Author: alpin


  • Kapolres  Pesisir Selatan AKBP Ricky Richardo, SIK, SH,MH  Pimpin Giat Pagi di Simpang Taman Spora dan UHA Painan, Wujudkan Polisi yang Mengayomi dan Melindungi Masyarakat

    PAINAN –  PESISIR SELATAN nrtvnews.com Kapolres Pesisir Selatan, AKBP Ricky Richardo, S.I.K., S.H., M.H., turut turun langsung ke lapangan di Simpang Taman Spora. Bersama para  Waka, Kasat dan personel lainnya, Kapolres ikut melaksanakan pengaturan arus lalu lintas di sejumlah persimpangan yang ramai dan padat kendaraan.

    Kegiatan ini difokuskan terutama pada jam-jam sibuk, seperti saat masyarakat berangkat ke sekolah, pergi bekerja, serta menjalankan aktivitas sehari-hari, guna memastikan arus lalu lintas tetap lancar, aman, dan tertib, Senin 19/10/2026

    Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya Polri dalam mewujudkan program Polisi Bersama Masyarakat, dengan mengedepankan pelayanan, perlindungan, dan pengayoman kepada masyarakat, sekaligus memelihara keamanan, ketertiban, serta kelancaran lalu lintas di wilayah Kabupaten Pesisir Selatan

    Wujud nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat kembali terlihat melalui kegiatan pagi di Simpang Spora dan  UHA Painan. Kapolres AKBP Ricky Richardo, SIK, SH, MH  dan Wakapolres Kompol H. Syafrizen, SH, Datuk Rang Batuah, bersama personel Polres melaksanakan pelayanan kepada masyarakat sekaligus memberikan edukasi kepada para pengendara sepeda motor demi mewujudkan keamanan, ketertiban, dan keselamatan berlalu lintas.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Polri dalam memberikan pelayanan terbaik, mengayomi, serta melindungi masyarakat. Kehadiran personel kepolisian di persimpangan jalan tidak hanya bertujuan membantu kelancaran arus lalu lintas, tetapi juga membangun kedekatan dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri.

    Dalam kegiatan tersebut, personel Polres memberikan imbauan secara humanis kepada pengendara sepeda motor agar senantiasa menggunakan helm berstandar SNI (Standar Nasional Indonesia). Pengendara juga diingatkan untuk memastikan tali pengikat helm terpasang dengan benar sehingga helm dapat melindungi kepala secara optimal apabila terjadi kecelakaan.

    Edukasi ini penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa keselamatan di jalan raya harus menjadi prioritas utama. Kepatuhan terhadap aturan lalu lintas merupakan bentuk tanggung jawab setiap pengguna jalan, baik untuk melindungi diri sendiri maupun orang lain.

    Polisi Hadir, Masyarakat Terlindungi

    Kegiatan pagi di Simpang UHA dan Simpang Spora  Painan tersebut mencerminkan semangat Polisi Bersama Masyarakat. Polri tidak hanya hadir untuk menjaga ketertiban, tetapi juga menjadi mitra masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan nyaman.

    Melalui pendekatan yang humanis dan edukatif, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya tertib berlalu lintas serta tumbuhnya kesadaran untuk selalu mengutamakan keselamatan dalam setiap perjalanan.

    Kehadiran Kapolres dan  Wakapolres bersama personel Polres juga menjadi gambaran bahwa pelayanan kepolisian harus dirasakan langsung oleh masyarakat melalui tindakan nyata, kepedulian, dan komunikasi yang baik.

    Keselamatan Berlalu Lintas Tanggung Jawab Bersama

    Polri mengajak seluruh masyarakat, khususnya pengendara sepeda motor, agar selalu menggunakan helm berstandar SNI, mengunci tali pengikat helm dengan benar, mematuhi rambu-rambu lalu lintas, serta mengutamakan keselamatan selama berkendara.

    Dengan sinergi antara kepolisian dan masyarakat, diharapkan tercipta budaya berlalu lintas yang semakin disiplin, sehingga angka kecelakaan dapat ditekan dan keselamatan pengguna jalan semakin terjaga.

    Polisi hadir untuk melayani, mengayomi, dan melindungi. Bersama masyarakat, kita wujudkan lalu lintas yang aman, tertib, dan berkeselamatan di Painan, Kabupaten Pesisir Selatan.(Alpin)



  • Kompol H. Syafrizen, S.H., Datuk Rang Batuah, Sampaikan Nasihat Pernikahan untuk Fauziah dan Redith Bagindo Mudo, Semoga Menjadi Keluarga Samara

    Tarusan Kapuh – Pesisir Selatan nrtvnews.com  Kompol H. Syafrizen, S.H., bergelar adat Datuk Rang Batuah, Wakil Kepala Kepolisian Resor (Wakapolres) Pesisir Selatan, menyampaikan nasihat pernikahan kepada pasangan pengantin Fauziah dan Redith Bagindo Mudo di Kapuah, Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Minggu 18/10/2026

    Dalam nasihatnya, Kompol H. Syafrizen mengajak kedua mempelai menjadikan pernikahan sebagai awal membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah (Samara), berlandaskan keimanan, kasih sayang, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap orang tua dan keluarga besar.

    Mengawali pesannya, ia mengajak seluruh hadirin untuk bersyukur kepada Allah SWT atas terlaksananya pernikahan tersebut. Menurutnya, ikatan suci pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, melainkan juga menyatukan dua keluarga dalam sebuah perjalanan kehidupan yang membutuhkan komitmen, kesabaran, dan saling pengertian.

    Berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah SAW

    Dalam nasihatnya, Kompol H. Syafrizen mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ar-Rum ayat 21, yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan pasangan hidup agar manusia memperoleh ketenteraman, serta menjadikan rasa cinta dan kasih sayang di antara keduanya.

    Pesan tersebut, menurutnya, menjadi landasan penting bagi pasangan suami istri untuk membangun rumah tangga yang harmonis. Cinta dalam pernikahan hendaknya tidak hanya didasarkan pada penampilan atau materi, tetapi juga tumbuh melalui keimanan, ibadah, ketulusan, dan komitmen untuk saling menjaga.

    Ia juga mengingatkan pesan Rasulullah SAW:

    “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.”

    (HR. At-Tirmidzi, no. 3895)

    Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa kebaikan seorang suami tercermin dari cara ia memperlakukan keluarganya. Tanggung jawab, kelembutan, kepedulian, serta sikap saling menghargai merupakan bagian penting dalam mewujudkan kehidupan rumah tangga yang penuh keberkahan.

    Selain itu, ia mengutip Surah An-Nahl ayat 72 tentang karunia pasangan hidup, keturunan, dan rezeki yang baik. Ayat tersebut mengingatkan bahwa keluarga merupakan salah satu nikmat Allah SWT yang patut disyukuri dan dijaga dengan penuh tanggung jawab.

    Tiga Pesan Penting dalam Membangun Rumah Tangga

    Dalam kesempatan tersebut, Kompol H. Syafrizen menyampaikan tiga nasihat utama kepada Fauziah dan Redith Bagindo Mudo agar dapat mengarungi kehidupan rumah tangga dengan baik.

    Pertama, menjaga cinta dengan iman dan ibadah.

    Ia berpesan agar kedua mempelai senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salat, doa, dan ketaatan kepada ajaran agama hendaknya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sehingga rumah tangga memiliki fondasi spiritual yang kuat dalam menghadapi berbagai keadaan.

