengan Indrapura. 

    Bukan semata karena saya pernah berada di dalam kendaraan politik PDI Perjuangan, tetapi karena saya berasal dari Pesisir Selatan dan merasa ada bagian dari sejarah daerah saya yang pantas dan patut dirawat.

    Megawati adalah putri Fatmawati. Puan Maharani adalah cucu Megawati. 

    Saya, Agusmardi, menyebut diri sebagai dunsanak yang masih menjaga cerita kampung.

    Jika kemudian ada yang bertanya mengapa saya tetap setia kepada Ibu Mega, jawabannya bukan sekadar perkara pemilu. 

    Ada sejarah keluarga yang membuat saya merasa memiliki kedekatan dengan kisah tersebut.

    Karena itu saya berharap PDI Perjuangan Sumatera Barat melihat Indrapura bukan hanya sebagai tempat yang disebut dalam buku sejarah atau nama yang muncul dalam percakapan politik. 

    Ada sebuah rumah gadang yang pernah berdiri di sana. Ada keluarga yang masih mengenali tanahnya. Ada pula sebuah cerita tentang Fatmawati yang dapat dirawat untuk generasi berikutnya.

    Rumah itu dapat dibangun kembali. Bukan sebagai monumen partai, melainkan sebagai ruang sejarah dan kebudayaan. Ia dapat menjadi museum kecil tentang Fatmawati, tentang Indrapura, tentang perjalanan sebuah keluarga dari pesisir Sumatera hingga ke pusat sejarah Republik.

    Di tempat itu pula orang dapat melihat bahwa nasionalisme dan ke-Minangkabauan tidak harus berdiri berhadap-hadapan. Keduanya pernah bertemu dalam diri Fatmawati, perempuan yang lahir di Bengkulu dengan garis keluarga yang menurut sejumlah sumber terhubung dengan Indrapura.

    Rumah gadang boleh saja hilang. Akan tetapi,tanah tidak selalu ikut kehilangan cerita.

    Saya ingin cerita itu tetap ada.

    Dari Kambang, saya menatap Indrapura sebagai bagian dari halaman yang belum selesai ditulis.

    Untuk Ibu Mega.



  • Tim Inisiator Hulubalang Pesisir Selatan Rampungkan AD/ART, Fokus Lestarikan Adat dan Berdayakan Generasi Muda

    PADANG — nrtvnews.com Tim Inisiator Perkumpulan Hulubalang Pesisir Selatan bersama Dewan Pembina menggelar diskusi untuk merampungkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi. Pertemuan berlangsung di ruang kerja Dewan Pembina di Padang, Selasa (22/9/2026).

    Diskusi tersebut menjadi bagian penting dalam mematangkan arah dan tujuan Perkumpulan Hulubalang Pesisir Selatan, terutama dalam upaya menjaga adat dan budaya Minangkabau sekaligus mendorong pemberdayaan generasi muda dan anak nagari.

    Pertemuan dihadiri Dewan Pembina, AKBP Alvira, SH, bersama Adisman, M.Pd, Elpinas, S.Kom, Dalvi Masyahari, ST, Andri Yunizar, SE, Ari Nurkomari, Fahrizal Indra, dan Hendri Kasmayanto.

    Turut hadir Tusriadi, pakar budaya asal Kampung Pansur Jinang, Kecamatan Koto XI Tarusan. Kehadiran Tusriadi turut memperkaya diskusi, khususnya dalam memberikan perspektif budaya dan nilai-nilai adat yang perlu menjadi bagian dari gerakan organisasi.

    Pembahasan berlangsung cukup serius dan mendalam. Selain membahas sejumlah ketentuan dalam AD/ART, tim juga menyelaraskan rumusan organisasi dengan visi besar Perkumpulan Hulubalang Pesisir Selatan dalam menjaga adat, budaya, serta membangun karakter generasi muda.

    Tema pelestarian adat dan budaya Minangkabau, edukasi anak muda, serta pemberdayaan anak nagari menjadi perhatian utama dalam pertemuan tersebut.

