
Disco Siang di Painan, Dari Secangkir Kopi, Menyusun Masa Depan Pariwisata dan UMKM Pesisir Selatan
Painan — nrtvnews.com Secangkir kopi terkadang bukan sekadar teman untuk melepas lelah. Di meja sebuah kafe di Painan, beberapa waktu lalu, kopi justru menjadi saksi lahirnya sebuah diskusi yang hangat tentang masa depan Pesisir Selatan.
Diskusi yang dikemas sederhana dalam suasana Disco (Diskusi Sambil Ngopi) Siang itu menghadirkan Kombes Pol (Purn) Drs. Darsono, bersama Alpin, Sepriandi, SE, dan sejumlah rekan lainnya.
Tidak ada meja rapat yang kaku. Tidak ada sekat antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, maupun tokoh-tokoh yang memiliki perhatian terhadap kemajuan daerah. Yang ada adalah secangkir kopi, gagasan, pengalaman, dan satu pertanyaan besar:
Benarkah Pesisir Selatan sudah mengelola potensi pariwisatanya secara maksimal?
Jawabannya tentu belum.
Dan justru dari situlah diskusi menjadi menarik.Potensi Besar yang Belum Sepenuhnya Menjadi Kekuatan Ekonomi.Pesisir Selatan memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Garis pantai yang panjang, pulau-pulau, kawasan pesisir, panorama laut, budaya masyarakat, hingga berbagai destinasi wisata merupakan modal besar yang tidak dimiliki semua daerah.
Bahkan, dari sisi keindahan alam, Pessel memiliki potensi yang tidak kalah dengan destinasi wisata kelas dunia seperti Raja Ampat.
Namun, keindahan alam saja tidak cukup untuk menjadikan sebuah daerah sebagai destinasi wisata unggulan. Pariwisata bukan hanya soal panorama yang indah. Pariwisata juga berbicara tentang bagaimana seorang wisatawan disambut, dilayani, diarahkan, merasa aman, nyaman, dan akhirnya memiliki keinginan untuk kembali.
Di sinilah pekerjaan rumah Pesisir Selatan masih cukup panjang.
Potensi alam sudah tersedia. Yang perlu diperkuat adalah sistem pengelolaan dan kualitas sumber daya manusia yang mengiringinya.
Wisatawan Tidak Hanya Membeli Pemandangan
Ada satu hal penting yang perlu dipahami bersama: wisatawan tidak hanya membeli pemandangan, tetapi juga membeli pengalaman.
Pemandangan yang indah dapat ditemukan di banyak tempat. Tetapi keramahan, pelayanan yang baik, kebersihan, keamanan, ketertiban, kenyamanan, dan interaksi positif dengan masyarakat setempat adalah pengalaman yang akan membekas dalam ingatan wisatawan.
Karena itu, persoalan seperti keramahan masyarakat, kesopanan, etika dalam melayani pengunjung, kebersihan, hingga pengelolaan parkir sebenarnya bukan perkara kecil.
Semua itu adalah bagian dari wajah pariwisata Pessel.
Wisatawan yang datang ke sebuah destinasi kemudian kesulitan mencari tempat parkir, tidak mendapatkan informasi yang jelas, menghadapi pelayanan yang kurang ramah, atau melihat lingkungan yang tidak tertata, tentu akan membawa pengalaman tersebut ketika pulang.
Sebaliknya, wisatawan yang mendapatkan sambutan hangat, pelayanan yang santun, lingkungan yang bersih, parkir yang tertib, harga yang wajar, serta informasi yang jelas akan menjadi promotor gratis bagi daerah.
Satu wisatawan yang puas bisa membawa wisatawan berikutnya.
Begitu pula sebaliknya.
UMKM Harus Menjadi Bagian dari Ekosistem Pariwisata
Pembicaraan dalam Disco siang itu kemudian menghangat ketika menyentuh persoalan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
UMKM seharusnya tidak ditempatkan sebagai pelengkap dalam pembangunan pariwisata. UMKM justru harus menjadi salah satu mesin utama yang menggerakkan ekonomi masyarakat.
Bayangkan jika setiap wisatawan yang datang ke Pessel tidak hanya menikmati alam, tetapi juga membeli makanan khas daerah, oleh-oleh, kerajinan lokal, produk kreatif, menikmati kuliner masyarakat, menggunakan jasa transportasi lokal, menginap di penginapan milik warga, dan menggunakan jasa pemandu wisata lokal.
Maka uang yang dibelanjakan wisatawan akan berputar lebih lama di tengah masyarakat.
Inilah yang disebut efek berganda pariwisata.
Namun, agar hal tersebut terjadi, UMKM perlu dibina secara serius.
Bukan sekadar diberikan pelatihan sesekali, kemudian selesai.
Pelaku UMKM membutuhkan pendampingan dalam hal kemasan produk, kualitas, pemasaran digital, pencatatan keuangan, legalitas usaha, pelayanan konsumen, branding, hingga akses pasar.
Produk lokal yang bagus tetapi kemasannya kurang menarik akan sulit bersaing.
Produk yang enak tetapi tidak memiliki standar kebersihan juga akan sulit berkembang.
