Oleh : Alpin Pengiat Media & Medsos

Mengenal Sosok Ust. Syafrizen, S.H.,Datuak Rang Batuah, Polisi Niniak Mamak yang Humanis dan Menjunjung Nilai Keteladanan
Oleh : Alpin Pengiat Media & Medsos
Di tengah kehidupan yang semakin dinamis, masyarakat tidak hanya membutuhkan sosok pemimpin yang cakap dalam menjalankan tugas, tetapi juga figur yang mampu menghadirkan keteladanan melalui sikap dan perilaku sehari-hari. Kepemimpinan sejatinya bukan hanya tentang jabatan, pangkat, maupun kewenangan, melainkan tentang bagaimana seseorang mampu memberikan manfaat, menghargai sesama, dan menjadi contoh yang baik bagi lingkungan di sekitarnya.
Salah satu sosok yang mencerminkan nilai tersebut adalah Ust. Syafrizen, S.H., seorang anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang bertugas di Polres Pesisir Selatan (Pessel) sebagai Wakil Kepala Kepolisian Resor (Wakapolres). Di tengah kesibukannya menjalankan tugas sebagai aparat penegak hukum, beliau dikenal sebagai sosok yang sederhana, humanis, mudah bergaul, serta memiliki kepedulian yang kuat terhadap nilai-nilai agama dan adat.
Bagi sebagian masyarakat, Ust. Syafrizen bukan sekadar seorang pejabat kepolisian. Beliau juga dikenal sebagai sosok Polisi Niniak Mamak, sebuah gambaran figur yang berusaha memadukan tanggung jawab kedinasan dengan nilai-nilai adat, agama, dan kehidupan bermasyarakat.
Sosok yang Memuliakan Setiap Orang
Salah satu hal yang membuat Ust. Syafrizen disegani adalah caranya memperlakukan orang lain. Beliau senantiasa berusaha memuliakan siapa pun yang berinteraksi dengannya tanpa melihat latar belakang, kedudukan, maupun status sosial.
Dalam kehidupan bermasyarakat, terkadang seseorang lebih mudah menghormati orang yang memiliki jabatan tinggi, kekayaan, atau pengaruh. Namun, keteladanan justru terlihat ketika seseorang tetap mampu memberikan penghormatan yang sama kepada siapa saja.
Ust. Syafrizen dikenal tidak membangun jarak yang berlebihan dengan masyarakat. Beliau senang menyapa, berbicara, bercanda, dan tertawa bersama orang-orang di sekitarnya. Sikap tersebut membuat kehadiran beliau terasa dekat dan tidak kaku.
Humanisme seperti ini sangat penting, terutama bagi seorang aparat kepolisian. Polisi bukan hanya bertugas menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga merupakan bagian dari masyarakat. Ketika seorang polisi mampu membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat, maka akan tumbuh rasa saling percaya yang menjadi modal penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan harmonis.
Kesederhanaan yang Menjadi Karakter
Di tengah kehidupan yang sering kali menjadikan kemewahan sebagai simbol keberhasilan, kesederhanaan merupakan sebuah nilai yang semakin berharga.
Ust. Syafrizen dikenal menjalani kesehariannya secara sederhana dan tidak berlebihan. Kesederhanaan tersebut bukan berarti mengurangi wibawa sebagai seorang pejabat kepolisian. Justru, sikap sederhana dapat menjadi kekuatan moral karena menunjukkan bahwa seseorang tidak menjadikan jabatan sebagai alasan untuk hidup dengan penuh jarak terhadap masyarakat.
Jabatan adalah amanah. Pangkat adalah tanggung jawab. Kedudukan adalah kesempatan untuk memberikan manfaat.
Pemahaman seperti itulah yang tercermin dari sosok yang mampu tetap bersahaja meskipun memiliki tanggung jawab besar dalam pekerjaannya.
Kesederhanaan juga membuat seseorang lebih mudah diterima oleh masyarakat. Orang tidak merasa sungkan untuk berkomunikasi, menyampaikan persoalan, atau sekadar bersilaturahmi.
Tegur Sapa yang Menghilangkan Jarak
Salah satu kebiasaan sederhana yang memiliki makna besar adalah tegur sapa.
Ust. Syafrizen dikenal sebagai pribadi yang tidak segan menyapa siapa saja. Hal kecil seperti tersenyum, menanyakan kabar, atau bercanda bersama dapat menjadi jembatan yang menghubungkan satu manusia dengan manusia lainnya.
Dalam kehidupan sosial, komunikasi tidak selalu harus dimulai dengan pembicaraan besar. Terkadang sebuah sapaan sederhana mampu membuat seseorang merasa dihargai.