    AKBP Alvira, SH selaku Dewan Pembina menilai, menjaga budaya tidak cukup hanya dengan mengenalkan adat kepada generasi muda. Nilai-nilai adat harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, terutama dalam membentuk generasi yang memiliki sopan santun, akhlak mulia dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan serta nagari.

    Sebagai putra Tarusan, Alvira memiliki harapan besar agar generasi muda Pesisir Selatan tumbuh sebagai anak nagari yang berbudaya, berprestasi dan memiliki karakter kuat.

    Ia juga menaruh perhatian terhadap upaya memberikan ruang positif bagi anak muda agar terhindar dari berbagai penyakit masyarakat dan dapat mengembangkan potensi mereka di berbagai bidang.

    “Mimpi kita, bagaimana generasi muda menjadi anak yang berbudaya, sopan santun kepada orang tua, berakhlak mulia, terhindar dari penyakit masyarakat dan berprestasi dari semua lini,” demikian semangat yang menjadi landasan dalam pembentukan Perkumpulan Hulubalang Pesisir Selatan.

    Menurutnya, cita-cita tersebut akan diwujudkan melalui gerakan bersama Perkumpulan Hulubalang Pesisir Selatan.

    Nama Hulubalang sendiri diharapkan tidak sekadar menjadi identitas organisasi, tetapi memiliki makna sebagai “paga nagari” atau penjaga nagari. Semangat itu diarahkan untuk membangun kepedulian anak nagari terhadap adat, budaya dan lingkungan sosialnya sendiri.

    “Jangan sampai kita di negeri sendiri menjadi seperti pendatang,” menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam semangat pembentukan perkumpulan tersebut.

    Dengan dirampungkannya pembahasan AD/ART, Perkumpulan Hulubalang Pesisir Selatan diharapkan memiliki landasan organisasi yang semakin kuat untuk menjalankan program-program ke depan.

    Organisasi ini diarahkan tidak hanya menjadi wadah berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat identitas budaya Minangkabau, memberikan edukasi kepada generasi muda, serta mendorong anak nagari agar mampu berkontribusi dan berprestasi bagi kampung halaman.

    Semangat tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memastikan nilai-nilai adat dan budaya tetap hidup, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.(Alpin)



  • Anak Nagari Kapuh Satukan Gagasan, Dorong Penguatan Ekonomi dan Potensi Nagari di Pondok Sabai Nan Aluih

    Tarusan — Pesisir Selatan nrtvnews.com Pondok Sabai Nan Aluih, Kenagarian Kapuh, Kecamatan Koto XI Tarusan, menjadi saksi pertemuan sejumlah anak nagari yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan ekonomi dan masa depan masyarakat.

    Jumat sore 18/9/2026 para penggiat ekonomi dan wisata, olahraga, media serta sejumlah tokoh masyarakat berkumpul dalam suasana sederhana namun penuh semangat. Mereka duduk bersama, berdiskusi dan bertukar gagasan untuk mencari solusi serta merumuskan langkah nyata dalam mendorong kemajuan nagari.

    Pertemuan tersebut dihadiri antara lain Master Kungfu Anwir Rialis, MH, Syafrion, S.Pd., Adisman, M.Pd., Primadoni, SH., Elpinas, S.Kom., Andri Yunizar, SE., serta sejumlah anak nagari dan penggiat lainnya.

    Berbagai ide dan gagasan mengemuka dalam diskusi. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah upaya membangun dan mengembangkan kelompok tani sebagai wadah bersama untuk menggerakkan potensi ekonomi masyarakat.

    Para peserta melihat bahwa sektor pertanian memiliki potensi besar apabila dikelola secara bersama, terarah dan berkelanjutan. Kelompok tani diharapkan tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya petani, tetapi juga dapat menjadi wadah untuk meningkatkan produktivitas, membuka akses pemasaran, mengembangkan usaha, serta menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

    Selain pertanian, diskusi juga menyentuh berbagai potensi yang dimiliki nagari, mulai dari ekonomi kerakyatan, UMKM, wisata, olahraga hingga peran media dalam mempromosikan potensi daerah.