Begitu pula usaha yang sudah berjalan tetapi tidak memahami pemasaran digital akan tertinggal di tengah perubahan perilaku konsumen.
Karena itu, membangun pariwisata berarti sekaligus membangun kualitas UMKM.
Pemerintah Tidak Bisa Berjalan Sendiri
Dari diskusi sederhana tersebut muncul satu kesadaran penting: membangun pariwisata Pesisir Selatan bukan pekerjaan satu pihak.
Pemerintah daerah memiliki kewenangan dan kebijakan.
Pelaku UMKM memiliki produk dan kreativitas.
Pelaku pariwisata memiliki pengalaman di lapangan.
Masyarakat memiliki budaya dan keramahan.
Generasi muda memiliki kemampuan teknologi dan kreativitas digital.
Tokoh masyarakat memiliki pengalaman serta jejaring.
Semua unsur tersebut harus duduk bersama.
Bukan untuk mencari siapa yang salah.
Tetapi untuk menjawab pertanyaan:
Apa yang kurang? Apa yang harus diperbaiki? Apa yang bisa kita lakukan bersama?
Pemerintah juga perlu membuka ruang dialog yang lebih luas dengan masyarakat dan pelaku usaha. Forum seperti Disco—Diskusi Sambil Ngopi justru dapat menjadi salah satu model komunikasi yang cair.
Tidak harus selalu melalui seminar besar atau rapat formal.
Kadang-kadang, gagasan terbaik justru lahir dari percakapan sederhana di meja kopi.
Menyamakan Persepsi, Menyatukan Tujuan
Pessel memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Sumatera Barat, bahkan Indonesia.
Tetapi peluang tidak otomatis menjadi kenyataan.
Diperlukan persepsi yang sama, tujuan yang sama, dan kemauan untuk bergerak bersama.
Pemerintah harus memiliki keberanian untuk mengevaluasi kebijakan.
Pelaku usaha harus mau meningkatkan kualitas pelayanan.
Masyarakat harus memahami bahwa wisatawan adalah tamu yang harus dihormati.
UMKM harus meningkatkan kualitas produk.
Generasi muda harus mengambil peran dalam promosi digital.
Sementara masyarakat secara keseluruhan perlu menyadari bahwa keberadaan wisatawan dapat menjadi sumber penghidupan apabila dikelola dengan baik.
Dengan kata lain, pembangunan pariwisata bukan hanya membangun objek wisata.
Membangun pariwisata berarti membangun ekosistem.
Ekosistem itu mencakup destinasi, manusia, pelayanan, infrastruktur, keamanan, kebersihan, UMKM, promosi, transportasi, dan kebijakan pemerintah.
Semuanya saling berhubungan.
Saatnya Duduk Bersama
Mungkin sudah waktunya Pemda Pesisir Selatan menginisiasi forum bersama yang mempertemukan pemerintah, pelaku UMKM, pengelola destinasi wisata, masyarakat, akademisi, tokoh daerah, komunitas, dan generasi muda.
Duduk bersama.
Membuka data.
Mendengar keluhan.
Membicarakan kelemahan.
Memetakan potensi.
Dan yang paling penting, menyusun roadmap pariwisata Pesisir Selatan yang jelas dan dapat dikerjakan bersama.
Tidak perlu terlalu banyak slogan.
Yang dibutuhkan adalah program nyata.
Misalnya, bagaimana meningkatkan standar pelayanan wisata, bagaimana menata parkir, bagaimana menjaga kebersihan destinasi, bagaimana meningkatkan kemampuan bahasa dan komunikasi para pelaku wisata, bagaimana membuat produk UMKM menjadi oleh-oleh khas Pessel, serta bagaimana memasarkan seluruh potensi tersebut melalui platform digital.
Semua itu harus memiliki target dan ukuran keberhasilan.
Dari Painan untuk Pessel
Disco siang di sebuah kafe di Painan mungkin hanyalah sebuah pertemuan sederhana.
Namun, dari percakapan sederhana itu terdapat pesan yang sangat besar:
Pesisir Selatan memiliki potensi luar biasa, tetapi potensi itu harus dikelola dengan keseriusan, profesionalisme, dan kolaborasi.
Jangan sampai generasi hari ini hanya mewariskan keindahan alam kepada generasi berikutnya tanpa berhasil menjadikannya sumber kesejahteraan masyarakat.
Alam adalah modal.
Pariwisata adalah industri.
UMKM adalah penggeraknya.
Masyarakat adalah tuan rumahnya.
Dan pemerintah adalah salah satu pengarah sekaligus fasilitator utamanya.
Karena itu sudah saatnya semua pihak berhenti berjalan sendiri-sendiri.
Mari duduk bersama.
Mari menyamakan persepsi.
Mari menyatukan tujuan.
Dan mari membangun harapan yang sama,
Pesisir Selatan yang maju pariwisatanya, kuat UMKM-nya, sejahtera masyarakatnya, serta dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena keramahan dan kualitas pelayanannya.
Sebab pada akhirnya, destinasi wisata terbaik bukan hanya tempat yang membuat orang ingin datang.
Tetapi tempat yang membuat orang ingin Kembali (Alpin)