    Kedua, saling memahami dan tidak mudah menyalahkan.

    Menurutnya, setiap rumah tangga pasti menghadapi tantangan. Karena itu, pasangan suami istri harus belajar menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin, hati yang lapang, dan komunikasi yang baik.

    Suami hendaknya menjalankan tanggung jawabnya dengan bijaksana, sementara istri menjadi pendamping yang penuh kasih sayang. Keduanya perlu saling menghormati, saling mendukung, dan bekerja sama dalam mengambil keputusan.

    Rumah tangga yang kuat bukanlah rumah tangga yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan rumah tangga yang mampu melewati setiap ujian secara bersama-sama.

    Ketiga, memegang teguh adat dan agama.

    Sebagai bagian dari masyarakat Minangkabau, ia mengingatkan pentingnya mengamalkan falsafah adat:

    “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.”

    Falsafah tersebut menjadi pengingat agar kehidupan bermasyarakat dan berkeluarga senantiasa selaras dengan nilai-nilai agama dan adat yang baik. Kedua mempelai juga diharapkan menghormati orang tua, memuliakan keluarga besar, serta menjaga tutur kata dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

    Doa agar Menjadi Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah

    Menutup nasihatnya, Kompol H. Syafrizen berpesan kepada Fauziah dan Redith Bagindo Mudo agar menjadikan Allah SWT sebagai tujuan hidup, Al-Qur’an sebagai pedoman, dan Rasulullah SAW sebagai teladan.

    Ia berharap kedua mempelai dikaruniai rumah tangga yang tenteram, penuh cinta dan kasih sayang, dilimpahi rezeki yang halal, serta dianugerahi keturunan yang saleh dan salehah.

    Dalam kesempatan itu, ia turut menyampaikan doa pernikahan yang diajarkan Rasulullah SAW:

    بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

    Baarakallaahu laka, wa baaraka ‘alaika, wa jama‘a bainakumaa fii khair.

    Artinya: “Semoga Allah memberkahimu, melimpahkan berkah atasmu, dan menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.”

    (HR. Abu Dawud, no. 2130; HR. At-Tirmidzi, no. 1091)

    Sebagai penutup, ia menyampaikan pantun penuh doa,

    Jalan-jalan ke Tarusan,

    Singgah sebentar di Kapuah indah.

    Jadilah pasangan dalam keimanan,

    Semoga rumah tangga sakinah dan penuh berkah.

    Selamat menempuh hidup baru untuk Fauziah dan Redith Bagindo Mudo.

    Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan keberkahan, menguatkan ikatan cinta, melapangkan rezeki, serta menyatukan keduanya dalam kebahagiaan di dunia hingga ke surga-Nya.

    Aamiin ya Rabbal ‘alamin.



  • Camat Koto XI Tarusan Bersama Forkopimca Bangun Sinergi, Wujudkan Pilwana Bermartabat dan Damai

    PESISIR SELATAN — Camat Koto XI Tarusan, Nurlaini, SE, M.Si, bersama Kapolsek Tarusan, Iptu Irfan Chandra, SH, Koramil Tarusan, serta tokoh masyarakat terus memperkuat sinergi dalam menyukseskan pelaksanaan Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) yang bermartabat, aman, dan damai, Sabtu 17/10/2026

    Sinergi lintas sektor ini menjadi bagian penting dalam menjaga suasana kondusif di tengah masyarakat, sekaligus memastikan setiap tahapan Pilwana berlangsung dengan baik, tertib, dan mengedepankan nilai-nilai kebersamaan.

    Camat Koto XI Tarusan, Nurlaini, SE, M.Si, menyampaikan bahwa salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan Pilwana adalah membangun komunikasi yang baik dengan seluruh pihak serta menjunjung tinggi sikap saling menghargai.

    Menurutnya, komunikasi yang terbuka antara pemerintah kecamatan, unsur keamanan, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen nagari sangat diperlukan untuk mencegah kesalahpahaman serta menjaga persatuan masyarakat.

    “Kesuksesan Pilwana bergantung pada komunikasi yang baik dengan semua lini dan sikap saling menghargai satu sama lain. Dengan begitu, setiap persoalan dapat diselesaikan secara bijaksana tanpa menimbulkan perpecahan,” demikian pesan yang disampaikan Camat Nurlaini.

    Sementara itu, Kapolsek Tarusan, Iptu Irfan Chandra, SH, menegaskan bahwa keamanan dan kenyamanan selama proses Pilwana tidak terlepas dari kerja sama yang baik antara kepolisian, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen yang memiliki pengaruh di lingkungan masing-masing.

    Ia menilai, keterlibatan seluruh unsur masyarakat sangat penting dalam menjaga ketertiban, mengantisipasi potensi konflik, serta menciptakan suasana yang sejuk selama berlangsungnya pesta demokrasi di tingkat nagari.

    Di sisi lain, Koramil Tarusan juga terus membangun komunikasi dengan berbagai unsur masyarakat. Melalui pendekatan persuasif dan edukasi, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga persatuan, menahan diri, serta tidak mudah terpancing oleh isu-isu yang berpotensi menimbulkan gejolak.

    Kolaborasi antara pemerintah kecamatan, kepolisian, TNI, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, dan seluruh lapisan masyarakat menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas keamanan selama tahapan Pilwana berlangsung.

    Jaga Persaudaraan hingga Pilwana Berakhir

    Seluruh pihak berharap pelaksanaan Pilwana di Kecamatan Koto XI Tarusan dapat berjalan lancar, aman, tertib, dan damai hingga seluruh tahapan pemilihan selesai.

    Masyarakat juga diimbau untuk tetap menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan pilihan, serta mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

    Sebab, keberhasilan Pilwana bukan hanya ditentukan oleh terlaksananya proses pemilihan, tetapi juga oleh kemampuan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga persatuan dan keharmonisan setelah pesta demokrasi berakhir.

    Pilwana Badunsanak, berbeda pilihan tetap bersaudara. Bersama menjaga nagari, mewujudkan demokrasi yang bermartabat dan damai.( Alpin)



  • Pengajian Bulanan Aisyiyah Kambang Berlangsung Khidmat di Masjid Nurul Hikmah Ganting

    Lengayang – nrtvnews.com Pengajian bulanan Aisyiyah Kambang berlangsung khidmat di Masjid Nurul Hikmah Ganting, Nagari Kambang Timur, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, pada Jumat (16/10/2026).

    Kegiatan keagamaan ini menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi, meningkatkan pemahaman agama, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.

    Pengajian tersebut dihadiri Ketua PCA Kambang, Bunda Irma Yasni, Ketua PCM Kambang, Buya Baharudin, Ketua MPKU Muhammadiyah Pesisir Selatan Hendri Yanto, A.Md.AN, Bendahara MPKU Suhanda Hakiki, S.HI, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

    Turut hadir Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pesisir Selatan, Elpinas, S.Kom  sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan dakwah dan pembinaan keagamaan di lingkungan Muhammadiyah dan Aisyiyah.

    Pengajian kali ini menghadirkan Ustaz Hendri Nalfinas dari Surantih sebagai penceramah. Tausiah yang disampaikan diharapkan dapat menambah wawasan keislaman jamaah sekaligus menjadi pengingat untuk terus meningkatkan keimanan, memperbaiki akhlak, dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

    Kegiatan pengajian bulanan ini juga menjadi wadah bagi warga Aisyiyah dan Muhammadiyah untuk memperkuat kebersamaan serta membangun semangat dakwah yang berkemajuan.