Inilah salah satu bentuk kepemimpinan yang sering kali tidak tertulis dalam aturan kedinasan, tetapi sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Seorang pemimpin yang mampu menyapa bawahannya, masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, orang tua, maupun generasi muda secara wajar akan menciptakan suasana yang lebih terbuka. Orang-orang pun tidak merasa takut untuk berkomunikasi.
Humanis dan Suka Canda Tawa
Keseriusan dalam menjalankan tugas tidak berarti seseorang harus selalu tampil kaku.
Ust. Syafrizen dikenal sebagai sosok yang humanis dan senang bercanda serta tertawa bersama orang-orang di sekitarnya. Sikap tersebut menunjukkan bahwa beliau mampu menempatkan diri sesuai dengan suasana.
Humor yang sehat dapat menjadi sarana membangun kedekatan. Dalam banyak situasi, canda dan tawa dapat mencairkan suasana yang sebelumnya terasa tegang.
Namun, nilai penting dari sikap tersebut adalah kemampuan untuk tetap menjaga batas dan etika. Seorang aparat tetap harus memiliki kewibawaan, tetapi kewibawaan tidak selalu lahir dari sikap keras. Wibawa juga dapat muncul dari keramahan, ketegasan yang proporsional, kejujuran, serta kemampuan menghargai orang lain.
Taat kepada Allah SWT
Di balik kesederhanaan dan sikap humanisnya, salah satu hal yang paling menonjol dari sosok Ust. Syafrizen adalah komitmennya terhadap kehidupan beragama.
Beliau dikenal sebagai pribadi yang berusaha taat kepada Allah SWT dan menjadikan agama sebagai bagian penting dalam menjalani kehidupan.
Keteladanan tersebut salah satunya terlihat ketika waktu salat telah tiba. Sesibuk apa pun pekerjaan yang sedang dikerjakan, beliau berusaha meninggalkan pekerjaan tersebut sejenak untuk menunaikan salat.
Sikap ini memiliki pesan pendidikan yang sangat dalam.
Pekerjaan memang penting. Tanggung jawab kedinasan juga penting. Melayani masyarakat merupakan kewajiban. Namun, bagi seorang hamba, hubungan dengan Allah SWT merupakan dasar dari seluruh kehidupan.
Ketika seseorang memahami bahwa dirinya adalah ciptaan Allah, maka ia akan menyadari bahwa hidup bukan semata-mata tentang mengejar kedudukan, harta, maupun kesuksesan duniawi. Ada kewajiban kepada Sang Pencipta yang tidak boleh dilupakan.
Menempatkan Salat di Tengah Kesibukan
Kehidupan modern sering membuat manusia terjebak dalam kesibukan. Pekerjaan, rapat, perjalanan, urusan keluarga, bisnis, komunikasi, dan berbagai aktivitas lainnya terkadang membuat waktu berjalan begitu cepat.
Dalam kondisi seperti itu, salat sering kali menjadi salah satu kewajiban yang terlupakan atau ditunda.
Padahal, salat merupakan kewajiban utama bagi umat Islam.
Apa yang dicontohkan Ust. Syafrizen memberikan pelajaran bahwa kesibukan seharusnya tidak menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban kepada Allah SWT.
Ketika waktu salat masuk, pekerjaan dapat dihentikan sejenak. Setelah ibadah selesai, pekerjaan dapat dilanjutkan kembali.
Prinsip sederhana ini sebenarnya mengandung pendidikan karakter yang sangat kuat: manusia bekerja untuk hidup, tetapi jangan sampai kesibukan hidup membuat manusia melupakan tujuan penciptaannya.
Menghormati yang Lebih Tua
Nilai lain yang patut diteladani dari Ust. Syafrizen adalah sikap menghormati orang yang lebih tua.
Dalam budaya Minangkabau, penghormatan kepada orang yang lebih tua merupakan bagian penting dari tata kehidupan sosial. Seorang yang lebih tua bukan hanya dipandang berdasarkan usia, tetapi juga pengalaman, pengetahuan, serta nilai-nilai kehidupan yang dimilikinya.
Menghormati yang lebih tua bukan berarti merendahkan diri. Sebaliknya, itu merupakan bentuk akhlak dan penghargaan terhadap perjalanan hidup seseorang.
Sikap seperti ini semakin penting untuk diajarkan kepada generasi muda agar hubungan antargenerasi tetap terjaga.
Menghargai Sesama dan Menyayangi yang Lebih Muda
Selain menghormati orang yang lebih tua, Ust. Syafrizen juga dikenal menghargai sesama dan menyayangi yang lebih muda.
