Category: Nasional


  • Oleh : Alpin Pengiat Media & Medsos

    Mengenal Sosok Ust. Syafrizen, S.H.,Datuak Rang Batuah, Polisi Niniak Mamak yang Humanis dan Menjunjung Nilai Keteladanan

    Oleh : Alpin Pengiat Media & Medsos

    Di tengah kehidupan yang semakin dinamis, masyarakat tidak hanya membutuhkan sosok pemimpin yang cakap dalam menjalankan tugas, tetapi juga figur yang mampu menghadirkan keteladanan melalui sikap dan perilaku sehari-hari. Kepemimpinan sejatinya bukan hanya tentang jabatan, pangkat, maupun kewenangan, melainkan tentang bagaimana seseorang mampu memberikan manfaat, menghargai sesama, dan menjadi contoh yang baik bagi lingkungan di sekitarnya.

    Salah satu sosok yang mencerminkan nilai tersebut adalah Ust. Syafrizen, S.H., seorang anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang bertugas di Polres Pesisir Selatan (Pessel) sebagai Wakil Kepala Kepolisian Resor (Wakapolres). Di tengah kesibukannya menjalankan tugas sebagai aparat penegak hukum, beliau dikenal sebagai sosok yang sederhana, humanis, mudah bergaul, serta memiliki kepedulian yang kuat terhadap nilai-nilai agama dan adat.

    Bagi sebagian masyarakat, Ust. Syafrizen bukan sekadar seorang pejabat kepolisian. Beliau juga dikenal sebagai sosok Polisi Niniak Mamak, sebuah gambaran figur yang berusaha memadukan tanggung jawab kedinasan dengan nilai-nilai adat, agama, dan kehidupan bermasyarakat.

    Sosok yang Memuliakan Setiap Orang

    Salah satu hal yang membuat Ust. Syafrizen disegani adalah caranya memperlakukan orang lain. Beliau senantiasa berusaha memuliakan siapa pun yang berinteraksi dengannya tanpa melihat latar belakang, kedudukan, maupun status sosial.

    Dalam kehidupan bermasyarakat, terkadang seseorang lebih mudah menghormati orang yang memiliki jabatan tinggi, kekayaan, atau pengaruh. Namun, keteladanan justru terlihat ketika seseorang tetap mampu memberikan penghormatan yang sama kepada siapa saja.

    Ust. Syafrizen dikenal tidak membangun jarak yang berlebihan dengan masyarakat. Beliau senang menyapa, berbicara, bercanda, dan tertawa bersama orang-orang di sekitarnya. Sikap tersebut membuat kehadiran beliau terasa dekat dan tidak kaku.

    Humanisme seperti ini sangat penting, terutama bagi seorang aparat kepolisian. Polisi bukan hanya bertugas menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga merupakan bagian dari masyarakat. Ketika seorang polisi mampu membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat, maka akan tumbuh rasa saling percaya yang menjadi modal penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan harmonis.

    Kesederhanaan yang Menjadi Karakter

    Di tengah kehidupan yang sering kali menjadikan kemewahan sebagai simbol keberhasilan, kesederhanaan merupakan sebuah nilai yang semakin berharga.

    Ust. Syafrizen dikenal menjalani kesehariannya secara sederhana dan tidak berlebihan. Kesederhanaan tersebut bukan berarti mengurangi wibawa sebagai seorang pejabat kepolisian. Justru, sikap sederhana dapat menjadi kekuatan moral karena menunjukkan bahwa seseorang tidak menjadikan jabatan sebagai alasan untuk hidup dengan penuh jarak terhadap masyarakat.

    Jabatan adalah amanah. Pangkat adalah tanggung jawab. Kedudukan adalah kesempatan untuk memberikan manfaat.

    Pemahaman seperti itulah yang tercermin dari sosok yang mampu tetap bersahaja meskipun memiliki tanggung jawab besar dalam pekerjaannya.

    Kesederhanaan juga membuat seseorang lebih mudah diterima oleh masyarakat. Orang tidak merasa sungkan untuk berkomunikasi, menyampaikan persoalan, atau sekadar bersilaturahmi.

    Tegur Sapa yang Menghilangkan Jarak

    Salah satu kebiasaan sederhana yang memiliki makna besar adalah tegur sapa.

    Ust. Syafrizen dikenal sebagai pribadi yang tidak segan menyapa siapa saja. Hal kecil seperti tersenyum, menanyakan kabar, atau bercanda bersama dapat menjadi jembatan yang menghubungkan satu manusia dengan manusia lainnya.

    Dalam kehidupan sosial, komunikasi tidak selalu harus dimulai dengan pembicaraan besar. Terkadang sebuah sapaan sederhana mampu membuat seseorang merasa dihargai.

    Inilah salah satu bentuk kepemimpinan yang sering kali tidak tertulis dalam aturan kedinasan, tetapi sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

    Seorang pemimpin yang mampu menyapa bawahannya, masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, orang tua, maupun generasi muda secara wajar akan menciptakan suasana yang lebih terbuka. Orang-orang pun tidak merasa takut untuk berkomunikasi.

    Humanis dan Suka Canda Tawa

    Keseriusan dalam menjalankan tugas tidak berarti seseorang harus selalu tampil kaku.

    Ust. Syafrizen dikenal sebagai sosok yang humanis dan senang bercanda serta tertawa bersama orang-orang di sekitarnya. Sikap tersebut menunjukkan bahwa beliau mampu menempatkan diri sesuai dengan suasana.

    Humor yang sehat dapat menjadi sarana membangun kedekatan. Dalam banyak situasi, canda dan tawa dapat mencairkan suasana yang sebelumnya terasa tegang.

    Namun, nilai penting dari sikap tersebut adalah kemampuan untuk tetap menjaga batas dan etika. Seorang aparat tetap harus memiliki kewibawaan, tetapi kewibawaan tidak selalu lahir dari sikap keras. Wibawa juga dapat muncul dari keramahan, ketegasan yang proporsional, kejujuran, serta kemampuan menghargai orang lain.

    Taat kepada Allah SWT

    Di balik kesederhanaan dan sikap humanisnya, salah satu hal yang paling menonjol dari sosok Ust. Syafrizen adalah komitmennya terhadap kehidupan beragama.

    Beliau dikenal sebagai pribadi yang berusaha taat kepada Allah SWT dan menjadikan agama sebagai bagian penting dalam menjalani kehidupan.

    Keteladanan tersebut salah satunya terlihat ketika waktu salat telah tiba. Sesibuk apa pun pekerjaan yang sedang dikerjakan, beliau berusaha meninggalkan pekerjaan tersebut sejenak untuk menunaikan salat.

    Sikap ini memiliki pesan pendidikan yang sangat dalam.

    Pekerjaan memang penting. Tanggung jawab kedinasan juga penting. Melayani masyarakat merupakan kewajiban. Namun, bagi seorang hamba, hubungan dengan Allah SWT merupakan dasar dari seluruh kehidupan.

    Ketika seseorang memahami bahwa dirinya adalah ciptaan Allah, maka ia akan menyadari bahwa hidup bukan semata-mata tentang mengejar kedudukan, harta, maupun kesuksesan duniawi. Ada kewajiban kepada Sang Pencipta yang tidak boleh dilupakan.

    Menempatkan Salat di Tengah Kesibukan

    Kehidupan modern sering membuat manusia terjebak dalam kesibukan. Pekerjaan, rapat, perjalanan, urusan keluarga, bisnis, komunikasi, dan berbagai aktivitas lainnya terkadang membuat waktu berjalan begitu cepat.