    Melalui kegiatan rutin seperti ini, diharapkan Aisyiyah Kambang terus berperan aktif dalam pembinaan umat, mempererat hubungan antarwarga, serta menumbuhkan kehidupan masyarakat yang religius, harmonis, dan berkemajuan.(Alpin)



  • Kemenag Sumatera Barat Bersama Tiga Ormas Islam Matangkan Persiapan Hari Santri 2026

    PADANG — nrtvnews.com Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat bersama sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam menggelar rapat koordinasi dalam rangka mematangkan persiapan peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Sumatera Barat, Kamis  15/10/2026

    Rapat tersebut menjadi ruang koordinasi dan konsolidasi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan Islam guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan Hari Santri dapat terlaksana dengan baik, tertib, dan mencerminkan semangat kebersamaan seluruh elemen umat.

    Pertemuan dihadiri oleh jajaran Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat, termasuk unsur pimpinan dan pejabat terkait, Kementerian Agama Kota Padang, serta perwakilan tiga organisasi kemasyarakatan Islam, yakni Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Barat, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI).

    Dalam pertemuan tersebut, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat diwakili oleh Sekretaris Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) PWM Sumatera Barat, Iqbal Nuari, S.Sos., M.Pd.

    Rapat membahas sejumlah hal penting terkait persiapan pelaksanaan Hari Santri, mulai dari komposisi dan keterlibatan peserta, rangkaian kegiatan, teknis pelaksanaan, hingga pembagian peran dan koordinasi antara pemerintah dengan masing-masing organisasi kemasyarakatan Islam.

    Keterlibatan Muhammadiyah, NU, dan PERTI dalam persiapan Hari Santri menunjukkan bahwa momentum tersebut bukan hanya menjadi agenda pemerintah, tetapi juga menjadi ruang bersama bagi seluruh elemen organisasi Islam untuk memperkuat kontribusi dalam kehidupan keumatan, kebangsaan, dan pendidikan.

    Perwakilan PWM Sumatera Barat menyampaikan pentingnya membangun koordinasi yang baik antara pemerintah dan ormas Islam agar pelaksanaan Hari Santri tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat peran pesantren, ulama, santri, serta lembaga pendidikan Islam dalam membangun masyarakat.

    “Yang terpenting adalah bagaimana momentum Hari Santri ini dapat menjadi ruang kebersamaan antara pemerintah dan ormas Islam. Muhammadiyah, NU, PERTI, dan seluruh elemen lainnya memiliki kontribusi masing-masing dalam membangun umat dan bangsa,” ujar Iqbal.

    Suasana rapat berlangsung dalam semangat kebersamaan dan kekompakan. Pertemuan tersebut memperlihatkan sinergi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan Islam dalam mempersiapkan salah satu momentum penting bagi kehidupan keagamaan dan kebangsaan di Sumatera Barat.

    Melalui koordinasi bersama tersebut, diharapkan pelaksanaan Hari Santri Nasional 2026 di Sumatera Barat dapat berjalan sukses, inklusif, dan memberikan makna yang lebih luas bagi santri, pesantren, serta masyarakat.

    Sinergi pemerintah dan ormas Islam menjadi kekuatan penting dalam menghadirkan Hari Santri yang tidak hanya meriah secara seremoni, tetapi juga kuat dalam nilai, kebersamaan, dan kontribusi bagi umat dan bangsa.(Alpin)



  • Oleh : Adisman, M.Pd ( Ketua PCM  Tarusan, Ketua PGRI Koto XI Tarusan, Ketua K3S Kabupaten Pessel)

    Pendidikan Anak Dimulai dari Keluarga, Guru Melanjutkan Perjuangan Membangun Generasi Berkarakter

    Oleh : Adisman, M.Pd ( Ketua PCM  Tarusan, Ketua PGRI Koto XI Tarusan, Ketua K3S Kabupaten Pessel)

    Pendidikan Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan anak di ruang kelas, tetapi juga oleh nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga. Dari rumah, anak belajar tentang kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, sopan santun, dan kasih sayang. Nilai-nilai inilah yang kemudian diperkuat oleh sekolah dan lingkungan masyarakat untuk membentuk generasi yang cerdas, berakhlak, dan berkarakter.

    Pandangan tersebut disampaikan Adisman, M.Pd., yang menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama pendidikan anak, sedangkan sekolah berperan melanjutkan, mengembangkan, dan memperkuat fondasi tersebut melalui proses pembelajaran yang bermakna.

    Menurutnya, pendidikan sejatinya bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Pendidikan adalah perjalanan panjang untuk membentuk manusia yang memiliki ilmu, karakter, kepribadian, serta kemampuan menghadapi tantangan kehidupan.

    “Pendidikan anak harus dimulai dari keluarga. Sebelum anak mengenal guru dan lingkungan sekolah, orang tualah yang terlebih dahulu mendidik, membimbing, dan memberikan teladan dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan anak di rumah akan sangat memengaruhi pembentukan karakter mereka,” ungkap Adisman, M.Pd.

    Rumah Adalah Sekolah Pertama, Orang Tua Adalah Guru Pertama

    Bagi seorang anak, rumah bukan sekadar tempat beristirahat, melainkan ruang pertama untuk mengenal kehidupan. Di sanalah anak belajar berbicara dengan santun, menghargai orang lain, menepati janji, meminta maaf, mengucapkan terima kasih, serta memahami arti tanggung jawab.

    Nilai-nilai tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian anak ketika tumbuh dewasa.

    Adisman, M.Pd., mengingatkan bahwa pendidikan keluarga tidak boleh hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan materi. Anak juga membutuhkan perhatian, kasih sayang, komunikasi yang terbuka, pendampingan belajar, dan keteladanan nyata dari orang tua.

    Nasihat yang baik akan lebih bermakna apabila disertai contoh nyata. Anak akan lebih mudah memahami arti kejujuran ketika melihat orang tuanya berkata benar. Anak akan belajar disiplin ketika menyaksikan keluarganya menghargai waktu. Begitu pula rasa hormat dan kepedulian akan tumbuh ketika anak terbiasa diperlakukan dengan baik.

    Karena itu, orang tua perlu menyadari bahwa setiap kebiasaan di rumah dapat menjadi bagian dari proses pendidikan.

    Anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga dari apa yang dilakukan orang tua setiap hari.

    Guru Bukan Sekadar Mengajar, tetapi Menyalakan Masa Depan

    Ketika anak memasuki dunia sekolah, tanggung jawab pendidikan berkembang menjadi lebih luas. Sekolah menjadi tempat bagi peserta didik untuk memperluas wawasan, mengasah keterampilan, mengembangkan bakat, membangun persahabatan, serta belajar hidup bersama orang lain.

    Dalam proses tersebut, guru memegang peran yang sangat penting. Guru bukan hanya penyampai materi pelajaran, melainkan juga pembimbing, motivator, inspirator, dan teladan bagi peserta didik.

    Seorang guru mungkin tidak selalu mengetahui seberapa besar pengaruh perkataannya terhadap kehidupan seorang anak. Namun, satu kalimat penyemangat, satu bentuk perhatian, atau satu kesempatan yang diberikan kepada peserta didik dapat menumbuhkan kembali kepercayaan diri dan harapan mereka.

    Adisman, M.Pd., menekankan bahwa guru perlu melihat peserta didik sebagai pribadi yang memiliki potensi, kebutuhan, dan latar belakang yang berbeda-beda.