Inilah keseimbangan yang indah dalam kehidupan sosial: yang tua dihormati, yang sebaya dihargai, dan yang muda disayangi.
Jika nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka akan tercipta lingkungan yang penuh rasa saling menghargai.
Generasi muda pun membutuhkan figur yang dapat dijadikan contoh. Mereka tidak hanya membutuhkan nasihat dalam bentuk kata-kata, tetapi juga membutuhkan teladan yang dapat dilihat secara langsung.
Sikap ramah, santun, disiplin, taat beribadah, dan menghargai orang lain adalah pendidikan karakter yang jauh lebih mudah dipahami ketika dicontohkan dalam kehidupan nyata.
Polisi Niniak Mamak: Memadukan Tugas Negara, Agama, dan Adat
Sebagai seorang polisi yang juga dikenal dengan identitas sosial sebagai Niniak Mamak, Ust. Syafrizen berada dalam posisi yang menarik. Beliau tidak hanya memiliki tanggung jawab sebagai anggota institusi kepolisian, tetapi juga membawa nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.
Dalam falsafah Minangkabau dikenal ungkapan “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.”
Falsafah tersebut menggambarkan eratnya hubungan antara adat dan nilai-nilai agama dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Sosok seperti Ust. Syafrizen dapat menjadi gambaran bahwa tugas sebagai aparat negara dan peran sosial di tengah masyarakat dapat berjalan beriringan apabila dilandasi dengan niat yang baik, akhlak, serta tanggung jawab.
Kepolisian membutuhkan profesionalisme. Masyarakat membutuhkan keteladanan. Agama mengajarkan ketaatan. Adat mengajarkan tata krama dan penghormatan.
Ketiganya dapat menjadi kekuatan yang saling melengkapi.
Memuliakan Tamu
Ada pula satu kebiasaan yang menunjukkan nilai akhlak beliau, yaitu bagaimana beliau menerima dan memuliakan tamu yang datang untuk bertemu.
Bagi sebagian orang, menerima tamu mungkin dianggap sebagai hal biasa. Namun dalam ajaran agama dan budaya masyarakat Indonesia, memuliakan tamu merupakan sebuah bentuk penghormatan.
Tamu yang datang membawa harapan untuk didengarkan. Karena itu, memberikan perhatian kepada tamu berarti memberikan penghargaan kepada orang tersebut.
Sikap seperti ini juga penting dalam dunia pelayanan publik. Masyarakat yang datang menemui seorang pejabat atau aparat kepolisian tentu memiliki kebutuhan, persoalan, atau kepentingan tertentu.
Dengan sikap ramah dan terbuka, masyarakat akan merasa bahwa kehadirannya dihargai.
Jabatan Bukan Alasan untuk Membuat Jarak
Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula godaan untuk membuat jarak dengan masyarakat.
Namun, keteladanan seorang pemimpin justru terlihat ketika jabatan tidak mengubah cara ia menghargai manusia.
Ust. Syafrizen menunjukkan bahwa menjadi Wakapolres bukan berarti harus kehilangan kesederhanaan. Menjadi pejabat bukan berarti tidak boleh bercanda. Memiliki kewenangan bukan berarti boleh merendahkan orang lain.
Sebaliknya, jabatan seharusnya membuat seseorang semakin memahami arti tanggung jawab.
Semakin tinggi kedudukan, semakin besar pula amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada manusia tetapi juga kepada Allah SWT.
Keteladanan yang Tidak Banyak Dibicarakan
Pada zaman sekarang, masyarakat sering melihat keberhasilan seseorang melalui apa yang tampak dari luar: jabatan, kendaraan, rumah, pakaian, popularitas, atau jumlah pengikut di media sosial.
Padahal, kualitas manusia tidak selalu dapat diukur dari hal-hal tersebut.
Ada keteladanan yang tidak viral tetapi memiliki nilai besar.
Ketika seseorang menghentikan pekerjaannya karena waktu salat telah tiba, itu mungkin tidak masuk berita. Ketika seseorang menyapa orang biasa di jalan, mungkin tidak ada yang mengabadikannya. Ketika seorang pejabat menerima tamu dengan ramah, mungkin tidak ada yang membuat konten tentangnya.
Namun, justru dari hal-hal sederhana itulah karakter seseorang terbentuk.
Kebaikan tidak selalu membutuhkan panggung.
Akhlak tidak selalu membutuhkan tepuk tangan.
Keteladanan yang paling kuat sering kali lahir dari kebiasaan yang dilakukan secara konsisten ketika tidak ada orang yang memperhatikan.
Pelajaran bagi Generasi Muda
Sosok Ust. Syafrizen dapat memberikan sejumlah pelajaran penting bagi generasi muda.