    Dalam kondisi seperti itu, salat sering kali menjadi salah satu kewajiban yang terlupakan atau ditunda.

    Padahal, salat merupakan kewajiban utama bagi umat Islam.

    Apa yang dicontohkan Ust. Syafrizen memberikan pelajaran bahwa kesibukan seharusnya tidak menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban kepada Allah SWT.

    Ketika waktu salat masuk, pekerjaan dapat dihentikan sejenak. Setelah ibadah selesai, pekerjaan dapat dilanjutkan kembali.

    Prinsip sederhana ini sebenarnya mengandung pendidikan karakter yang sangat kuat: manusia bekerja untuk hidup, tetapi jangan sampai kesibukan hidup membuat manusia melupakan tujuan penciptaannya.

    Menghormati yang Lebih Tua

    Nilai lain yang patut diteladani dari Ust. Syafrizen adalah sikap menghormati orang yang lebih tua.

    Dalam budaya Minangkabau, penghormatan kepada orang yang lebih tua merupakan bagian penting dari tata kehidupan sosial. Seorang yang lebih tua bukan hanya dipandang berdasarkan usia, tetapi juga pengalaman, pengetahuan, serta nilai-nilai kehidupan yang dimilikinya.

    Menghormati yang lebih tua bukan berarti merendahkan diri. Sebaliknya, itu merupakan bentuk akhlak dan penghargaan terhadap perjalanan hidup seseorang.

    Sikap seperti ini semakin penting untuk diajarkan kepada generasi muda agar hubungan antargenerasi tetap terjaga.

    Menghargai Sesama dan Menyayangi yang Lebih Muda

    Selain menghormati orang yang lebih tua, Ust. Syafrizen juga dikenal menghargai sesama dan menyayangi yang lebih muda.

    Inilah keseimbangan yang indah dalam kehidupan sosial: yang tua dihormati, yang sebaya dihargai, dan yang muda disayangi.

    Jika nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka akan tercipta lingkungan yang penuh rasa saling menghargai.

    Generasi muda pun membutuhkan figur yang dapat dijadikan contoh. Mereka tidak hanya membutuhkan nasihat dalam bentuk kata-kata, tetapi juga membutuhkan teladan yang dapat dilihat secara langsung.

    Sikap ramah, santun, disiplin, taat beribadah, dan menghargai orang lain adalah pendidikan karakter yang jauh lebih mudah dipahami ketika dicontohkan dalam kehidupan nyata.

    Polisi Niniak Mamak: Memadukan Tugas Negara, Agama, dan Adat

    Sebagai seorang polisi yang juga dikenal dengan identitas sosial sebagai Niniak Mamak, Ust. Syafrizen berada dalam posisi yang menarik. Beliau tidak hanya memiliki tanggung jawab sebagai anggota institusi kepolisian, tetapi juga membawa nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.

    Dalam falsafah Minangkabau dikenal ungkapan “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.”

    Falsafah tersebut menggambarkan eratnya hubungan antara adat dan nilai-nilai agama dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

    Sosok seperti Ust. Syafrizen dapat menjadi gambaran bahwa tugas sebagai aparat negara dan peran sosial di tengah masyarakat dapat berjalan beriringan apabila dilandasi dengan niat yang baik, akhlak, serta tanggung jawab.

    Kepolisian membutuhkan profesionalisme. Masyarakat membutuhkan keteladanan. Agama mengajarkan ketaatan. Adat mengajarkan tata krama dan penghormatan.

    Ketiganya dapat menjadi kekuatan yang saling melengkapi.

    Memuliakan Tamu

    Ada pula satu kebiasaan yang menunjukkan nilai akhlak beliau, yaitu bagaimana beliau menerima dan memuliakan tamu yang datang untuk bertemu.

    Bagi sebagian orang, menerima tamu mungkin dianggap sebagai hal biasa. Namun dalam ajaran agama dan budaya masyarakat Indonesia, memuliakan tamu merupakan sebuah bentuk penghormatan.

    Tamu yang datang membawa harapan untuk didengarkan. Karena itu, memberikan perhatian kepada tamu berarti memberikan penghargaan kepada orang tersebut.

    Sikap seperti ini juga penting dalam dunia pelayanan publik. Masyarakat yang datang menemui seorang pejabat atau aparat kepolisian tentu memiliki kebutuhan, persoalan, atau kepentingan tertentu.

    Dengan sikap ramah dan terbuka, masyarakat akan merasa bahwa kehadirannya dihargai.

    Jabatan Bukan Alasan untuk Membuat Jarak

    Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula godaan untuk membuat jarak dengan masyarakat.

    Namun, keteladanan seorang pemimpin justru terlihat ketika jabatan tidak mengubah cara ia menghargai manusia.

    Ust. Syafrizen menunjukkan bahwa menjadi Wakapolres bukan berarti harus kehilangan kesederhanaan. Menjadi pejabat bukan berarti tidak boleh bercanda. Memiliki kewenangan bukan berarti boleh merendahkan orang lain.

    Sebaliknya, jabatan seharusnya membuat seseorang semakin memahami arti tanggung jawab.

    Semakin tinggi kedudukan, semakin besar pula amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada manusia tetapi juga kepada Allah SWT.

    Keteladanan yang Tidak Banyak Dibicarakan

    Pada zaman sekarang, masyarakat sering melihat keberhasilan seseorang melalui apa yang tampak dari luar: jabatan, kendaraan, rumah, pakaian, popularitas, atau jumlah pengikut di media sosial.

    Padahal, kualitas manusia tidak selalu dapat diukur dari hal-hal tersebut.

    Ada keteladanan yang tidak viral tetapi memiliki nilai besar.

    Ketika seseorang menghentikan pekerjaannya karena waktu salat telah tiba, itu mungkin tidak masuk berita. Ketika seseorang menyapa orang biasa di jalan, mungkin tidak ada yang mengabadikannya. Ketika seorang pejabat menerima tamu dengan ramah, mungkin tidak ada yang membuat konten tentangnya.

    Namun, justru dari hal-hal sederhana itulah karakter seseorang terbentuk.

    Kebaikan tidak selalu membutuhkan panggung.

    Akhlak tidak selalu membutuhkan tepuk tangan.

    Keteladanan yang paling kuat sering kali lahir dari kebiasaan yang dilakukan secara konsisten ketika tidak ada orang yang memperhatikan.

    Pelajaran bagi Generasi Muda

    Sosok Ust. Syafrizen dapat memberikan sejumlah pelajaran penting bagi generasi muda.

    Pertama, jabatan harus dipandang sebagai amanah, bukan sekadar kebanggaan.

    Kedua, kesuksesan tidak harus membuat seseorang hidup berlebihan. Kesederhanaan tetap dapat dipertahankan meskipun seseorang memiliki kedudukan.

    Ketiga, agama harus menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Kesibukan pekerjaan tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban kepada Allah SWT.

    Keempat, hormatilah orang yang lebih tua dan sayangilah generasi yang lebih muda. Kehidupan sosial akan menjadi lebih harmonis jika setiap orang memahami perannya.

    Kelima, jangan membeda-bedakan manusia berdasarkan status. Semua orang layak dihargai dan dimuliakan.

    Keenam, bangun komunikasi dengan keramahan. Tegur sapa sederhana dapat menciptakan hubungan yang jauh lebih baik.

    Menjadi Pemimpin yang Dekat dengan Masyarakat

    Kepemimpinan yang baik bukan hanya tentang memberikan perintah, tetapi juga tentang kemampuan untuk mendengar.