    Tidak semua anak belajar dengan kecepatan yang sama. Tidak semua anak menunjukkan kemampuan melalui cara yang serupa. Oleh sebab itu, guru perlu menghadirkan pembelajaran yang mendidik, manusiawi, dan memberi ruang bagi setiap peserta didik untuk berkembang.

    Anak yang hari ini terlihat kesulitan belum tentu akan tertinggal selamanya. Dengan bimbingan, kesabaran, dan kesempatan yang tepat, mereka dapat menemukan kemampuan terbaiknya.

    Guru yang hebat bukan hanya membantu anak meraih nilai tinggi, tetapi juga menumbuhkan keberanian untuk mencoba, keteguhan untuk bangkit, dan keyakinan bahwa setiap anak memiliki masa depan.

    Anak Hebat Tidak Harus Selalu Menjadi Juara, tetapi Harus Terus Bertumbuh

    Di tengah tuntutan prestasi akademik, anak perlu memahami bahwa keberhasilan bukan hanya tentang menjadi juara kelas atau memperoleh nilai tertinggi.

    Prestasi memang penting, tetapi kejujuran, kedisiplinan, kerja keras, rasa hormat, dan kemauan memperbaiki diri juga merupakan bagian dari keberhasilan pendidikan.

    Adisman, M.Pd., mengajak peserta didik agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan belajar. Kegagalan hendaknya tidak dipandang sebagai akhir perjalanan, melainkan sebagai kesempatan untuk mengenali kekurangan, memperbaiki kesalahan, dan mencoba kembali dengan cara yang lebih baik.

    Setiap anak memiliki perjalanan dan potensi masing-masing. Ada yang unggul dalam bidang akademik, ada yang memiliki bakat seni, olahraga, teknologi, kepemimpinan, atau keterampilan praktis. Tugas pendidikan adalah membantu mereka menemukan dan mengembangkan potensi tersebut tanpa mengabaikan pembentukan karakter.

    Kepada para peserta didik, pesan motivasi ini patut direnungkan,

    “Jangan takut belum mampu, takutlah jika berhenti belajar. Jangan malu melakukan kesalahan, selama kamu mau memperbaikinya. Hormati orang tua, hargai gurumu, sayangi temanmu, dan teruslah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari. Masa depan yang cerah dibangun melalui kebiasaan baik yang dilakukan hari ini.”

    Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari langkah besar, tetapi sering kali tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

    Pendidikan Akan Lebih Kuat Ketika Orang Tua dan Guru Berjalan Bersama

    Salah satu tantangan dalam pendidikan adalah ketika tanggung jawab membimbing anak hanya dibebankan kepada satu pihak. Padahal, keluarga dan sekolah memiliki peran yang saling melengkapi.

    Orang tua mengenal kebiasaan dan perkembangan anak di rumah, sementara guru mengamati proses belajar, interaksi sosial, serta perkembangan anak di sekolah. Ketika keduanya berkomunikasi secara terbuka, persoalan pendidikan dapat dipahami dengan lebih baik dan dicarikan solusi bersama.

    “Jangan menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan anak kepada guru di sekolah. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Orang tua mendidik dan memberikan teladan di rumah, guru membimbing di sekolah, sedangkan masyarakat menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak,” tegas Adisman, M.Pd.

    Sinergi tersebut dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti membangun komunikasi rutin antara orang tua dan guru, mendampingi anak belajar, memberikan apresiasi atas usaha mereka, serta menyelesaikan persoalan dengan mengutamakan kepentingan terbaik anak.

    Apabila anak mengalami kesulitan belajar atau menunjukkan perubahan perilaku, orang tua dan guru sebaiknya tidak terburu-buru menyalahkan. Sebaliknya, keduanya perlu mencari penyebab, mendengarkan anak, dan memberikan pendampingan yang sesuai.

    Dengan pendekatan seperti ini, sekolah dan keluarga tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi mitra yang saling menguatkan.

    Di Era Digital, Anak Membutuhkan Pendampingan, Bukan Sekadar Larangan

    Perkembangan teknologi menghadirkan peluang besar bagi anak untuk memperoleh pengetahuan dan mengembangkan kreativitas. Namun, akses informasi yang semakin luas juga membawa tantangan tersendiri bagi keluarga dan sekolah.

    Anak perlu dibimbing agar mampu menggunakan teknologi secara bijak, menjaga etika dalam berkomunikasi, melindungi privasi, serta memilah informasi yang benar dan bermanfaat.

    Orang tua tidak cukup hanya melarang penggunaan gawai. Mereka juga perlu membangun komunikasi, memberikan batasan yang wajar, mengenali aktivitas digital anak, dan menunjukkan contoh penggunaan teknologi yang bertanggung jawab.

    Di sekolah, guru dapat memperkuat literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan kesadaran peserta didik terhadap risiko penyalahgunaan teknologi.

    Menurut semangat pendidikan yang ditekankan Adisman, M.Pd., kemajuan zaman seharusnya menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas generasi muda, bukan alasan untuk mengabaikan nilai-nilai moral dan karakter.

    Teknologi dapat membantu anak menjadi lebih cerdas, tetapi kebijaksanaan dalam menggunakannya tetap perlu dibangun melalui pendidikan, pendampingan, dan keteladanan.

    Pendidikan Anak Adalah Investasi untuk Masa Depan Bangsa

    Adisman, M.Pd., memandang pendidikan anak sebagai investasi jangka panjang yang hasilnya tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Pendidikan yang baik membutuhkan kesabaran, konsistensi, kepedulian, serta kerja sama seluruh pihak.

    Generasi yang berkualitas bukan hanya generasi yang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga generasi yang memiliki akhlak baik, menghargai perbedaan, peduli terhadap sesama, mampu berpikir kritis, dan bertanggung jawab atas tindakannya.

    Karakter tersebut tidak terbentuk melalui satu kali nasihat atau satu kegiatan di sekolah. Karakter tumbuh dari proses panjang yang berlangsung di rumah, di ruang kelas, dalam pergaulan, dan di tengah kehidupan masyarakat.

    Oleh karena itu, setiap orang dewasa memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam pendidikan anak. Orang tua dapat memulainya melalui perhatian dan keteladanan. Guru dapat melakukannya melalui pembelajaran yang bermakna. Masyarakat dapat mengambil bagian dengan menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung perkembangan generasi muda.

    Pesan Adisman, M.Pd. untuk Orang Tua, Guru, dan Generasi Muda

    Adisman, M.Pd., berharap kesadaran terhadap pentingnya pendidikan keluarga semakin meningkat dan hubungan antara orang tua, sekolah, serta masyarakat semakin kuat.

    Ia mengajak orang tua agar tidak pernah merasa terlambat untuk memperbaiki pola komunikasi dan pendampingan terhadap anak. Ia juga mengajak para guru untuk terus menjaga semangat pengabdian, memperbarui pengetahuan, serta memberikan ruang bagi setiap peserta didik untuk berkembang sesuai potensinya.

    Sementara itu, kepada generasi muda, semangat belajar, sikap hormat kepada orang tua dan guru, kedisiplinan, serta keberanian menghadapi tantangan perlu terus ditumbuhkan.

    Sebab, pendidikan bukan hanya tentang mempersiapkan anak menghadapi ujian di sekolah, melainkan juga mempersiapkan mereka menghadapi ujian kehidupan.

    Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari ijazah, nilai rapor, atau gelar yang diperoleh. Keberhasilan yang sesungguhnya juga terlihat ketika seorang anak tumbuh menjadi manusia yang jujur, berakhlak, mandiri, menghormati sesama, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungannya.

    Pendidikan dimulai dari keluarga, diperkuat oleh sekolah, dan diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat.

    Rumah yang penuh keteladanan akan membantu anak mengenal nilai-nilai kebaikan. Sekolah yang penuh kepedulian akan membantu anak mengembangkan potensi. Masyarakat yang mendukung akan memberikan ruang bagi anak untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut.

    Sebagaimana ditekankan Adisman, M.Pd., masa depan bangsa tidak dibangun dalam satu malam. Masa depan itu dipersiapkan hari ini melalui perhatian orang tua, pengabdian guru, semangat belajar anak, dan kepedulian seluruh masyarakat.

    Karena mendidik seorang anak bukan hanya menyiapkan masa depannya, melainkan juga ikut menentukan masa depan bangsa.



  • PDM Pesisir Selatan Matangkan Gagasan Pembangunan Amal Usaha Kesehatan, Perluas Akses Pelayanan bagi Masyarakat

    PESISIR SELATAN – nrtvnews.com Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pesisir Selatan mulai mematangkan gagasan pembangunan amal usaha di bidang kesehatan sebagai bentuk komitmen Muhammadiyah dalam memperluas akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya pasien yang belum terjangkau layanan rumah sakit daerah maupun BKM, Rabu 14/10/2026

    Gagasan tersebut dibahas dalam diskusi bersama jajaran PDM Pesisir Selatan dan Ketua beserta anggota Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Muhammadiyah Pesisir Selatan. Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk merumuskan upaya strategis dalam menghadirkan layanan kesehatan yang lebih luas, mudah dijangkau, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

    Diskusi tersebut dihadiri Sekretaris PDM Pesisir Selatan, Adril Maiyanto, M.Pd., Bendahara PDM Elpinas, S.Kom., Ketua MPKU Muhammadiyah Pesisir Selatan Hendri Yanto, A.Md.AN., Bendahara MPKU Suhanda Hakiki, S.HI., serta Sekretaris MPKU Hegi Aulia, S.E.

    Turut hadir pula tokoh Senior Muhammadiyah Pesisir Selatan yang juga sebagai ketua PCM Kambang Buya Baharudin, Ketua PCM Air Haji H. Zurli Yanur  dan Buya Armen selaku Bendahara PCM yang selau memberikan motivasi dan dorong kepada kader Muhammadiyah untuk selalu eksis  dalam bermuhammadiyah, semangat yang diberikan oleh sepuh Muhammadiyah inilah yang menjadi tantangan  tersendiri bagi kader muhammadiayah di Pesisir Selatan.

    Dalam pembahasan tersebut, para peserta melihat bahwa keberadaan amal usaha Muhammadiyah di bidang kesehatan sangat dibutuhkan untuk membantu menjangkau masyarakat yang selama ini belum sepenuhnya mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang memadai.

    Kehadiran fasilitas kesehatan yang dikelola Muhammadiyah diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi atas kebutuhan layanan kesehatan di Kabupaten Pesisir Selatan. Selain memperluas jangkauan pelayanan, langkah ini juga menjadi wujud nyata peran Muhammadiyah dalam menjalankan dakwah melalui bidang sosial dan kesehatan.

    Mendapat Respons Positif dari Pimpinan Muhammadiyah

    Gagasan pembangunan amal usaha kesehatan ini mendapat respons positif dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pesisir Selatan, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat, hingga Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

    Dukungan tersebut menjadi dorongan bagi PDM Pesisir Selatan untuk terus mengkaji dan mempersiapkan berbagai aspek yang diperlukan agar gagasan ini dapat dikembangkan secara terencana dan berkelanjutan.

    Pembangunan amal usaha kesehatan tentu membutuhkan persiapan yang matang, mulai dari pemetaan potensi, ketersediaan aset, kepastian administrasi kepemilikan tanah, hingga perencanaan pengelolaan dan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

    Inventarisasi Aset Menjadi Langkah Awal

    Sebagai bagian dari persiapan, PDM Pesisir Selatan saat ini tengah melakukan pendataan aset Muhammadiyah sekaligus menyelesaikan administrasi kepemilikan tanah di BPN Pesisir Selatan, semua persyaratan telah di persiapkan dan tinggal tahap pendaftaran  sekaligus  pengukuran. Harapan kami sebagai Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pesisir Selatan  bermohon kepada BPN Pesisir selatan untuk membantu dengan segera proses kepemilikan tanah Muhammadiyah, ujar Elpinas.

    Langkah ini dinilai penting untuk memastikan aset yang dimiliki dapat terdata dengan baik, memiliki kejelasan administrasi, serta berpotensi dimanfaatkan bagi pengembangan amal usaha Muhammadiyah, termasuk di bidang kesehatan.

    Melalui pendataan dan penertiban administrasi tersebut, PDM Pesisir Selatan berupaya membangun fondasi yang kuat sebelum melangkah ke tahap perencanaan lebih lanjut.

    Menghadirkan Manfaat Nyata bagi Masyarakat

    Gagasan pembangunan amal usaha kesehatan ini bukan semata-mata tentang menghadirkan fasilitas baru, melainkan juga tentang memperluas manfaat gerakan Muhammadiyah bagi masyarakat Pesisir Selatan.

    Dengan persiapan yang terarah, dukungan berbagai tingkatan pimpinan, serta pengelolaan aset yang tertib, Muhammadiyah Pesisir Selatan berharap dapat mewujudkan layanan kesehatan yang berorientasi pada kemanusiaan dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

    Langkah ini menjadi bagian dari ikhtiar Muhammadiyah untuk terus berkontribusi dalam pembangunan daerah, sekaligus memperkuat peran organisasi dalam bidang pendidikan, sosial, dan kesehatan demi kesejahteraan masyarakat.(Alpin)



  • Tanpa Menghamburkan Uang, Rika Zulmi Dapat Dukungan dan Semangat Gotong Royong Masyarakat Jinang Kampung Pansur Surau Anjung

    Jinang Kampung Pansur Surau Anjung – nrtvnews.com Suasana penuh keakraban dan kebersamaan mewarnai kegiatan silaturahmi Rika Zulmi, Calon Wali Nagari Jinang Kampung Pansur Surau Anjung Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan, bersama masyarakat setempat. Kegiatan yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan tersebut diisi dengan hiburan organ tunggal, sembari menikmati gorengan dan kopi bersama, Senin malam 12/10/2026

    Silaturahmi itu dihadiri berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh masyarakat, Niniak Mamak, Panungkek, Rang Tuo, Imam Katib, Dubalang, pemuda dan pemudi, hingga tamu undangan lainnya.

    Namun, ada hal menarik yang menjadi sorotan dalam kegiatan tersebut. Bukan sekadar hiburan dan pertemuan biasa, kegiatan ini memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong serta partisipasi masyarakat dalam memberikan dukungan kepada Rika Zulmi.

    Antusiasme masyarakat terlihat dari kesediaan mereka untuk bersiloncek atau mengumpulkan dana secara bersama-sama guna membiayai seluruh kebutuhan kegiatan, mulai dari biaya organ tunggal hingga penyediaan gorengan dan kopi untuk para tamu.

