Diskusi Siang Bersama AKBP Alvira, SH  di Batu Kalang, Dorong Generasi Muda Tarusan Bangun Nagari

Tarusan – Pesisir Selatan nrtvnews.com Suasana Batu Kalang, Kenagarian Ampang Pulai, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Minggu (6/9/2026), menjadi ruang bertemunya sejumlah tokoh muda dan tokoh senior dalam sebuah diskusi yang mengangkat tema penting, Membangun Peran Generasi Muda ke Depan.

Diskusi siang bersama AKBP Alvira, SH Kasubbidwabprof Bidpropam Polda Sumbar tersebut menjadi momentum untuk membicarakan berbagai persoalan sekaligus peluang yang dihadapi generasi muda, khususnya dalam upaya membangun nagari, menjaga nilai-nilai adat dan budaya, serta menciptakan lingkungan sosial yang sehat bagi generasi penerus.

Gagasan diskusi ini muncul dari sejumlah tokoh muda di Kecamatan Koto XI Tarusan, di antaranya Adisman, M.Pd., Elpinas, S.Kom., Chang Ary, Primadoni, S.H., Indra dan Andri Yunizar., SE. Gagasan tersebut mendapat dukungan dari tokoh senior, di antaranya Syafruddin, S.H., serta sejumlah tokoh muda lainnya.

Pemuda Jangan Hanya Jadi Penonton

Dalam diskusi tersebut, peserta melihat bahwa generasi muda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah masa depan nagari.

Pemuda tidak cukup hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan. Mereka perlu diberi ruang untuk menyampaikan gagasan, berorganisasi, meningkatkan keterampilan, sekaligus ikut mengambil bagian dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di tengah masyarakat.

Pembangunan nagari, menurut gagasan yang berkembang dalam pertemuan tersebut, bukan hanya berbicara mengenai pembangunan fisik. Pembangunan sumber daya manusia, karakter, budaya, ekonomi dan kepedulian sosial juga menjadi bagian yang tidak kalah penting.

Menjaga Adat dan Budaya di Tengah Perubahan Zaman

Salah satu perhatian utama yang mengemuka adalah pentingnya generasi muda memahami dan melestarikan *adat istiadat serta budaya Minangkabau*.

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup, nilai-nilai seperti etika, sopan santun, rasa hormat kepada orang tua, kepedulian terhadap lingkungan dan semangat bergotong royong dinilai perlu terus ditanamkan kepada generasi muda.

Pelestarian adat bukan berarti menolak perubahan zaman. Justru generasi muda diharapkan mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan akar budayanya.

Tekan Kenakalan Remaja dan Bahaya Narkoba

Persoalan sosial yang juga menjadi perhatian adalah kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas serta menurunnya etika dan sopan santun.

Peserta diskusi menilai persoalan tersebut tidak dapat dibebankan hanya kepada aparat penegak hukum atau pemerintah. Pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama oleh keluarga, tokoh masyarakat, sekolah, pemuda dan seluruh elemen masyarakat.

Generasi muda perlu diberikan kegiatan positif, ruang kreativitas, pembinaan karakter dan kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka.

Pemuda yang memiliki kegiatan, keterampilan dan masa depan yang jelas akan lebih kuat menghadapi berbagai pengaruh negatif di lingkungannya.

Dorong Pelatihan UMKM dan Koperasi

Selain membahas persoalan sosial, diskusi juga mengarah pada pemberdayaan ekonomi pemuda dan pemudi.

Salah satu gagasan yang muncul adalah mendorong  pelatihan UMKM dan koperasi agar generasi muda tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha.

Pelatihan dapat diarahkan pada keterampilan yang sesuai dengan potensi daerah, seperti pengolahan hasil pertanian, perikanan, kuliner, pariwisata, ekonomi kreatif, pemasaran digital dan pengelolaan usaha.

Dengan demikian, pemuda diharapkan dapat menjadi pelaku ekonomi baru di nagari, bukan sekadar pencari pekerjaan.

Muncul Gagasan Membentuk “Hulubalang Paga Nagari”

Menariknya, dari diskusi tersebut juga muncul keinginan peserta untuk membentuk sebuah wadah perkumpulan yang nantinya diberi nama Hulubalang Paga Nagari.”

Wadah tersebut diharapkan memiliki cakupan Kabupaten Pesisir Selatan dan menjadi ruang bersama bagi generasi muda serta berbagai elemen masyarakat untuk membangun komunikasi, memperkuat kepedulian sosial, melestarikan adat dan budaya, serta mendorong kegiatan positif bagi pemuda.

Nama “Hulubalang Paga Nagari” diharapkan bukan sekadar nama organisasi, tetapi memiliki makna sebagai simbol kepedulian, perlindungan, tanggung jawab dan pengabdian kepada nagari.

Tentu, jika gagasan ini dilanjutkan menjadi organisasi resmi, diperlukan pembahasan lebih matang mengenai visi-misi, struktur kepengurusan, keanggotaan, program kerja serta aturan organisasi agar wadah tersebut dapat berjalan secara profesional dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dari Batu Kalang untuk Masa Depan Pesisir Selatan

Diskusi siang di Batu Kalang ini menjadi pengingat bahwa membangun daerah tidak selalu harus dimulai dari forum besar dan formal.

Kadang, sebuah gagasan besar justru lahir dari percakapan sederhana, kepedulian dan keresahan sejumlah anak muda terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.

Yang terpenting adalah bagaimana gagasan tersebut tidak berhenti sebagai pembicaraan.

Jika pemuda bersatu, tokoh senior memberikan bimbingan, pemerintah membuka ruang, dan masyarakat memberikan dukungan, maka generasi muda dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun Pesisir Selatan.

Dari Batu Kalang, sebuah gagasan tentang masa depan generasi muda mulai dibicarakan. Kini tantangannya adalah menjadikan gagasan tersebut sebagai gerakan nyata untuk nagari, adat, budaya, ekonomi dan masa depan Pesisir Selatan.(Alpin)