    Suasana diskusi berlangsung hangat. Setiap peserta menyampaikan pandangan dan gagasan berdasarkan pengalaman serta bidang yang digelutinya. Semangat yang terbangun adalah bagaimana potensi yang ada dapat disatukan menjadi sebuah kekuatan untuk mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.

    Pertemuan di Pondok Sabai Nan Aluih tersebut menjadi gambaran bahwa membangun nagari tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Duduk bersama, berdiskusi, menyatukan gagasan dan membangun komitmen dapat menjadi awal dari sebuah gerakan yang lebih besar.

    Dari sebuah pertemuan sederhana di Pondok Sabai Nan Aluih, muncul harapan agar semangat kebersamaan terus tumbuh dan melahirkan program-program nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

    Karena kemajuan nagari bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga tentang bagaimana anak nagari bersatu, bergerak dan menciptakan peluang untuk masa depan yang lebih baik.(Alpin)



  • Master Kungfu Silaturahmi dengan Waka Polres Pessel, Bahas Pembinaan Generasi Muda

    PESISIR SELATAN – nrtvnews.com Upaya mendorong generasi muda Pesisir Selatan agar aktif dalam kegiatan positif menjadi salah satu pembahasan dalam silaturahmi Master Kungfu bersama Wakil Kepala Kepolisian Resor (Waka Polres) Pesisir Selatan, Kompol H. Syafrizen, SH., Dt. Rang Batuah, di ruang kerjanya, Jumat 18/9/2026

    Dalam pertemuan tersebut hadir  Master Kungfu Anwir Rialis, MH., Syafrion, S.Pd., Andri Yunizar, SE., dan Elpinas, S.Kom. Silaturahmi berlangsung dalam suasana penuh keakraban sekaligus menjadi ruang bertukar pandangan mengenai kondisi dan perkembangan anak muda saat ini.

    Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pentingnya memberikan arahan serta ruang bagi generasi muda untuk menyalurkan energi mereka ke dalam kegiatan yang sehat, produktif, dan membangun karakter.

    Latihan bela diri Kungfu dinilai dapat menjadi salah satu alternatif kegiatan positif bagi kalangan muda. Selain melatih kemampuan fisik, latihan bela diri juga dapat membantu membentuk kedisiplinan, ketekunan, keberanian, tanggung jawab, serta mental yang kuat.

    “Anak-anak muda perlu diberikan kegiatan yang positif dan terarah. Bela diri bukan hanya soal kemampuan fisik, tetapi juga bagaimana membentuk disiplin dan mental,” menjadi semangat yang mengemuka dalam pertemuan tersebut.

    Pembinaan generasi muda melalui olahraga dan kegiatan positif diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya bersama menciptakan lingkungan yang sehat bagi anak-anak dan remaja di Pesisir Selatan.

    Melalui sinergi antara komunitas olahraga, tokoh masyarakat, pemuda, dan kepolisian, diharapkan semakin banyak generasi muda yang memiliki wadah untuk mengembangkan potensi diri sekaligus menjauhkan diri dari berbagai aktivitas yang dapat merugikan masa depan.

    Silaturahmi tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi dan kerja sama dalam mendorong kegiatan kepemudaan yang bermanfaat bagi masyarakat Pesisir Selatan.(Alpin)



  • Polres Pessel Berbagi Sembako di Jumat Berkah, Perkuat Sinergi Bersama Komunitas Ojek Painan

    PESISIR SELATAN – nrtvnews.com Suasana penuh keakraban mewarnai kegiatan Jumat Berkah Polres Pesisir Selatan bersama Komunitas Ojek Painan (KOP), Jumat (18/9/2026), yang dipusatkan di Posko Sabuk Kamtibmas Polres Pessel.