    Menariknya, menurut keterangan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, seluruh biaya dihimpun melalui partisipasi masyarakat tanpa mengeluarkan uang sepeser pun dari calon wali nagari.

    Semangat kebersamaan ini dinilai menjadi gambaran bahwa dukungan terhadap seorang calon pemimpin dapat tumbuh dari kepercayaan, partisipasi, dan keinginan bersama untuk membawa perubahan bagi nagari.

    Andri,Jangan Sampai Politik Uang Membebani Kepemimpinan

    Tokoh muda Kapuh, Andri, menilai semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat Jinang Kampung Pansur Surau Anjung patut menjadi contoh bagi para calon wali nagari lainnya.

    Menurutnya, dukungan masyarakat yang tumbuh secara sukarela memiliki arti penting dalam membangun hubungan antara pemimpin dan masyarakat yang dipimpinnya.

    Ia juga mengingatkan agar praktik membagi-bagikan uang demi memperoleh suara tidak menjadi kebiasaan dalam proses pemilihan pemimpin di tingkat nagari.

    “Jangan sampai calon wali yang membagi-bagikan uang supaya dipilih justru berdampak terhadap kinerja wali ke depannya,” ujar Andri.

    Ia menambahkan, seorang wali nagari yang terpilih idealnya memperoleh dukungan dan respons positif dari masyarakat. Dengan demikian, program-program pemerintahan nagari dapat berjalan dengan baik karena adanya keterlibatan dan dukungan masyarakat.

    Menurut Andri, kepemimpinan yang kuat tidak hanya ditentukan oleh kemenangan dalam pemilihan, tetapi juga oleh kemampuan membangun kepercayaan, merangkul masyarakat, serta menjalankan program yang benar-benar dibutuhkan warga.

    Masyarakat Menginginkan Perubahan Nyata

    Di tengah dinamika pemilihan wali nagari, kegiatan silaturahmi tersebut juga mencerminkan harapan masyarakat terhadap perubahan yang signifikan di Nagari Jinang Kampung Pansur Surau Anjung.

    Sejumlah masyarakat yang hadir menyampaikan bahwa dukungan dan kebersamaan yang terlihat dalam kegiatan itu menjadi pengalaman yang berbeda. Mereka menilai, kegiatan yang terlaksana melalui swadaya dan gotong royong masyarakat tersebut menunjukkan adanya partisipasi warga tanpa harus mengandalkan pengeluaran dana dari calon.

    Bagi masyarakat, semangat seperti ini diharapkan dapat menjadi awal yang baik dalam membangun budaya demokrasi yang lebih sehat, mengedepankan kebersamaan, serta menempatkan kepentingan nagari di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

    Gotong royong yang terbangun juga menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah nagari terletak pada persatuan masyarakatnya. Ketika warga memiliki tujuan yang sama, berbagai kegiatan dapat diwujudkan melalui kebersamaan dan rasa tanggung jawab bersama.

    Pada akhirnya, silaturahmi Rika Zulmi bersama masyarakat bukan hanya menjadi ajang berkumpul dan menikmati hiburan, melainkan juga memperlihatkan harapan warga terhadap sosok pemimpin yang mampu merangkul masyarakat dan membawa perubahan bagi nagari.

    Semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat Jinang Kampung Pansur Surau Anjung diharapkan dapat menjadi teladan dalam pelaksanaan pemilihan wali nagari yang mengedepankan kebersamaan, partisipasi masyarakat, dan komitmen terhadap kemajuan nagari.(Alpin)



  • Teguh Dehalsa Salurkan Dana Pokir untuk Normalisasi Drainase Pasar Sago

    PESISIR SELATAN — nrtvnews.com Anggota DPRD Kabupaten Pesisir Selatan dari Fraksi Nasdem, Teguh Dehalsa, SH., M.Kn., mengalokasikan dana pokok-pokok pikiran (Pokir) untuk mendukung pembangunan dan normalisasi drainase pembuangan air di kawasan Pasar Sago, Kamis 8 /10/2026,

    Teguh turun langsung meninjau lokasi drainase yang akan dinormalisasi. Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi saluran serta memastikan kebutuhan pekerjaan di lapangan.

    Dalam kegiatan tersebut, turut hadir tokoh masyarakat, pemuda setempat, serta tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pesisir Selatan. Mereka bersama-sama melakukan pengecekan kondisi dan lokasi drainase yang selama ini menjadi salah satu persoalan bagi masyarakat dan para pedagang Pasar Sago.

    Normalisasi drainase dinilai sangat dibutuhkan, terutama saat musim hujan. Kondisi saluran yang tidak optimal membuat air berpotensi tergenang di sejumlah titik kawasan pasar sehingga mengganggu aktivitas masyarakat maupun pedagang.

    Sejumlah pedagang Pasar Sago menyambut baik rencana normalisasi tersebut. Mereka berharap pembangunan drainase dapat segera direalisasikan sehingga persoalan genangan air yang selama ini terjadi dapat diminimalkan.

    Para pedagang juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Teguh Dehalsa atas perhatian terhadap kebutuhan pembangunan di kawasan Sago.

    Teguh sendiri diketahui merupakan putra asli Sago. Kehadirannya secara langsung di lokasi menjadi bagian dari proses melihat kondisi pembangunan yang dibutuhkan masyarakat.

    Dengan adanya normalisasi drainase ini, masyarakat dan pedagang berharap sistem pembuangan air di kawasan Pasar Sago dapat berfungsi lebih baik, terutama dalam menghadapi curah hujan, sehingga aktivitas perdagangan dan kegiatan masyarakat dapat berjalan dengan lebih nyaman.(Alpin)



  • Hulubalang Pessel Makin Solid, Tim Inisiator Pacu Penyempurnaan AD/ART dan Struktur Organisasi

    Tarusan – Pesisir Selatan nrtvnews.com Semangat membangkitkan kembali kepedulian terhadap budaya Minangkabau terus bergelora di Kabupaten Pesisir Selatan. Tim Inisiator Pendiri Hulubalang Pesisir Selatan kembali menggelar rapat koordinasi untuk mematangkan organisasi, khususnya dalam penyempurnaan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan revisi struktur organisasi, Kamis 1/10/2026

    Uniknya, pembahasan penting tersebut tidak berlangsung di ruang rapat mewah. Tim justru memilih sebuah tempat sederhana di samping SPBU Kapuh di sebuah warung kopi, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan.

    Berbekal semangat kebersamaan dan ditemani secangkir kopi, berbagai gagasan dibahas secara terbuka. Satu per satu persoalan organisasi dibicarakan hingga menghasilkan sejumlah kesepakatan untuk penyempurnaan Hulubalang Pessel ke depan.

    Bagi Tim Inisiator, kesederhanaan tempat bukanlah penghalang untuk melahirkan gagasan besar.

    Justru dari tempat sederhana itulah semangat membangun organisasi yang membawa misi kebudayaan Minangkabau terus dipupuk.

    Lahirkan Yel-Yel Penuh Semangat

    Suasana koordinasi semakin hidup ketika para peserta secara spontan melahirkan yel-yel yang menggambarkan semangat, kecintaan terhadap nagari, serta komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    Yel-yel tersebut berbunyi

    “Hulubalang Pesisir Selatan, NKRI harga mati!

    Hulubalang, Paga Nagari!

    Minangkabau, Hulubalang bangkit, Minangkabau jaya!”