    Seorang pemimpin yang dekat dengan masyarakat akan lebih mudah memahami persoalan yang terjadi di lapangan. Ia dapat melihat persoalan bukan hanya dari laporan tertulis, tetapi juga dari pengalaman langsung masyarakat.

    Keramahan dan keterbukaan Ust. Syafrizen menjadi modal sosial yang penting dalam menjalankan tugasnya.

    Masyarakat membutuhkan aparat yang tegas ketika menghadapi pelanggaran, tetapi masyarakat juga membutuhkan aparat yang mampu mendengar ketika mereka memiliki persoalan.

    Ketegasan dan humanisme bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan bersama.

    Seorang polisi dapat tegas terhadap aturan, tetapi tetap santun terhadap manusia.

    Akhlak yang Harus Dijaga di Tengah Perubahan Zaman

    Perubahan zaman membawa banyak kemudahan, tetapi juga membawa tantangan terhadap karakter manusia.

    Media sosial membuat seseorang mudah berbicara, tetapi tidak selalu mudah menghargai.

    Kemajuan teknologi membuat komunikasi semakin cepat, tetapi belum tentu membuat hubungan antarmanusia semakin dekat.

    Karena itu, nilai-nilai seperti sopan santun, menghormati orang tua, menyayangi yang muda, memuliakan tamu, menyapa sesama, hidup sederhana, serta taat beribadah menjadi semakin penting untuk dipertahankan.

    Keteladanan dari sosok seperti Ust. Syafrizen mengingatkan kita bahwa kemajuan zaman tidak boleh membuat manusia kehilangan akhlaknya.

    Penutup, Keteladanan dari Hal-Hal Sederhana

    Mengenal sosok Ust. Syafrizen, S.H. bukan hanya tentang mengenal seorang pejabat kepolisian yang bertugas sebagai Wakapolres Pesisir Selatan. Lebih dari itu, beliau dapat dilihat sebagai figur yang berusaha menjalankan kehidupan dengan menggabungkan tanggung jawab, kesederhanaan, nilai agama, adat, dan kepedulian terhadap sesama.

    Sosok yang menghormati yang lebih tua, menghargai sesama, menyayangi yang lebih muda, ramah kepada masyarakat, senang tegur sapa, suka bercanda dan tertawa, serta senantiasa berusaha memuliakan tamu.

    Yang paling penting, keteladanan tersebut terlihat dari komitmennya dalam menjaga kewajiban kepada Allah SWT. Ketika waktu salat tiba, pekerjaan yang sedang dilakukan dapat ditinggalkan sejenak demi memenuhi panggilan ibadah.

    Pesan yang dapat kita ambil sangat sederhana, tetapi dalam maknanya:

    Jangan sampai kesibukan membuat kita lupa kepada Allah. Jangan sampai jabatan membuat kita lupa kepada manusia. Dan jangan sampai kesuksesan membuat kita kehilangan kesederhanaan.

    Karena pada akhirnya, manusia bukan dinilai hanya dari apa yang dimilikinya, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang lain dan bagaimana ia menjalankan amanah yang diberikan kepadanya.

    Semoga keteladanan Ust. Syafrizen, S.H. dapat terus menjadi inspirasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, bahwa menjadi pribadi yang kuat tidak harus keras, menjadi pemimpin tidak harus berjarak, dan memiliki jabatan tidak harus hidup berlebihan.

    Sebab sebaik-baiknya kedudukan adalah ketika ia mampu menjadi jalan untuk memberikan manfaat, dan sebaik-baiknya kehidupan adalah ketika manusia tetap mengingat siapa yang menciptakannya.



  • Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan

    (Tenaga Ahli Pemko Padang)

    BENCANA BANJIR KOTA PADANG; TINJAUAN DARI PERSPEKTIF EKOLOGIS, PLANALOGIS, SOSIOLOGIS DAN TEOLOGIS

    Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan

    (Tenaga Ahli Pemko Padang)

    Pendahuluan

    Bencana banjir di Kota Padang bukan lagi sekadar fenomena alam musiman, melainkan sebuah krisis multidimensional yang kompleks. Secara topografis, Kota Padang terjepit di antara Samudera Hindia di sisi barat dan dinding terjal Bukit Barisan di sisi timur, menciptakan karakteristik wilayah koridor sempit dengan potensi hidrologis yang sangat dinamis.

    Perspektif teologis kontemporer memandang bahwa alam diciptakan dalam tatanan yang seimbang (mizan). Dalam QS. Al-Qamar [54]: 49, Allah menegaskan: *Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takaran) Curah hujan yang turun dari langit pada dasarnya telah diukur volumenya agar selaras dengan kapasitas daya tampung geografis bumi. Namun, mengapa takaran yang presisi ini berujung pada bencana banjir destruktif di Kota Padang? Kajian ini akan membedah bagaimana kerusakan ekologi buatan manusia (anthropogenic damage) mendistorsi sistem takaran ilahi tersebut, memicu malapetaka ruang, dan bagaimana solusinya secara struktural maupun kultural.

    Kondisi Ril Lingkungan Hidup di Kota Padang Saat Ini

    Kondisi lingkungan hidup Kota Padang saat ini berada dalam status siaga kritis ekologis, dicirikan oleh ketidakseimbangan akut antara infrastruktur kota dan daya dukung alamnya:

    Timbulan Sampah Masif: Kota Padang memproduksi sekitar 700 hingga 750 ton sampah per hari, di mana kapasitas reduksi mandiri di tingkat hulu masih sangat minim.

    Krisis Daerah Resapan: Studi planologi berbasis lanskap menunjukkan bahwa kawasan tangkapan air di sektor barat dan tengah Kota Padang telah mencapai tahap kritis karena tertutup oleh perkerasan beton dan aspal.

    Kerapuhan Jalur Aliran Air: Struktur topografi Padang dialiri oleh 21 aliran sungai (termasuk 4 sungai besar: Batang Arau, Batang Kuranji, Batang Air Dingin, dan Batang Kandis). Saat ini, hampir seluruh badan sungai tersebut mengalami pendangkalan parah akibat sedimentasi lumpur dari hulu serta sumbatan sampah domestik di area hilir.

    Faktor Penyebab Banjir di Kota Padang

    Banjir di Kota Padang terjadi akibat akumulasi faktor biofisik, kegagalan tata ruang, dan degradasi moralitas sosiologis, yang berakar pada ketidakseimbangan sistemik:

    Kerusakan DAS dan Ekologi Hulu: Pembalakan liar dan konversi hutan lindung di kawasan perbukitan timur (seperti di Kecamatan Pauh dan Lubuk Kilangan) merusak Daerah Aliran Sungai (DAS). Air hujan tidak lagi meresap ke dalam tanah, melainkan langsung meluncur ke bawah sebagai surface runoff (air limpasan permukaan).

    Inkonsistensi Tata Ruang (Planologi): Daerah rawa, situ, dan kawasan genangan alami yang berfungsi sebagai “spons” penahan air kini beralih fungsi secara masif menjadi kawasan perumahan dan ruko, terutama di zona pertumbuhan baru seperti Kecamatan Koto Tangah. Hal ini melanggar daya dukung lingkungan yang tertuang dalam perencanaan wilayah.

    Disfungsi Sistem Drainase Kota. Saluran drainase perkotaan banyak yang mati, menyempit, atau tidak terintegrasi secara hidrologis. Banyak sistem drainase primer dipaksa menampung volume air yang melampaui kapasitas desainnya.