    Kegiatan tersebut tidak hanya diisi dengan silaturahmi, tetapi juga aksi sosial berupa pembagian sembako kepada anggota Komunitas Ojek Painan. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara jajaran Polres Pessel dengan masyarakat, khususnya para pengemudi ojek yang setiap hari beraktivitas dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

    Kapolres Pesisir Selatan AKBP Ricky Richardo, S.I.K., S.H., M.H., bersama Waka Polres Pessel Kompol Syafrizen, S.H., Datuk Rang Batuah, turut hadir dalam kegiatan tersebut.

    Turut hadir Kabag Log, Kasat Intel, Kasat Binmas, KBO Lantas, serta KBO Intel Polres Pessel.

    Dalam arahannya, Kapolres Pessel menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Komunitas Ojek Painan yang selama ini turut berperan dalam membantu menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Painan maupun Kabupaten Pesisir Selatan.

    “Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Persatuan Ojek Painan yang selama ini telah menjadi bagian dari masyarakat yang turut membantu menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Painan dan Kabupaten Pesisir Selatan,” ujar Kapolres.

    Menurutnya, keberadaan para pengemudi ojek memiliki peran strategis dalam menjaga situasi kamtibmas. Setiap hari mereka berada di jalan, berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat serta mengetahui kondisi lingkungan di sekitarnya.

    “Ojek bukan hanya sebagai sarana transportasi, tetapi juga dapat menjadi mata dan telinga masyarakat,” katanya.

    Kapolres mengajak seluruh anggota Komunitas Ojek Painan untuk bersama-sama menjaga keamanan lingkungan. Apabila menemukan adanya potensi gangguan keamanan, tindak kriminal, penyalahgunaan narkoba, perjudian, tawuran, maupun kejadian lain yang dapat mengganggu ketertiban masyarakat, agar segera disampaikan kepada pihak kepolisian.

    Namun, Kapolres menekankan agar masyarakat tidak mengambil tindakan sendiri.

    “Yang paling penting, jangan mengambil tindakan sendiri. Mari kita kedepankan komunikasi, koordinasi dan hukum yang berlaku,” tegasnya.

    Ia berharap Posko Sabuk Kamtibmas dapat menjadi wadah untuk memperkuat sinergi antara Polri dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif.

    “Keamanan bukan hanya tanggung jawab polisi, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama,” ungkapnya.

    Kapolres juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan Painan dan Kabupaten Pesisir Selatan yang aman, tertib dan kondusif, sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas dengan nyaman dan roda perekonomian terus berkembang.

    “Mari bersama menjaga keamanan, bersama menjaga persaudaraan, dan bersama menjaga Pesisir Selatan,” ajaknya.

    Kegiatan Jumat Berkah tersebut kemudian ditutup dengan pantun yang disampaikan Kapolres Pessel:

    Naik ojek menuju Painan,

    Singgah sebentar membeli sarapan.

    Mari kita jaga keamanan,

    Agar Kamtibmas tetap kondusif dan nyaman.

    Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kebersamaan. Melalui silaturahmi dan kegiatan berbagi tersebut, Polres Pessel berharap hubungan kemitraan antara kepolisian dan Komunitas Ojek Painan semakin kuat dalam menjaga keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat.(Alpin)



  • Kepsek SMKN 1 Painan Buka Pelatihan PMR Wira, Cetak Generasi Muda Berjiwa Kemanusiaan

    PAINAN — nrtvnews.com Kepala SMKN 1 Painan, Almes Gangga, S.Pd., M.Pd.T., secara resmi membuka kegiatan Pelatihan Palang Merah Remaja (PMR) Wira SMKN 1 Painan yang dilaksanakan pada 11–13 September 2026 di Gedung Pertemuan SMKN 1 Painan, Kabupaten Pesisir Selatan.

    Kegiatan tersebut diikuti oleh anggota PMR Wira SMKN 1 Painan dan menghadirkan sejumlah unsur sekolah serta pengurus PMI Kabupaten Pesisir Selatan.

    Hadir dalam kegiatan pembukaan tersebut Kepala SMKN 1 Painan Almes Gangga, S.Pd., M.Pd.T., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Andala, Pembina PMR Beni Astrio, Pengurus PMI Kabupaten Pesisir Selatan Lahardi Piterson, ST, Elpinas, S.Kom., Fasilitator PMR Andrian Novialdi, serta para peserta pelatihan PMR.

