
Maulid Nabi di Masjid Baiturrahman Padang Tae, Momentum Memperkuat Iman, Takwa, dan Akhlakul Karimah
Pesisir Selatan — nrtvnews.com Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Baiturrahman, Padang Tae, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, ketakwaan, serta akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari, Selasa 25/8/2026
Dengan mengangkat tema “Melalui Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Kita Tingkatkan Keimanan, Ketaqwaan dan Akhlakul Karimah”, kegiatan tersebut diisi dengan ceramah keagamaan oleh Kompol H. Syafrizen, S.H., Datuk Rang Batuah, Waka Polres Pesisir Selatan, bersama Ustd. Zen Hoki (UZH).
Dalam ceramahnya, disampaikan bahwa Maulid Nabi tidak semestinya hanya dimaknai sebagai kegiatan untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Lebih dari itu, Maulid merupakan momentum untuk semakin mengenal, mencintai, meneladani, dan menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan.
“Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah. Maulid adalah momentum untuk mengenal Rasulullah, mencintai Rasulullah, meneladani Rasulullah dan menghidupkan sunnah Rasulullah dalam kehidupan kita.”

Rasulullah SAW, Teladan Terbaik
Dalam tausiyah tersebut, jamaah diajak menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama dalam kehidupan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab ayat 21, Rasulullah merupakan uswatun hasanah atau suri teladan yang terbaik.
Keteladanan itu dapat diwujudkan melalui kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, sikap pemaaf, serta kepedulian terhadap sesama.
Akhlak Rasulullah SAW juga disebut sebagai cerminan Al-Qur’an. Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah hendaknya tidak berhenti pada ucapan dan lantunan shalawat, tetapi diwujudkan melalui perilaku nyata.
Allah SWT bahkan memuji Rasulullah SAW dalam QS. Al-Qalam ayat 4 dengan menyebut beliau memiliki akhlak yang agung.
Akhlak Baik Harus Terlihat dalam Kehidupan
Peringatan Maulid juga menjadi pengingat bahwa ibadah harus melahirkan akhlak yang baik.
Jangan sampai seseorang rajin beribadah, tetapi lisannya masih suka menyakiti orang lain. Jangan sampai rajin membaca Al-Qur’an, tetapi tidak menghormati orang tua. Begitu pula jangan sampai sering bershalawat, namun masih gemar merendahkan dan memusuhi sesama.
Pesan tersebut menegaskan bahwa keberagamaan tidak hanya diukur dari hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga dari bagaimana seseorang memperlakukan keluarga, tetangga dan masyarakat.

Membawa Rahmat dan Kedamaian
Rasulullah SAW diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, umat Islam diingatkan agar menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat.
Sikap lemah lembut, saling menghormati, mudah memaafkan, serta menghindari permusuhan menjadi bagian penting dari upaya meneladani Rasulullah SAW.
Dalam kehidupan keluarga, jamaah juga diajak untuk tidak mudah membentak, terutama dalam mendidik anak. Nasihat hendaknya disampaikan dengan hikmah dan kelembutan karena hati manusia lebih mudah disentuh dengan kasih sayang daripada kemarahan.
Kejujuran dan Amanah dalam Kehidupan
Sebelum menerima wahyu dan diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW telah dikenal masyarakat Makkah sebagai Al-Amin, sosok yang terpercaya.
Nilai tersebut dinilai sangat relevan dalam kehidupan saat ini. Jabatan dan pangkat boleh tinggi, kekayaan boleh melimpah, tetapi semuanya akan kehilangan makna apabila kejujuran dan amanah ditinggalkan.
“Ketika kejujuran hilang, maka hilang pula kepercayaan,” menjadi pesan penting yang disampaikan kepada jamaah.
Perkuat Peran Keluarga dan Hormati Orang Tua
Keluarga menjadi tempat pertama seseorang belajar tentang akhlak. Karena itu, umat Islam diajak meneladani Rasulullah SAW dalam menyayangi keluarga.
Sikap hormat kepada ayah dan ibu, guru, ulama, ninik mamak serta orang yang lebih tua juga perlu terus ditanamkan kepada generasi muda.
Generasi yang memiliki adab dinilai akan lebih mampu menghadapi berbagai tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Bijak Menggunakan Media Sosial
Salah satu pesan yang tak kalah penting adalah mengenai akhlak di era media sosial.
Jika dahulu seseorang dapat menyakiti orang lain dengan tangan, kini seseorang dapat menyakiti sesamanya hanya dengan jempol. Sebuah komentar dapat melukai perasaan, berita bohong dapat merusak nama baik, dan sebuah unggahan dapat memicu perpecahan.
Karena itu, jamaah diajak menerapkan prinsip tabayyun sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.
Sebelum mengirim atau membagikan sesuatu, hendaknya terlebih dahulu dipertanyakan: apakah informasi tersebut benar, bermanfaat dan perlu disebarkan?
Jika tidak benar dan tidak bermanfaat, maka diam dinilai lebih baik.
Bersama Menjaga Kamtibmas dan Generasi Muda
Sebagai bagian dari masyarakat dan insan Polri, Kompol H. Syafrizen juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Menjaga keamanan bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian. Polisi membutuhkan dukungan masyarakat, sementara masyarakat juga membutuhkan kehadiran dan peran kepolisian.
Masyarakat diajak bersama-sama menjaga nagari dari berbagai penyakit sosial, seperti narkoba, perjudian online, minuman keras, kekerasan, kenakalan remaja, pergaulan bebas dan berbagai bentuk gangguan kamtibmas lainnya.
Semangat tersebut selaras dengan nilai kearifan lokal Minangkabau: “Anak dipangku, kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan.”
Melalui semangat Tungku Tigo Sajarangan, ulama, ninik mamak, pemerintah dan seluruh unsur masyarakat diharapkan dapat bersinergi membangun generasi yang beriman, berilmu dan berakhlak.

Cinta Rasul Harus Dibuktikan
Di penghujung ceramah, jamaah kembali diingatkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW harus dibuktikan dalam kehidupan nyata.
Jika mengaku mencintai Rasulullah, maka buktikan dengan menjaga shalat, memperbaiki akhlak, berkata jujur, menyayangi keluarga, menghormati orang tua dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Memperbanyak shalawat serta mengikuti sunnah Rasulullah juga menjadi bagian dari bukti kecintaan tersebut.
Peringatan Maulid Nabi akhirnya diharapkan tidak berhenti ketika acara di masjid selesai. Semangat Maulid hendaknya terus hidup dalam hati dan tercermin dalam perilaku sehari-hari.
“Mari pulang dari masjid ini dengan satu tekad: saya ingin menjadi Muslim yang lebih baik setelah Maulid ini—lebih baik shalatnya, lebih baik akhlaknya, lebih lembut lisannya, lebih hormat kepada orang tua, lebih sayang kepada keluarga, lebih peduli kepada tetangga, lebih bermanfaat bagi masyarakat dan lebih cinta kepada Rasulullah Muhammad SAW.”
Peringatan tersebut ditutup dengan doa dan lantunan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, disertai harapan agar seluruh jamaah senantiasa mendapatkan keberkahan, petunjuk dan syafaat Rasulullah SAW.
“Maulid bukan hanya mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi momentum untuk menghidupkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan kita.”(Alpin)