    Faktor Sosiologis dan Perilaku Warga: Sosiolog memandang adanya anomi sosial, di mana sebagian masyarakat abai terhadap lingkungan sekitar. Sampah dibuang ke saluran air, parit, dan sungai, yang kemudian menyumbat simpul-simpul drainase kota.

    Korelasi Curah Hujan dan Teologi Kontemporer: Secara fisik, curah hujan di Padang memang tinggi. Namun secara teologis, hujan adalah rahmat yang volumenya diturunkan berdasarkan takaran keseimbangan alam. Krisis terjadi karena manusia merusak wadah penampung takaran tersebut. QS. Ar-Rum [30]: 41 menyatakan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…

    Banjir bukan takdir mutlak dari Allah, melainkan dampak dari hilangnya kapasitas tampung bumi akibat keserakahan dan kelalaian manusia (human-made disaster).

    Kerugian Materi dan Immateri Akibat Bencana Banjir

    Bencana banjir berulang di Kota Padang menimbulkan dampak kerugian yang masif:

    Kerugian Materi: kerusakan ribuan rumah warga, tenggelamnya fasilitas pendidikan dan ibadah, kerusakan kendaraan, serta gagal panen komoditas pertanian di daerah Koto Tangah. Terjadi pula kerusakan infrastruktur publik seperti jebolnya tanggul darurat, jembatan runtuh, dan aspal jalan yang mengelupas.

    Kerugian Immateri: Trauma psikologis yang mendalam pada anak-anak dan lansia setiap kali hujan lebat turun, hilangnya waktu produktif masyarakat akibat aktivitas pembersihan sisa lumpur banjir, gangguan kesehatan massal (seperti penyakit kulit dan pencernaan), hingga hilangnya nyawa korban yang terseret arus banjir bandang.

    Langkah Strategis Pemko Padang untuk Mengatasi Bencana Banjir

    Pemerintah Kota Padang telah menjalankan beberapa program taktis, namun memerlukan percepatan dan konsistensi di lapangan:

    1. Normalisasi dan Pengerukan Sungai: Melakukan pengerukan sedimen secara berkala pada 21 aliran sungai utama dan memperkuat dinding retaining wall (tanggul penahan) sungai yang rawan jebol.

    2. Penegakan Regulasi RTRW: Memperketat pengawasan pemberian izin mendirikan bangunan (IMB) melalui penegakan Perda No. 3 Tahun 2019 tentang RTRW Kota Padang, terutama melarang pembangunan hunian di zona lindung, bantaran sungai, dan kawasan resapan air.

    3. Masterplan Drainase Terintegrasi: Memperbaiki konektivitas drainase makro dan mikro perkotaan serta membuat sistem polder atau kolam retensi buatan di area dataran rendah.

    4. Inovasi Pengelolaan Sampah: Menjajaki pembangunan teknologi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Air Dingin guna memotong rantai tumpukan sampah harian, serta menggalakkan Bank Sampah di tingkat kelurahan.

    5. Opsi Relokasi Hunian: Menyediakan fasilitas rumah hunian tetap bagi warga yang tinggal di zona merah rawan banjir bandang atau bantaran sungai kritis.

    Kesimpulan

    Bencana banjir di Kota Padang merupakan akibat langsung dari ketidakseimbangan ekosistem akibat ulah manusia, di mana kerusakan DAS di hulu, penyumbatan parah oleh 700 ton sampah harian, disfungsi drainase, dan inkonsistensi tata ruang berpadu merusak daya tampung alami kota. Banjir terjadi bukan karena takaran hujan dari Allah yang berlebih, melainkan karena manusia telah menghancurkan takaran wadah di bumi yang seharusnya menampung air tersebut. Pengabaian terhadap keseimbangan alam ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah manusia sebagai khalifah fil ard (pemimpin di muka bumi) yang diperintahkan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

    Rekomendasi

    Untuk percepatan penanggulangan banjir di kota Padang, tertumpang beberapa rekomendasi sebagai berikut:

    1. Pendekatan Planologi: Hentikan total alih fungsi lahan di daerah resapan air dan kawasan rawa; wajibkan setiap pembangunan perumahan baru menyediakan sumur resapan (biopori) serta menyisihkan 30% areanya untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) produktif.

    1. Pendekatan Ekologi: Lakukan moratorium pembalakan di kawasan perbukitan hulu dan galakkan reboisasi masif pada DAS 21 sungai di Padang untuk mengembalikan fungsi hidrologis hutan.

    2. Pendekatan Sosiologis & Budaya Terapkan sanksi tindak pidana ringan (tipiring) yang tegas bagi warga yang membuang sampah sembarangan, serta optimalkan kembali Lembaga Pengelola Sampah (LPS) berbasis komunitas di tingkat rukun tetangga.

    3. Pendekatan Teologis Kontemporer: Masukkan materi Fikih Lingkungan (Eco-Theology) ke dalam khutbah Jumat, pengajian, dan kurikulum muatan lokal sekolah di Kota Padang untuk membangun kesadaran transendental bahwa menjaga kebersihan drainase dan menanam pohon adalah bagian dari ibadah kepada Allah SWT.



  • Tarusan Viral! Semarak HUT RI ke-81, Warga Bersatu dalam Semangat Kemerdekaan

    TARUSAN — Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 mulai terasa meriah di Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan. Berbagai kegiatan perlombaan dipusatkan di halaman Kantor Camat Koto XI Tarusan dan mendapat antusiasme luar biasa dari masyarakat, Kamis 13/8/2026

    Beragam perlombaan digelar untuk memeriahkan momentum kemerdekaan, mulai dari solo song, futsal putra dan putri, tarik tambang putra dan putri, kasidah antar-Majelis Taklim, hingga berbagai perlombaan lainnya.

    Kegiatan tersebut bukan sekadar ajang perlombaan. Lebih dari itu, semangat HUT RI menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, membangun kebersamaan, serta menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air.

    Semarak kegiatan mendapat dukungan penuh dari unsur Forkopimca Koto XI Tarusan, di antaranya Camat Koto XI Tarusan Nurlaini, SE., M.Si., Danramil Tarusan Lettu Antoni, Kapolsek Tarusan Iptu Irfan Chandra, SH, serta dukungan dari Niniak Mamak, Alim Ulama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda.

    Camat Koto XI Tarusan, Nurlaini, menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah bekerja dengan sungguh-sungguh dalam mempersiapkan dan menyukseskan rangkaian kegiatan.

    Menurutnya, kekompakan panitia dan dukungan seluruh elemen masyarakat telah membuat suasana Tarusan semakin hidup. Bahkan, kemeriahan tersebut menjadi perhatian masyarakat yang melintas di jalur Padang–Painan, hingga sampai ketelinga  perantau.

    “Semangat seperti inilah yang harus terus kita jaga. Kemerdekaan bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga menjadi energi bagi kita untuk terus bersatu, berkarya dan membangun daerah,” demikian semangat yang tercermin dalam kegiatan tersebut.

    Dari Tarusan untuk Indonesia

    Semarak HUT RI ke-81 di Tarusan membuktikan bahwa kemerdekaan dapat dirayakan dengan cara yang sederhana, namun penuh makna. Lapangan perlombaan menjadi tempat bertemunya berbagai kalangan masyarakat, bersatu dalam tawa, sportivitas dan kebersamaan.

    Pesannya jelas, berbeda dalam latar belakang, tetapi tetap satu dalam semangat persaudaraan.