    Yel-yel tersebut menjadi energi tersendiri bagi Tim Inisiator untuk terus bergerak melakukan pembenahan organisasi.

    Sejumlah Inisiator turut Hadir

    Rapat koordinasi tersebut dihadiri Adisman, M.Pd., Elpinas, S.Kom., Primadoni, S.H., Dalvi Masyahari, S.T., dan Andri Yunizar, S.E., serta sejumlah tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan dan kelestarian kebudayaan Minangkabau.

    Pembahasan tidak hanya menyangkut teknis organisasi, tetapi juga bagaimana Hulubalang Pessel dapat menjadi wadah yang memiliki arah dan struktur yang jelas dalam ikut menjaga nilai-nilai budaya Minangkabau.

    Sementara itu, AKBP Alvira, S.H. selaku Pembina Hulubalang Pessel terus menjalin komunikasi dengan Tim Inisiator.

    Komunikasi tersebut dilakukan untuk memberikan masukan dalam penyempurnaan AD/ART sekaligus penataan kembali struktur organisasi Hulubalang Pessel agar semakin tertata.

    “Kami Membuka Diri”

    AKBP Alvira juga menyampaikan bahwa Hulubalang Pessel terbuka bagi tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap budaya Minangkabau dan ingin ikut berkontribusi.

    Menurutnya, menjaga kebudayaan bukan hanya tugas segelintir orang, melainkan membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

    “Kami membuka diri kepada tokoh masyarakat Pesisir Selatan yang ingin bergabung bersama Hulubalang Pessel. Mari bersama-sama menjaga dan melestarikan budaya Minangkabau,” ungkap Alvira.

    Semangat tersebut menjadi salah satu alasan Tim Inisiator terus melakukan pembenahan meskipun organisasi masih dalam tahap penyempurnaan.

    Dari Secangkir Kopi, Menyusun Langkah Besar

    Rapat sederhana di Kapuh itu menjadi gambaran bahwa sebuah gagasan besar tidak selalu harus lahir dari tempat yang megah.

    Dengan komunikasi, kebersamaan, dan kepedulian terhadap budaya, Tim Inisiator terus menyusun langkah demi langkah untuk membangun Hulubalang Pessel.

    Pesan yang terus menguat di tengah proses tersebut sederhana, tetapi sarat makna.

    “Kalau kita tidak memulainya, siapa yang akan memulai?”

    Kalimat itulah yang menjadi energi psikologis bagi Tim Inisiator untuk tetap bergerak, memperbaiki struktur organisasi, menyempurnakan AD/ART, dan mempersiapkan Hulubalang Pessel agar ke depan memiliki organisasi yang semakin solid.

    Semangatnya jelas, Hulubalang bangkit, Paga Nagari, Minangkabau jaya.(Alpin)



  •  Abrasi Pantai Rendam Rumah Warga di Nagari Kapuh, Tokoh Masyarakat dan Warga  Minta Sungai Segera Dinormalisasi

    Tarusan – Pesisir Selatan nrtvnews.com Abrasi pantai terjadi di Kenagarian Kapuh, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, pada 13 September lalu sekitar pukul 06.30 WIB. Peristiwa tersebut menyebabkan sejumlah rumah masyarakat tergenang air akibat aliran sungai tertimbun pasir, Selasa 29/9/2026

    Timbunan pasir yang menutup jalur sungai membuat aliran air tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memperparah genangan, terutama apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi atau kembali terjadi pasang air laut.

    Masyarakat Nagari Kapuh melalui Pemerintah Nagari telah mengajukan permohonan bantuan alat berat berupa ekskavator kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pesisir Selatan.

    Alat berat tersebut dibutuhkan untuk melakukan normalisasi sungai yang tertimbun pasir dengan panjang sekitar 200 meter.

    Upaya normalisasi dinilai perlu dilakukan secepatnya untuk mencegah dampak yang lebih luas. Jika tidak segera ditangani, air berpotensi kembali memasuki rumah-rumah warga serta menggenangi fasilitas umum, termasuk masjid dan mushala, ujar Andri

    Kalaksa BPBD Kabupaten Pesisir Selatan, Armen, AP, MM, menyampaikan bahwa penanganan kondisi tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko genangan dan mencegah dampak bencana yang lebih besar terhadap masyarakat.

    Pemerintah dan masyarakat Nagari Kapuh berharap penanganan dapat segera dilakukan melalui pengerahan alat berat untuk membuka kembali jalur sungai yang tertutup material pasir.

    Normalisasi sungai menjadi langkah penting agar aliran air kembali lancar sekaligus memberikan perlindungan bagi rumah warga dan fasilitas umum di sekitar kawasan terdampak.

    agar tidak kembali terancam genangan.(Alpin)



  • Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan (Wakil Ketua ICMI Irwil Sumbar)

    INDONESIAKU SAAT INI. SURPLUS POLITISI, MINUS NEGARAWAN

    Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan (Wakil Ketua ICMI Irwil Sumbar)

    Pendahuluan

    Delapan puluh satu tahun yang lalu, Indonesia berdiri di atas fondasi moral dan intelektual yang kokoh, dirumuskan oleh para pendiri bangsa (founding fathers) yang tidak hanya cakap dalam berpolitik, tetapi matang sebagai negarawan. Figur seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim, Tan Malaka, Mohammad Natsir, hingga Jenderal Sudirman adalah personifikasi dari pengorbanan tanpa pamrih. Mereka merumuskan Pancasila dan UUD 1945 dengan meletakkan kepentingan publik di atas segalanya, bahkan rela hidup dalam kesahajaan ekstrem demi menjaga integritas publik.

    Namun, pasca-Reformasi, lanskap kepemimpinan nasional mengalami pergeseran paradigma yang mengkhawatirkan. Indonesia saat ini mengalami surplus politisi tetapi minus negarawan. Orientasi kekuasaan yang semula berfungsi sebagai instrumen kesejahteraan umum telah terdegradasi menjadi sekadar alat perburuan rente, pengamanan logistik kelompok, dan pelestarian dinasti. Krisis multidimensional yang melanda bangsa hari ini mulai dari krisis hukum, etika kepemimpinan, hingga ketimpangan ekonomi. Akar masalahnya bermuara pada satu hal: hilangnya jiwa negarawan dalam struktur kekuasaan.

    Perbedaan Negarawan dengan Politisi

    Untuk memahami kedalaman krisis ini, kita harus membedakan secara tegas anatomi moral, orientasi, dan psikologi politik antara seorang negarawan dan politisi melalui lensa para pemikir:

    Negarawan

    Cara berpikir negarawan melintasi generasi (“Next Generation”). Fokus utamanya adalah keberlanjutan peradaban, keadilan sosial, dan kejayaan bangsa dalam jangka panjang.

    Menurut Cendekiawan Muslim Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii) semasa hidupnya sering menegaskan bahwa “negarawan murni memikirkan nasib dan moralitas bangsa, bukan menjadikan panggung politik sebagai ladang mata pencaharian privat”. Senada dengan itu, pakar sosiologi kebangsaan Yudi Latif menggarisbawahi esensi terdalam seorang negarawan: “Negarawan adalah mereka yang memberikan seluruh jiwa raganya untuk negara, mereka fokus pada apa yang bisa diberikan kepada tanah airnya.”

    Komitmen Etis: Dipandu oleh integritas, prinsip moral yang kaku, dan kesetiaan mutlak pada konstitusi. Konsep diri mereka sudah selesai; kekuasaan diartikan sebagai beban tanggung jawab, bukan fasilitas personal.