    Menumbuhkan Jiwa Kemanusiaan

    Pembina PMR SMKN 1 Painan, Beni Astrio, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada Kepala Sekolah yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.

    Menurutnya, pelatihan PMR tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan jiwa kemanusiaan, empati, kepedulian, serta semangat untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

    “PMR SMKN 1 Painan saat ini sudah memasuki angkatan ke-5. Artinya, sudah ada lima generasi yang ikut memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di Pesisir Selatan,” ujar Beni.

    Ia menambahkan, Pesisir Selatan merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi bencana. Karena itu, keberadaan generasi muda yang memiliki pengetahuan, keterampilan, kepedulian dan kesiapsiagaan sangat dibutuhkan.

    Beni berharap seluruh peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan sungguh-sungguh.

    “Harapan kami, ikuti seluruh rangkaian kegiatan ini dengan baik sehingga ilmu dan pengalaman yang diperoleh nantinya dapat bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat,” katanya.

    Peserta Diminta Ikuti Pelatihan dengan Penuh Tanggung Jawab

    Sementara itu, Wakil Kepala SMKN 1 Painan Bidang Kesiswaan, Andala berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan baik dan penuh tanggung jawab.

    Menurutnya, kegiatan ekstrakurikuler seperti PMR merupakan bagian penting dalam membentuk karakter dan kedisiplinan peserta didik di luar kegiatan pembelajaran di kelas.

    Senada dengan itu, Pengurus PMI Kabupaten Pesisir Selatan, Lahardi Piterson, ST, berharap pelatihan PMR tersebut mampu melahirkan relawan-relawan muda yang memiliki jiwa kemanusiaan yang kuat.

    “Semoga melalui pelatihan ini lahir relawan muda yang memiliki jiwa kemanusiaan yang tangguh, peduli terhadap sesama dan siap membantu masyarakat ketika dibutuhkan,” harap Lahardi.

    Ekstrakurikuler Bagian dari Pembentukan Karakter

    Kepala SMKN 1 Painan, Almes Gangga, S.Pd., M.Pd.T., dalam sambutannya memberikan apresiasi dan penghargaan kepada para peserta serta pembina yang telah berkomitmen melaksanakan kegiatan PMR.

    Ia menegaskan bahwa pihak sekolah akan terus memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang memberikan dampak positif bagi peserta didik maupun sekolah.

    “Semua kegiatan ekstrakurikuler akan kita fasilitasi sepanjang memberikan dampak positif bagi anak-anak dan sekolah. Ekstrakurikuler merupakan bagian dari proses pembentukan karakter anak, baik secara individu maupun dalam berorganisasi,” ungkap Almes.

    Lebih lanjut, Almes juga mengajak seluruh peserta untuk terus bersemangat dalam mengikuti berbagai kegiatan positif di sekolah. Ia berharap SMKN 1 Painan ke depan semakin mendapatkan dukungan untuk menunjang proses pendidikan dan kegiatan peserta didik.

    Almes juga meminta doa agar berbagai upaya komunikasi dan koordinasi yang dilakukan pihak sekolah dengan anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat dapat membuahkan hasil, khususnya dalam memperoleh dukungan melalui pokok-pokok pikiran (Pokir) untuk kebutuhan sekolah.

    “Kita terus membangun komunikasi dengan anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat untuk mendapatkan dukungan dan bantuan bagi sekolah. Insyaallah, mudah-mudahan pada tahun 2027 nanti upaya ini dapat membuahkan hasil dan semakin menunjang proses belajar anak-anak,” ujarnya.

    Kegiatan Pelatihan PMR Wira SMKN 1 Painan yang berlangsung selama tiga hari tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat karakter, kepedulian sosial, keterampilan pertolongan pertama, kesiapsiagaan bencana, serta semangat kemanusiaan di kalangan generasi muda Pesisir Selatan.(Alpin)