    Dari Tarusan, semangat kemerdekaan kembali digaungkan. Bukan hanya dengan bendera dan perlombaan, tetapi dengan gotong royong, persatuan dan optimisme untuk membangun masa depan yang lebih baik.

    Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka! Bersatu, bergerak, dan terus berkarya untuk Indonesia.(Alpin)



  • Hujan Deras, Bukit Kaciak Amping Parak Timur Terendam Banjir

    Pesisir Selatan — nrtvnews.com Hujan yang mengguyur Kabupaten Pesisir Selatan sejak sore hingga malam hari menyebabkan banjir di kawasan Bukit Kaciak, Nagari Amping Parak Timur, Kecamatan Sutera, Sabtu 15/8/2026

    Akibat hujan tersebut, air menggenangi sejumlah rumah warga. Kondisi ini membuat aktivitas masyarakat setempat terganggu, terutama warga yang rumahnya berada di kawasan yang kerap terdampak banjir.

    Warga berharap kondisi tersebut mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah, mengingat lokasi Bukit Kaciak merupakan salah satu kawasan yang rawan mengalami banjir ketika hujan dengan intensitas tinggi turun dalam waktu cukup lama.

    Masyarakat berharap pemerintah dapat melakukan langkah penanganan dan pencegahan, seperti mengevaluasi kondisi saluran air serta mencari solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir di kawasan tersebut.

    Warga juga berharap perhatian pemerintah tidak hanya diberikan saat banjir terjadi, tetapi melalui upaya penanganan yang berkelanjutan agar masyarakat di kawasan rawan banjir Kecamatan Sutera dapat merasa lebih aman saat hujan deras melanda.(Alpin)



  • Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan

    (Wakil Ketua ICMI ORWIL Sumbar)

    SUDAH 81 TAHUN INDONESIA MARDEKA, MASIH JAUHKAH TERMINAL KESEJAHTERAAN DAN KEADILAN SOSIAL UNTUK RAKYATNYA

    Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan

    (Wakil Ketua ICMI ORWIL Sumbar)

    Pendahuluan

    Refleksi 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia membawa bangsa ini pada sebuah titik balik krusial. Paradoks pembangunan menjadi pemandangan yang tidak dapat dihindari: di satu sisi, megaproyek infrastruktur dan angka makroekonomi dipamerkan sebagai prestasi; di sisi lain, realitas sosial menunjukkan ketimpangan yang lebar.

    Kemerdekaan yang diraih dengan tumpahan darah bukan sekadar ritual pelepasan dari kolonialisme fisik, melainkan sebuah kontrak sosial tertinggi untuk mewujudkan keadilan yang utuh. Menatap data faktual hari ini, Indonesia sedang berada dalam ujian eksistensial, di mana deretan angka statistik berbenturan keras dengan narasi kesejahteraan rakyat.

    Tujuan Merdeka

    Konstitusi secara rigid telah menggariskan cetak biru peradaban Indonesia. Dalam Pembukaan UUD 1945 Alinea IV, tujuan fundamental negara ini berdiri sangat jelas:

    1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

    2. Memajukan kesejahteraan umum.

    3. Mencerdaskan kehidupan bangsa.

    4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial

    Secara teologis, misi suci konstitusi ini sejalan dengan konsep Maqashid asy-Syariah (tujuan hukum Islam), yaitu menjaga jiwa (hifzhun nafs), menjaga akal (hifzhul ‘aql), menjaga harta (hifzhul maal), dan menjaga keturunan (hifzhun nasl).

    Negara bertugas menjadi pelindung martabat kemanusiaan, bukan sekadar fasilitator korporasi atau penumpuk utang.

    Kondisi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Saat Ini

    Membaca potret Indonesia hari ini memerlukan kejujuran berbasis data empiris terupdate (Badan Pusat Statistik, Kemenkeu, dan lembaga riset nasional).

    Secara makro, pertumbuhan ekonomi di angka 5,29% dengan pendapatan per kapita Rp6,97 juta per bulan memberikan kesan bahwa Indonesia sedang bergerak menuju status high-income country. Namun, pertumbuhan ini mengalami bias pertumbuhan agregat yang tidak merata. Fakta bahwa 8,07% penduduk (22,93 juta jiwa) masih hidup di bawah garis kemiskinan, 4,65% angka pengangguran terbuka, serta 19,8% anak-anak menderita stunting (gizi buruk kronis) membuktikan adanya defisit keadilan distributif. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini tidak dirasakan oleh akar rumput akibat daya beli yang tergerus dan sempitnya lapangan kerja berkualitas.

    Multi Krisis

    Indonesia tidak sedang menghadapi kendala teknis biasa, melainkan sebuah akumulasi krisis multidimensi yang saling mengunci.

    Krisis Ekonomi & Utang Beban utang negara yang menembus Rp10.293,69 triliun menciptakan tekanan fiskal yang berat pada APBN. Sebagian besar ruang fiskal habis hanya untuk membayar cicilan pokok dan bunga utang, memotong alokasi subsidi riil bagi rakyat miskin.

    Krisis Hukum & Korupsi: Hukum di Indonesia kerap dinilai tajam ke bawah, tumpul ke atas. Korupsi yang ditaksir merugikan negara minimal Rp100 triliun per tahun (bahkan laporan ICW mencatat potensi kerugian agregat sempat menyentuh angka ratusan triliun akibat kasus komoditas kakap seperti timah dan nikel) telah mengalami normalisasi struktural.

    Krisis Moral & Keteladanan Para elite politik dan pejabat publik mempertontonkan gaya hidup mewah di tengah penderitaan rakyat. Banyak pemimpin kehilangan legitimasi moral karena terjebak konflik kepentingan, suap, dan kebijakan nepotisme.

    Krisis Lingkungan Hidup: Laju kerusakan hutan yang mencapai 433.751 hektare per tahun merupakan alarm ekologis berbahaya. Deforestasi masif demi pertambangan dan perkebunan monokultur memicu bencana hidrometeorologi (banjir, longsor) di berbagai daerah, yang ironisnya memiskinkan masyarakat adat dan petani lokal.

    Krisis Sosial Budaya Terjadi erosi modal sosial (social capital). Polarisasi politik, maraknya judi online, narkoba. LGBT, tawuran dan begal, komplik horizontal,  depresi struktural di kalangan generasi muda (Gen Z dan Milenial), serta hilangnya budaya gotong royong digantikan oleh individualisme ekstrem akibat tekanan ekonomi.

    Faktor Penyebab dan Solusi Pemerintah

    Faktor Penyebab (Root Causes):

    1. Penerapan Sistem Ekonomi Neoliberalistik: Pembangunan terlalu berorientasi pada pertumbuhan fisik (PDB dan infrastruktur komersial) dan menyerahkan hajat hidup orang banyak pada mekanisme pasar bebas, mengabaikan prinsip Pasal 33 UUD 1945.

    2. Korupsi Sistemik dan State Capture Pelemahan lembaga pengawas dan penegak hukum membuat regulasi sering kali dirancang bukan untuk rakyat, melainkan untuk melayani kepentingan segelintir elite bisnis-politik (oligarki).

    3. Pendidikan yang Kehilangan Jiwa: Institusi pendidikan terjebak menjadi pabrik pencetak tenaga kerja murah, bukan mencerdaskan manusia yang berkarakter dan memiliki integritas moral.