    Politisi (Politician):

    Cakrawala Berpikir: Dibatasi oleh siklus pemilu lima tahunan (“Next Election”). Orientasi mereka berkutat pada bagaimana cara mempertahankan atau merebut kembali kekuasaan.

    Mengutip ungkapan klasik dari teolog James Freeman Clarke yang sering dirujuk dalam sosiologi politik modern: Seorang politisi berpikir tentang pemilihan berikutnya; seorang negarawan berpikir tentang generasi berikutnya. Tokoh akademisi seperti Prof. Syafiq A. Mughni menambahkan catatan kritis bahwa politisi kontemporer sering kali terjebak dalam wilayah abu-abu pragmatisme, di mana mereka bahkan kerap mengorbankan konsistensi ucapan demi kompromi politik sesaat.

    Komitmen Etis: Bersifat transaksional, partisan, dan pragmatis. Kebijakan sering kali didasarkan pada kalkulasi popularitas sesaat (populisme) atau kompromi untuk memuaskan penyandang dana (oligarki).

    Faktor Utama Penyebab Defisit Negarawan

    Surplus politisi pragmatis dan kelangkaan negarawan tidak terjadi di ruang hampa, melainkan akibat dari desain sistemik pasca-Reformasi:

    Sistem Politik Berbiaya Tinggi (High-Cost Democracy) Pemilu langsung dengan sistem proporsional terbuka menuntut modal logistik yang sangat besar. Ilmuwan politik Burhanuddin Muhtadi dalam studinya mengenai money politics menunjukkan bahwa biaya pemilu yang masif memaksa kandidat mencari pendanaan instan, memicu transaksi gelap dengan pemodal politik.

    Komersialisasi dan Kartelisasi Partai Politik Analisis kartel politik dari Dan Slater menjelaskan bagaimana partai politik di Indonesia telah bergeser dari kawah candradimuka ideologis menjadi partai kartel.Partai-partai ini bekerja sama untuk berburu rente ekonomi demi kelangsungan hidup organisasi, mengesampingkan kaderisasi negarawan berintegritas.

    Hilangnya Ujian Penderitaan (Lack of Ideological Agony) Berbeda dengan generasi pra-kemerdekaan yang ditempa oleh penjara, pengasingan, dan kemiskinan struktur kolonial, politisi kontemporer lahir dari kenyamanan instan, dinasti politik, atau jalur popularitas media sosial tanpa melalui proses dialektika pemikiran yang matang.

    Hukum yang Kompromistis: Lemahnya penegakan hukum terhadap korupsi politik membuat jabatan publik dipandang sebagai investasi ekonomi dengan tingkat pengembalian modal (return on investment) yang tinggi.

    Solusi Strategis untuk Mengatasinya (Penajaman Institusional)

    Untuk memutus ekosistem yang melanggengkan surplus politisi pragmatis dan memicu kelangkaan negarawan, diperlukan intervensi struktural yang radikal melalui empat pilar reformasi kebijakan ketatanegaraan:

    1. Dekartelisasi dan Demokratisasi Internal Partai Politik (Democratic Internal Party Governance)

    Secara legal-formal, partai politik harus dipaksa keluar dari cengkeraman kepemilikan personal/oligarkis. Solusi strategisnya adalah merevisi UU Partai Politik dengan menyisipkan klausul kewajiban implementasi primary election (pemilihan awal yang melibatkan akar rumput) yang diawasi oleh lembaga independen (seperti KPU) untuk menentukan kandidat eksekutif dan legislatif. Sanksi administratif berupa pembekuan hak mengikuti pemilu harus diterapkan bagi partai yang menetapkan calon berdasarkan penunjukan oligarkis sepihak (nepotistic appointment). Langkah ini akan menggeser seleksi kepemimpinan dari basis mahar politik ke basis meritokrasi, kompetensi, dan rekam jejak etis.

    2. Restrukturisasi Pendanaan Politik melalui State-Funded Parties yang Akuntabel

    Untuk memutus rantai ketergantungan politisi pada donatur ilegal (cukong), Indonesia harus mengadopsi model pembiayaan publik partai politik (public funding for political parties) secara substansial, meniru keberhasilan sebagian negara Skandinavia. Negara mendanai hingga 60-70% kebutuhan operasional partai berdasarkan proporsi raihan suara pada pemilu sebelumnya. Sebagai timbal balik wajib (quid pro quo), keuangan partai harus tunduk pada audit investigatif berkala oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan diumumkan secara transparan ke publik. Setiap aliran dana di luar koridor hukum (off-budget financing) berimplikasi langsung pada diskualifikasi kepesertaan partai.

    3. Institusionalisasi Code of Conduct dan Hukum Etika Publik Berdaya Ikat Tinggi

    Sanksi moral terbukti gagal di Indonesia karena ketiadaan daya paksa hukum. Solusinya adalah menyusun Undang-Undang Etika Penyelenggara Negara (Public Ethics Act). Regulasi ini mengonversi pelanggaran etika berat (seperti konflik kepentingan, perdagangan pengaruh atau influence peddling, serta pembentukan dinasti politik yang tidak patut) menjadi pelanggaran hukum formal yang berkonsekuensi pada permanent disqualification (pemecatan dan pencabutan hak politik seumur hidup). Dewan Etik harus diisi oleh figur non-partisan independen (akademisi murni, hakim agung purnatugas, dan tokoh masyarakat) dengan kewenangan eksekutorial, bukan sekadar memberikan rekomendasi normatif.

    4. Reformasi Sistem Pemilu untuk Mereduksi High-Cost Democracy

    Perlu ada evaluasi terhadap sistem proporsional terbuka yang memicu kanibalisme politik antar-kader internal. Salah satu opsi alternatif ilmiah adalah menerapkan Sistem Campuran (Mixed-Member Proportional/MMP) atau memperketat pembatasan pengeluaran dana kampanye (cap on campaign spending) secara digital melalui integrasi sistem perbankan. Penegakan hukum yang tegas terhadap vote buying (politik uang) dengan sanksi diskualifikasi instan terhadap paslon—bukan sekadar pidana kurungan bagi pelaksana lapangan—akan menurunkan nilai keekonomian dari modal kontestasi politisi, sehingga membuka ruang bagi figur negarawan miskin logistik namun kaya gagasan untuk bertarung secara adil.

    Kesimpulan

    Kemerdekaan Indonesia yang kini memasuki usia 81 tahun dibayar oleh air mata, darah, dan kesahajaan hidup para negarawan masa lalu. Sungguh sebuah ironi historis yang menyakitkan jika warisan luhur tersebut harus bangkrut di tangan generasi politisi pragmatis yang rakus kekuasaan. Indonesia tidak kekurangan orang pintar, Indonesia mengalami inflasi politisi berwawasan kerdil dan defisit negarawan berjiwa besar.

    Menyelamatkan masa depan bangsa ini tidak bisa lagi sekadar berharap pada kebaikan personal individu, melainkan harus dipaksakan melalui reformasi sistemik atas mesin politik kita. Hanya dengan memotong rantai politik transaksional melalui penataan regulasi partai, pendanaan negara yang ketat, dan penegakan hukum etika publik, kita dapat memberikan jalan bagi lahirnya kembali Hatta-Hatta baru dan Natsir-Natsir baru yang siap memimpin dengan otak yang penuh ilmu serta hati yang selesai dengan urusan duniawi.