Pertama, jabatan harus dipandang sebagai amanah, bukan sekadar kebanggaan.
Kedua, kesuksesan tidak harus membuat seseorang hidup berlebihan. Kesederhanaan tetap dapat dipertahankan meskipun seseorang memiliki kedudukan.
Ketiga, agama harus menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Kesibukan pekerjaan tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban kepada Allah SWT.
Keempat, hormatilah orang yang lebih tua dan sayangilah generasi yang lebih muda. Kehidupan sosial akan menjadi lebih harmonis jika setiap orang memahami perannya.
Kelima, jangan membeda-bedakan manusia berdasarkan status. Semua orang layak dihargai dan dimuliakan.
Keenam, bangun komunikasi dengan keramahan. Tegur sapa sederhana dapat menciptakan hubungan yang jauh lebih baik.
Menjadi Pemimpin yang Dekat dengan Masyarakat
Kepemimpinan yang baik bukan hanya tentang memberikan perintah, tetapi juga tentang kemampuan untuk mendengar.
Seorang pemimpin yang dekat dengan masyarakat akan lebih mudah memahami persoalan yang terjadi di lapangan. Ia dapat melihat persoalan bukan hanya dari laporan tertulis, tetapi juga dari pengalaman langsung masyarakat.
Keramahan dan keterbukaan Ust. Syafrizen menjadi modal sosial yang penting dalam menjalankan tugasnya.
Masyarakat membutuhkan aparat yang tegas ketika menghadapi pelanggaran, tetapi masyarakat juga membutuhkan aparat yang mampu mendengar ketika mereka memiliki persoalan.
Ketegasan dan humanisme bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan bersama.
Seorang polisi dapat tegas terhadap aturan, tetapi tetap santun terhadap manusia.
Akhlak yang Harus Dijaga di Tengah Perubahan Zaman
Perubahan zaman membawa banyak kemudahan, tetapi juga membawa tantangan terhadap karakter manusia.
Media sosial membuat seseorang mudah berbicara, tetapi tidak selalu mudah menghargai.
Kemajuan teknologi membuat komunikasi semakin cepat, tetapi belum tentu membuat hubungan antarmanusia semakin dekat.
Karena itu, nilai-nilai seperti sopan santun, menghormati orang tua, menyayangi yang muda, memuliakan tamu, menyapa sesama, hidup sederhana, serta taat beribadah menjadi semakin penting untuk dipertahankan.
Keteladanan dari sosok seperti Ust. Syafrizen mengingatkan kita bahwa kemajuan zaman tidak boleh membuat manusia kehilangan akhlaknya.
Penutup, Keteladanan dari Hal-Hal Sederhana
Mengenal sosok Ust. Syafrizen, S.H. bukan hanya tentang mengenal seorang pejabat kepolisian yang bertugas sebagai Wakapolres Pesisir Selatan. Lebih dari itu, beliau dapat dilihat sebagai figur yang berusaha menjalankan kehidupan dengan menggabungkan tanggung jawab, kesederhanaan, nilai agama, adat, dan kepedulian terhadap sesama.
Sosok yang menghormati yang lebih tua, menghargai sesama, menyayangi yang lebih muda, ramah kepada masyarakat, senang tegur sapa, suka bercanda dan tertawa, serta senantiasa berusaha memuliakan tamu.
Yang paling penting, keteladanan tersebut terlihat dari komitmennya dalam menjaga kewajiban kepada Allah SWT. Ketika waktu salat tiba, pekerjaan yang sedang dilakukan dapat ditinggalkan sejenak demi memenuhi panggilan ibadah.
Pesan yang dapat kita ambil sangat sederhana, tetapi dalam maknanya:
Jangan sampai kesibukan membuat kita lupa kepada Allah. Jangan sampai jabatan membuat kita lupa kepada manusia. Dan jangan sampai kesuksesan membuat kita kehilangan kesederhanaan.
Karena pada akhirnya, manusia bukan dinilai hanya dari apa yang dimilikinya, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang lain dan bagaimana ia menjalankan amanah yang diberikan kepadanya.
Semoga keteladanan Ust. Syafrizen, S.H. dapat terus menjadi inspirasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, bahwa menjadi pribadi yang kuat tidak harus keras, menjadi pemimpin tidak harus berjarak, dan memiliki jabatan tidak harus hidup berlebihan.
Sebab sebaik-baiknya kedudukan adalah ketika ia mampu menjadi jalan untuk memberikan manfaat, dan sebaik-baiknya kehidupan adalah ketika manusia tetap mengingat siapa yang menciptakannya.