    Solusi yang Harus Dilakukan Pemerintah:

    Untuk mengatasi multi krisis yang melanda Indonesia saat ini diperlukan upaya yang strategis:

    1. Reformasi Fiskal Pro-Rakyat: Mengendalikan laju utang secara ketat dan merealokasikan anggaran belanja pegawai/proyek non-prioritas untuk memperkuat jaring pengaman sosial, menekan stunting, dan menciptakan lapangan kerja sektor riil.

    2. Penegakan Hukum Tanpa Pandang Bulu: Pengesahan RUU Perampasan Aset untuk memiskinkan koruptor, penguatan kembali independensi KPK, dan pembersihan institusi peradilan dari praktik mafia hukum.

    3. Transisi Ekonomi Hijau (Green Economy): Menghentikan pemberian izin konversi hutan alam secara ugal-ugalan, menerapkan audit lingkungan yang ketat terhadap industri ekstraktif, dan mempercepat reforestasi berbasis komunitas.

    4. Meningkatkan Pembinaan Moral, Etika dan Karakter: Moral, etika dan karakter adalah pondasi utama bagi pembangunan bangsa. Kemerdekaan yang diraih 81 tahun lalu merupakan perwujudan dari moral, etika dan karakter para para pejuang yang berlandaskan nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Kerapuhan dan keruntuhan moral, etika dan karakter bangsa sama halnya menuju tenggelamnya kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Rekonstruksi Pembangunan Indonesia ke Depan

    Untuk mengembalikan kompas pembangunan sesuai harapan rakyat dan konstitusi, Indonesia membutuhkan rekonstruksi paradigma secara radikal, bukan sekadar tambal sulam kebijakan.

    1. Rekonstruksi Ekonomi Berbasis Demokrasi Ekonomi (Pasal 33 UUD 1945)

    Ekonomi harus disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan, bukan individualisme modal.

    Lumpuhkan Gurita Oligarki: Cabut monopoli atas sumber daya alam (tanah, air, tambang) dan kembalikan pemanfaatannya sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat melalui optimalisasi BUMN yang bersih dan koperasi.

    Hilirisasi yang Berkeadilan Memastikan proses pengolahan SDA tidak hanya dinikmati investor asing dan korporasi besar, tetapi melibatkan transfer teknologi dan penyerapan tenaga kerja lokal dengan upah yang layak.

    2. Rekonstruksi Sosial-Kemanusiaan dan Pengentasan Stunting

    Menghentikan kemiskinan dan stunting tidak bisa sekadar dengan bagi-bagi bantuan sosial (bansos) menjelang pemilu. Pemerintah wajib membangun Kedaulatan Pangan. Sektor pertanian dan perikanan harus dimodernisasi agar pasokan nutrisi lokal berkualitas dapat diakses secara murah oleh seluruh ibu hamil dan anak-anak di pelosok negeri.

    3. Perspektif Pakar Al-Qur’an, dan Hadis

    Ekonom senior Indonesia acapkali mengingatkan bahwa Pertumbuhan ekonomi tanpa pemerataan adalah ilusi pembangunan yang hanya menanti ledakan sosial.” Jika kue pembangunan hanya dinikmati oleh 1% kelompok terkaya, maka kohesi sosial kita akan hancur.

    Tuntunan perubahan paradigma ini secara benderang tertulis dalam Al-Qur’an Surah Al-Hasyr ayat 7:

    مَاۤ اَفَاۤءَ اللّٰهُ عَلٰى رَسُوْلِهٖ مِنْ اَهْلِ الْقُرٰى فَلِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةًۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ

    “…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…”

    Ayat ini mengutuk keras terjadinya ketimpangan ekstrem di mana kekayaan negara dikuasai oleh segelintir oligarki, sementara rakyat mayoritas berebut remah-remah ekonomi.

    Mengenai hilangnya moralitas dan keteladanan para pemimpin yang memicu kerusakan alam dan maraknya korupsi, Rasulullah SAW memberikan peringatan keras dalam sebuah hadis:

    Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran.” Sahabat bertanya, “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Beliau bersabda, “Apabila urusan (kepemimpinan) diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran.” (HR. Bukhari)

    Kehancuran ekologis (deforestasi 433.751 hektare) dan kebocoran anggaran terjadi karena pemegang otoritas memperlakukan jabatan sebagai komoditas bisnis, bukan amanah ketuhanan.

    Penutup

    Indonesia di usia ke-81 tidak kekurangan modal alam maupun kecerdasan manusia. Yang dialami bangsa ini adalah krisis integritas struktural dan spiritual di tingkat elite. Data kemiskinan, pengangguran, stunting, utang, korupsi, hingga kerusakan lingkungan adalah manifestasi dari pembangunan yang kehilangan kompas moral dan konstitusi.

    Kemerdekaan sejati hanya akan terwujud jika kiblat pembangunan dikembalikan pada jalurnya: menempatkan manusia dan keadilan sosial di atas pertumbuhan angka statistik semu. Tanpa taubat ekologis, taubat nasional dari korupsi, dan rekonstruksi sistem ekonomi yang berpihak pada kaum duafa, narasi Indonesia Emas hanya akan menjadi utopia yang menyisakan beban berat bagi generasi masa depan.



  • Dirgahayu Republik Indonesia, Kemerdekaan Harus Diteruskan melalui Pengabdian

    PADANG — nrtvnews.com Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah perjuangan para pahlawan. Lebih dari itu, kemerdekaan menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa bahwa perjuangan harus terus dilanjutkan melalui kerja nyata, pengabdian, serta kontribusi positif bagi masyarakat, Senin 17/8/2026

    Pesan tersebut disampaikan Cerint Iralloza Tasya, S.Ked., Anggota DPD RI, dalam momentum Dirgahayu Republik Indonesia. Menurutnya, semangat kemerdekaan perlu dimaknai secara lebih luas, tidak berhenti pada upacara dan perayaan, tetapi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

    “Kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan, tetapi tentang meneruskannya dalam setiap pengabdian.”

    Makna tersebut menjadi relevan di tengah tantangan bangsa yang terus berkembang. Kemerdekaan memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan, mengembangkan potensi, menyampaikan gagasan, serta mengambil peran dalam pembangunan.

    Karena itu, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat. Belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja secara jujur, menjaga persatuan, menaati aturan, peduli terhadap lingkungan, serta ikut membantu masyarakat merupakan bentuk sederhana dari pengabdian kepada bangsa.

    Semangat kemerdekaan juga mengajarkan bahwa kemajuan Indonesia tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat. Perbedaan suku, agama, budaya, profesi, maupun latar belakang tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bekerja bersama demi kepentingan bangsa.

    “Semoga Indonesia senantiasa tumbuh sebagai bangsa yang kuat, bersatu, dan berdaya,” ujar Cerint.

    Peringatan Hari Kemerdekaan akhirnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi: apa yang telah kita lakukan untuk Indonesia dan kontribusi apa yang dapat kita berikan ke depan?

    Kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu bangsa akan semakin bermakna apabila setiap generasi mampu menjaganya, mengisinya dengan prestasi, serta meneruskannya melalui pengabdian yang nyata.

    Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Dirgahayu Republik Indonesia( Alpin)



  • Kapolres dan Waka Polres Pesisir Selatan Sampaikan Ucapan Dirgahayu RI ke-81

    PESISIR SELATAN — nrtvnews.com Dalam semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kapolres Pesisir Selatan AKBP Ricky Ricardo, SIK, SH, MH bersama Waka Polres Pesisir Selatan Kompol H. Syafrizen, SH, Datuak Rang Batuah, menyampaikan ucapan Dirgahayu Republik Indonesia ke-81 kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan,Senin 17/8/2026

    Momentum kemerdekaan tidak hanya menjadi ajang mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa untuk terus menjaga persatuan, memperkuat kepedulian, serta bersama-sama membangun Indonesia yang aman, maju, dan sejahtera.

    Kapolres Pesisir Selatan mengajak masyarakat untuk memaknai kemerdekaan dengan hal-hal positif, antara lain menjaga kerukunan, menaati aturan, menjauhi tindakan yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.

    “Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Semoga semangat kemerdekaan terus tumbuh dalam diri kita semua. Mari bersama menjaga persatuan, keamanan, dan ketertiban demi Indonesia yang semakin maju,” demikian pesan Kapolres Pesisir Selatan.

    Senada dengan itu, Waka Polres Pesisir Selatan Kompol H. Syafrizen, SH, Datuak Rang Batuah, mengajak seluruh masyarakat Pesisir Selatan menjadikan peringatan HUT RI sebagai momentum mempererat silaturahmi dan kebersamaan.

    Menurutnya, keamanan dan kemajuan daerah bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi membutuhkan partisipasi seluruh masyarakat. Dengan semangat gotong royong dan rasa persaudaraan, berbagai tantangan dapat dihadapi bersama.

    “Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Salam kemerdekaan untuk seluruh rakyat Indonesia, khususnya masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan. Mari kita jaga persatuan, kedamaian, dan semangat gotong royong untuk Indonesia yang lebih baik,” ujar Waka Polres.

    Peringatan HUT RI ke-81 diharapkan menjadi momentum untuk terus menumbuhkan rasa nasionalisme, menghargai perjuangan para pahlawan, serta mengisi kemerdekaan dengan karya dan kontribusi nyata.

    Dirgahayu Republik Indonesia ke-81!

    Merdeka! (Alpin)



  • Ketua IPSI Pessel Muslim Arif Buka Seleksi Porprov 2026 di  Kambang

    PESISIR SELATAN — Kambang  nrtvnews.info Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Pesisir Selatan, Muslim Arif, resmi membuka kegiatan Seleksi Atlet Pencak Silat menuju Porprov Sumbar 2026 di Lapangan Futsal Keluarga Pasar Kambang, Kecamatan Lenggayang, Minggu (24/5/2026).

    Kegiatan tersebut turut dihadiri Camat Lenggayang Novri, SE, Ketua KONI Pesisir Selatan yang diwakili Ketua Bidang Pembinaan Prestasi (Bimpres) Wawan Kurniawan, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

    Dalam sambutannya, Ketua IPSI Pessel Muslim Arif menegaskan bahwa pencak silat harus menjadi cabang olahraga yang mampu melahirkan prestasi bagi generasi muda Pesisir Selatan.

    Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti seleksi dengan penuh semangat dan menjunjung tinggi sportivitas.

    “Pencak silat harus menjadi prestasi bagi adik-adik semua. Ikuti seleksi ini dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat,” ujarnya.

    Muslim Arif juga menyampaikan apresiasi kepada panitia pelaksana yang telah mempersiapkan kegiatan seleksi secara maksimal dan profesional.

    “Seleksi ini dilaksanakan secara profesional tanpa ada titipan dari siapa pun. Semua murni berdasarkan prestasi,” tegasnya.

    Sementara itu, perwakilan KONI Pesisir Selatan, Wawan Kurniawan, meminta para atlet agar mampu membawa nama baik daerah pada ajang Porprov Sumbar 2026 mendatang.

    “Adik-adik harus mampu membanggakan Pesisir Selatan di ajang Porprov nanti,” katanya.

    Di kesempatan yang sama, Camat Lenggayang Novri, SE, juga memberikan motivasi kepada para peserta agar serius menjalani proses latihan dan seleksi.

    “Lakukan latihan secara maksimal. Seleksi ini membutuhkan keseriusan agar bisa tampil di Porprov nanti,” ungkap Novri.

    Ia juga berharap seluruh dewan juri dan perangkat pertandingan dapat memberikan penilaian secara profesional dan objektif.

    “Kepada para juri, berikanlah penilaian yang profesional dan terbaik, jangan sampai merugikan atlet kita. Selamat bertanding,” tutupnya.

    Dalam struktur kepanitiaan dan perangkat pertandingan, Technical Delegate dipercayakan kepada Dodi Eka Putra. Sementara Dewan Hakim dipimpin oleh Afdalia Melico dan Ketua Pertandingan dijabat oleh Kiki Gusnaidi.

    Adapun susunan dewan juri dan wasit yang bertugas pada seleksi tersebut yakni Aldi Wirnata, Aldi Goes, Nova, Rino Yuhanda, Fauzi Abadi, Zico Yahya Pratama, Nurul Elmira, Noli Anjalka Putra, serta Zendri.(Alpin)



  • Sosialisasi Aturan Baru Pencak Silat dan Technical Meeting Seleksi Porprov XVI Sumbar Digelar di Kambang

    Pesisir Selatan – Kambang nrtvnews.info Dalam rangka meningkatkan pemahaman terhadap regulasi terbaru pertandingan pencak silat, kegiatan Sosialisasi Aturan Baru Pencak Silat bersama Wasit Nasional Bung Riki sukses digelar di Lapangan Futsal Keluarga Pasar Kambang, Sabtu (23/5/2026). Kegiatan ini sekaligus dirangkai dengan Technical Meeting Seleksi Porprov XVI Sumatera Barat.

    Acara tersebut dihadiri oleh seluruh wasit juri, pelatih, serta insan pencak silat dari berbagai perguruan dan daerah yang akan mengikuti proses seleksi menuju Porprov XVI Sumbar 2026. Suasana kegiatan berlangsung penuh antusias, karena materi yang disampaikan menjadi pedoman penting dalam pelaksanaan pertandingan resmi ke depan.

    Dalam pemaparannya, Wasit Nasional Bung Riki menjelaskan berbagai perubahan aturan terbaru pencak silat yang akan diterapkan pada ajang resmi, termasuk sistem penilaian, ketegasan terhadap pelanggaran, hingga mekanisme pertandingan modern yang mengedepankan sportivitas dan profesionalisme.

    “Kegiatan ini sangat penting agar seluruh pelatih dan wasit memiliki pemahaman yang sama terhadap aturan terbaru, sehingga tidak terjadi perbedaan persepsi saat pertandingan berlangsung,” ujar Bung Riki di hadapan peserta.

    Selain sosialisasi aturan, technical meeting juga membahas teknis pelaksanaan Seleksi Porprov XVI Sumbar, mulai dari jadwal pertandingan, kategori tanding, administrasi atlet, hingga kesiapan perangkat pertandingan. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam persiapan menghadapi Porprov Sumbar 2026 yang tengah dimatangkan oleh KONI Sumbar.

    Para peserta berharap kegiatan seperti ini terus dilakukan secara berkelanjutan guna meningkatkan kualitas SDM pencak silat di Sumatera Barat, baik dari sisi atlet, pelatih, maupun perangkat pertandingan.

    Dengan terlaksananya sosialisasi dan technical meeting ini, diharapkan pelaksanaan seleksi berjalan lancar, sportif, dan mampu melahirkan atlet-atlet terbaik yang akan membawa nama daerah pada ajang Porprov XVI Sumbar mendatang.(Alpin)



  • Seleksi Porprov XVI Sumbar Tingkat Pesisir Selatan Siap Digelar, Persiapan Capai 85 Persen

    PESISIR SELATAN — Kambang nrtvnews.info Panitia pelaksana Seleksi Porprov XVI Sumatera Barat cabang olahraga pencak silat tingkat Kabupaten Pesisir Selatan memastikan seluruh persiapan kegiatan telah mencapai sekitar 85 persen. Kegiatan seleksi tersebut akan digelar di Lapangan Futsal Keluarga Pasar Kambang, Minggu (24/5/2026).

    Koordinator acara, Syafridon, menyampaikan bahwa panitia terus mematangkan berbagai kebutuhan teknis demi kelancaran jalannya seleksi atlet menuju ajang Porprov XVI Sumbar.

    Dalam struktur kepanitiaan dan perangkat pertandingan, Technical Delegate dipercayakan kepada Dodi Eka Putra. Sementara Dewan Hakim dipimpin oleh Afdalia Melico dan Ketua Pertandingan dijabat Kiki Gusnaidi.

    Adapun susunan dewan juri dan wasit yang akan bertugas pada seleksi tersebut yakni Aldi Wirnata, Aldi Goes, Nova, Rino Yuhanda, Fauzi Abadi, Zico Yahya Pratama, Nurul Elmira, Noli Anjalka Putra, serta Zendri.

    Seleksi kali ini diikuti sejumlah perguruan silat yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan, di antaranya Tapak Suci, SMI, Tribela, Pat Banbu, PSHT, IKS Pi Kera Sakti, Anak Nagari, Harimau Tongga, Harimau Sumatera, Saraso, dan HCKH.

    Panitia juga memastikan kesiapan tim pendukung, termasuk tim medis yang dibantu langsung oleh Kepala Puskesmas Kambang, Fitri Armanita, S.Tr.Keb. Sedangkan pengamanan kegiatan turut mendapat dukungan dari Kapolsek Lengayang beserta jajaran.

    Untuk memantapkan pelaksanaan pertandingan, panitia menjadwalkan technical meeting pada malam hari sebelum kegiatan berlangsung. Pertemuan tersebut akan diikuti oleh seluruh wasit dan juri guna menyamakan persepsi terkait aturan dan teknis pertandingan.

    Rencananya, acara seleksi akan dibuka langsung oleh Ketua IPSI Pesisir Selatan, Muslim Arif.

    Melalui seleksi ini, diharapkan akan lahir atlet-atlet terbaik yang mampu mengharumkan nama Kabupaten Pesisir Selatan pada ajang Porprov XVI Sumatera Barat mendatang.(Alpin)



  • O2SN Tingkat SLTA Wilayah VII Sumbar Resmi Ditutup, Atlet Terbaik Siap Berlaga ke Tingkat Provinsi

    Painan — nrtvnews.info Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat SLTA yang digelar di GOR Zenizen Painan resmi berakhir hari ini, Jumat 22/5/2026

    Kegiatan yang berada di bawah naungan Kacabdin Wilayah VII Sumatera Barat, Muslim Arif, berlangsung meriah dan penuh semangat sportivitas dari para peserta.

    Acara penutupan turut dihadiri Wakil Ketua I IPSI, Afdalia Melico, bersama para official, guru pendamping, dan atlet dari berbagai sekolah di Kabupaten Pesisir Selatan.

    Ketua Panitia Pelaksana, Aswil Yuli Zikri menyampaikan bahwa cabang olahraga yang diperlombakan dalam O2SN tahun ini terdiri dari pencak silat, bulu tangkis, renang, Atletic dan panjat tebing. Menurutnya, para juara yang berhasil meraih prestasi terbaik nantinya akan mewakili daerah untuk bertanding di tingkat Provinsi Sumatera Barat.

    “Melalui O2SN ini kita berharap lahir atlet-atlet muda berbakat yang mampu mengharumkan nama daerah di tingkat yang lebih tinggi,” ujar Aswil saat penutupan kegiatan.

    Pada cabang pencak silat kategori jurus tunggal putra, persaingan berlangsung ketat hingga akhirnya Muhammad Rhazes Algani dari SMA 2 Bayang berhasil meraih Juara 1. Posisi Juara 2 diraih Fazli Nurkamal dari SMA 3 Painan. Sementara Muhammad Razwan dari SMA 1 Painan serta Muhammad Rendi Arizky dari SMA 1 BAB sama-sama meraih Juara 3.

    Untuk kategori jurus tunggal putri, Fadila Agnof dari SMA 1 Lunang tampil gemilang dan keluar sebagai Juara 1. Juara 2 diraih Chikita Anindya Diza dari SMA 1 Ampek Balai. Sedangkan Juara 3 bersama diraih oleh Syafirah Hayatun Nisa dari SMA 1 Painan dan Cavela Marsalira dari MAN 2 Pessel.

    Kegiatan O2SN ini diharapkan menjadi wadah pembinaan atlet pelajar sekaligus mempererat silaturahmi antar sekolah di Wilayah VII Sumatera Barat. Dengan berakhirnya ajang ini, para pemenang akan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi di tingkat provinsi.(Alpin)



  • Heboh di Nagari Lumpo, Mantan TNI Buat Kapal Fiber 12 Meter di Samping Kantor Wali Nagari

    Pesisir Selatan – Lumpo  nrtvnews.info  Warga Nagari Lumpo, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, dibuat terkejut dengan aktivitas yang tidak biasa di daerah mereka. Seorang mantan anggota TNI AL Lanal Ternate Maluku Utara bernama Yefri Putra Utama, yang akrab dipanggil Jefri, terlihat sedang membuat sebuah kapal berbahan fiber dengan panjang mencapai 12 meter di samping Kantor Wali Nagari Lumpo, Kamis 21/5

    Aktivitas pembuatan kapal tersebut sontak menjadi perhatian masyarakat sekitar. Pasalnya, selama ini warga setempat lebih sering melihat pembuatan kapal dilakukan di kawasan pinggir pantai, bukan di tengah lingkungan pemukiman dan dekat kantor pemerintahan nagari.

    Jefri yang pernah bertugas sebagai anggota TNI AL di Ternate mengaku kegiatan tersebut dilakukan untuk mengisi waktu luang setelah tidak lagi aktif berdinas. Namun, siapa sangka, kegiatan sederhana itu justru memunculkan rasa kagum dan kebanggaan di tengah masyarakat.

    “Baru pertama kali ini ada warga yang membuat kapal sebesar ini di Nagari Lumpo. Biasanya orang membuat kapal di tepi pantai,” ujar salah seorang warga yang ikut menyaksikan proses pembuatan kapal tersebut.

    Keberadaan kapal fiber itu bahkan mengingatkan sebagian masyarakat pada kisah Nabi Nuh AS yang membangun kapal di tempat yang tidak biasa. Bedanya, jika Nabi Nuh membuat kapal di atas gunung, maka Jefri membangun kapal di tengah kampung yang jauh dari bibir pantai.

    Semangat dan kreativitas mantan prajurit TNI tersebut mendapat apresiasi dari warga. Banyak yang menilai bahwa kegiatan positif seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi para pensiunan lainnya agar tetap produktif dan berkarya.

    Masyarakat berharap kreativitas Jefri tidak hanya menjadi kebanggaan Nagari Lumpo, tetapi juga mampu membuka motivasi baru bagi generasi muda dan para pensiunan untuk memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang bermanfaat dan bernilai ekonomi.

    Dengan ketekunan dan semangat berkarya, Jefri membuktikan bahwa masa pensiun bukan akhir dari pengabdian, melainkan awal untuk terus menciptakan sesuatu yang berguna bagi masyarakat.(Alpin)